Artikel ini membahas pengaruh strategi investasi terhadap kinerja masa depan perusahaan, dengan menyoroti peran struktur kepemilikan asing dan domestik sebagai faktor moderasi. Studi ini menggunakan data panel dari 795 observasi perusahaan non-keuangan di negara-negara ASEAN selama periode 2003-2018. Penelitian bertujuan untuk menguji apakah kepemilikan asing dan domestik memoderasi hubungan antara strategi investasi dan kinerja perusahaan, khususnya kinerja keuangan masa depan.
Strategi investasi, yang sering kali diwujudkan dalam bentuk pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan (R&D), dianggap mampu meningkatkan daya saing perusahaan dengan menciptakan inovasi baru. Namun, dampaknya terhadap kinerja masa depan perusahaan sering kali membutuhkan waktu lama untuk terlihat, yang dapat menimbulkan ketidakpastian ekonomi. Selain itu, struktur kepemilikan, baik asing maupun domestik, juga dapat memengaruhi efektivitas strategi investasi tersebut.
Penelitian ini menemukan bahwa baik kepemilikan asing maupun domestik memiliki peran moderasi terhadap hubungan antara strategi investasi dan kinerja masa depan. Namun, kedua jenis kepemilikan ini memiliki efek negatif terhadap hubungan tersebut, menunjukkan bahwa dominasi kepemilikan asing atau domestik saja tidak cukup untuk meningkatkan kinerja perusahaan di masa depan.
Hasil regresi menunjukkan bahwa kepemilikan asing secara signifikan memengaruhi kinerja masa depan perusahaan. Hal ini karena perusahaan yang dimiliki asing biasanya memiliki akses lebih besar terhadap teknologi canggih, inovasi, dan praktik manajemen yang lebih baik. Namun, ketika dikombinasikan dengan strategi investasi berbasis R&D, dampaknya terhadap kinerja masa depan justru melemah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun kepemilikan asing mendukung inovasi, implementasi strategi R&D membutuhkan waktu lebih lama untuk memberikan hasil yang nyata.
Di sisi lain, kepemilikan domestik memiliki dampak negatif yang lebih besar terhadap kinerja masa depan perusahaan dibandingkan kepemilikan asing. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kurangnya kontrol yang efektif, birokrasi yang lambat, dan kurangnya keahlian profesional dalam mengelola perusahaan domestik. Akibatnya, strategi investasi yang dilakukan oleh perusahaan dengan dominasi kepemilikan domestik kurang memberikan manfaat langsung terhadap kinerja masa depan.
Hasil penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting. Pertama, perusahaan tidak perlu terlalu khawatir tentang dominasi kepemilikan asing atau domestik dalam mendukung strategi investasi mereka. Sebaliknya, fokus harus diberikan pada pelaksanaan strategi investasi yang efisien dan tepat sasaran. Kedua, perusahaan harus mempertimbangkan waktu yang diperlukan untuk melihat hasil dari strategi investasi, khususnya yang terkait dengan R&D, karena dampaknya baru terlihat dalam jangka panjang.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, klasifikasi kepemilikan hanya dibagi menjadi asing dan domestik, tanpa mempertimbangkan jenis kepemilikan spesifik seperti institusi, pemerintah, atau individu. Kedua, kinerja masa depan hanya diukur menggunakan data keuangan satu tahun ke depan (t+1), yang mungkin tidak cukup mewakili dampak jangka panjang dari strategi investasi.
Studi ini menegaskan bahwa baik kepemilikan asing maupun domestik memengaruhi hubungan antara strategi investasi dan kinerja masa depan, namun dengan cara yang tidak memperkuat hubungan tersebut. Implikasi utamanya adalah perusahaan harus lebih fokus pada efisiensi dan efektivitas strategi investasi mereka, daripada bergantung pada jenis struktur kepemilikan tertentu, untuk mencapai hasil yang berkelanjutan dan positif di masa depan.
Penulis: Prof. Dr. Noorlailie Soewarno, S.E., MBA., Ak.
Journal link: https://journals.vilniustech.lt/index.php/BTP/article/view/18615#





