Universitas Airlangga Official Website

Strategi mempromosikan ASI Eksklusif pada Kelompok Masyarakat Miskin

Ilustrasi Ibu dan Bayi (Sumber : Freepik)

Strategi mempromosikan ASI Eksklusif pada Kelompok Masyarakat Miskin

Menyusui berpotensi menjadi salah satu intervensi yang paling efektif untuk menurunkan angka kematian pada anak dan balita, dengan dapat menyelamatkan 823.000 jiwa setiap tahunnya, mewakili 13,8% dari semua kematian di antara anak-anak di bawah 24 bulan. Bayi yang menerima ASI eksklusif terlindungi dari penyakit menular seperti diare dan infeksi saluran pernafasan, mencegah obesitas, dan diabetes melitus. Bagi ibu, pemberian ASI eksklusif mengurangi risiko terkena kanker payudara dan ovarium, diabetes, kondisi kardiovaskular, dan sindrom metabolik.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap bayi harus diberi ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan mereka. WHO dan United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) menetapkan target global sebesar 70% pada tahun 2030. Namun, menurut laporan Badan Ketahanan Pangan dan Gizi di Dunia tahun 2021, pemberian ASI eksklusif secara global hanya mencapai 44%, dengan Asia 45,3%, dan Asia Tenggara 47,9%. Di Indonesia, angka pemberian ASI eksklusif pada tahun 2021 baru mencapai 56,9%. Akibatnya, bayi-bayi tersebut lebih rentan terhadap penyakit dan kematian.

Anak balita yang dibesarkan dalam kondisi kemiskinan mempersulit segalanya. Tumbuh dalam kemiskinan sering kali menghalangi anak-anak untuk mencapai potensi penuh mereka. Anak-anak dari rumah tangga miskin memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan yang parah dibandingkan dengan anak sebayanya. Beberapa masalah kesehatan yang dapat diidentifikasi adalah kelebihan berat badan dan asma. Promosi kesehatan dapat menjadi alat yang strategis untuk mengatasi situasi yang menantang tersebut. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis target promosi untuk meningkatkan ASI Eksklusif pada keluarga miskin di Indonesia. Penelitian ini berkontribusi dalam menambah literatur ilmiah mengenai karakteristik masyarakat berpenghasilan rendah terkait pemberian ASI eksklusif. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan program promosi yang tepat sasaran untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif pada keluarga miskin.

Penelitian ini memanfaatkan data sekunder dari Survei Status Gizi Nasional Indonesia pada tahun 2022 untuk dianalisis. Survei cross-sectional ini dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia di tingkat nasional.

Penelitian ini mencakup seluruh populasi anak Indonesia berusia 0-23 bulan. Elemen analisis penelitian ini terdiri dari anak-anak, sementara para ibu berpartisipasi sebagai responden. Prosedur pengambilan sampel acak bertingkat (cluster random sampling) multi-tahap digunakan dalam survei ini untuk menghasilkan sampel sebanyak 48.995 anak dari keluarga miskin.

Penelitian ini memperkirakan kekayaan rumah tangga berdasarkan kuintil kekayaan dari harta benda yang dimilikinya. Survei ini memasukkan jumlah dan variasi barang rumah tangga ke dalam proses penilaian. Dalam menentukan kemakmuran, survei ini juga memasukkan berbagai jenis kepemilikan seperti mobil, sepeda, dan televisi, di samping kualitas tempat tinggal. Pertimbangan diberikan pada bahan konstruksi lantai utama, sumber air minum, dan fasilitas kamar kecil dalam survei tersebut. Survei ini membagi status kekayaan ke dalam lima kategori: termiskin, kurang mampu, menengah, dan terkaya. Keluarga miskin adalah mereka yang termasuk dalam kuintil 1 dan 2.

A map of indonesia with blue shades

Description automatically generatedHasil analisis menunjukkan bahwa persentase pemberian ASI eksklusif  di antara rumah tangga miskin di Indonesia adalah 39,9%. Gambar dibawah ini mengilustrasikan distribusi prevalensi EBF di antara rumah tangga miskin di berbagai provinsi di Indonesia. Peta tersebut menggambarkan pola yang jelas di mana wilayah Indonesia bagian timur memiliki prevalensi EBF yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Secara garis besar hasil analisis dari data sekunder yang ada, dipaparkan sebagai berikut. Berdasarkan jenis tempat tinggal, ibu di daerah pedesaan memiliki proporsi ASI Eksklusif yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu di daerah perkotaan. Berdasarkan usia ibu, usia 30-34 tahun memiliki rasio tertinggi dalam kelompok ASI Eksklusif. Sementara itu, berdasarkan status pernikahan ibu, ibu yang menikah memiliki rasio ASI Eksklusif yang lebih tinggi daripada ibu yang bercerai/janda. Selain itu, berdasarkan pendidikan ibu, ibu yang berpendidikan SMP memiliki proporsi ASI Eksklusif tertinggi.

Berdasarkan analisis lebih dalam, terdapat enam karakteristik ibu yang menjadi target promosi khusus di kalangan keluarga miskin untuk meningkatkan ASI Eksklusif di Indonesia, yaitu tinggal di daerah perkotaan, berusia muda, berstatus janda/duda, berpendidikan rendah, dan tidak melakukan ANC dan EIBF. Pendidikan dan promosi kesehatan tentang manfaat menyusui harus diberikan kepada ibu dan keluarga sejak masa antenatal.

Penulis : Hario Megatsari, S.KM., M.Kes

Sumber : https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2213398425000491

Sabilla M, Laksono, Megatsari H. Determine the promotion target of exclusive breastfeeding among poor families in Indonesia. Clinical Epidemiology and Global Health 2025;32:101960