Sindroma iritasi usus (IBS) merupakan salah satu gangguan interaksi otak-usus yang paling umum dan sudah banyak diketahui. Dengan menerapkan kriteria Roma III, prevalensi IBS secara global diperkirakan sebesar 9,2%. Beberapa negara, seperti Nigeria (33%) dan Meksiko (35,5%), memiliki prevalensi IBS yang jauh lebih tinggi daripada rata-rata regional. Karena negara-negara berkembang cenderung mengadopsi pola makan dan gaya hidup yang lebih kebarat-baratan, yang mungkin terkait dengan risiko IBS yang lebih tinggi, prevalensi IBS dapat terus meningkat. Sebuah studi analisis biaya yang dilakukan di Iran, sebagai salah satu negara berpenghasilan rendah dan menengah, melaporkan bahwa biaya tahunan per pasien untuk IBS adalah sekitar 90 USD (Rp. 1.500.000.,). Selain beban ekonominya, gejala IBS memiliki dampak yang signifikan pada kualitas hidup pasien. Pasien IBS telah terbukti memiliki kualitas hidup yang lebih rendah daripada individu yang sehat, yang berkorelasi secara signifikan dengan tingkat keparahan gejala.
Berdasarkan latar belakang tersebut, tim peneliti dari Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran-RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga melakukan studi literatur untuk mengetahui strategi – strategi yang relevan dan pendekatan diagnosis yang sesuai berdasarkan bukti terbaru dari perspektif negara berpendapatan rendah dan menengah. Hal ini dikarenakan sudah penelitian tentang sindroma iritasi usus sudah banyak dilaksanakan di negara berpendapatan tinggi. Studi literatur tersebut berhasil dipublikasikan di jurnal internasional terindeks Scopus Quartile 1 yaitu Intestinal Research.
Berdasarkan hasil studi literature didapatkan fakta bahwa pedoman untuk IBS telah dikembangkan oleh para ahli, namun terdapat potensi kesenjangan penerjemahan dalam praktik sehari-hari. Sekitar sepertiga dokter umum secara rutin menggunakan kriteria Roma untuk mendiagnosis IBS, sedangkan ahli gastroenterologi jarang menggunakannya. Di Meksiko, kriteria Roma diterima secara luas dan dianggap sebagai standar referensi untuk mendefinisikan IBS. Namun, para dokter kurang familier dengan berbagai versinya. Dalam sebuah survei penyedia layanan kesehatan, sebanyak 64,6% menggunakan Roma III; 11% menggunakan Roma II; 0,8% Roma I, dan 23,6% berdasarkan pengalaman praktik sehari –hari dan tidak ada yang melaporkan menggunakan kriteria Manning. Namun, mereka yang memenuhi kriteria Roma III lebih mungkin untuk menegakkan diagnosis yang akurat daripada mereka yang tidak. Diagnosis dan klasifikasi subtipe IBS sangat bergantung pada deskripsi gejala pasien kepada dokter. Untuk mendiagnosis IBS secara akurat, penting untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang persepsi dan interpretasi pasien terhadap gejala mereka. Faktor budaya secara signifikan membentuk ekspresi gejala di antara individu dari latar belakang etnis yang beragam. Pengembangan kuesioner diagnosis Roma III/IV untuk IBS dapat memberi dokter alat standar untuk menilai gejala pasien, membantu dalam diagnosis IBS dan klasifikasi subtipenya. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan studi tentang penerjemahan dan validasi kuesioner diagnosis ke dalam bahasa yang digunakan di setiap negara.
Perlu dipahami bahwa tes laboratorium seperti Complete Blood Count (CBC), Fecal Occult Blood Test (FOBT), dan tes tinja lengkap dapat diakses di fasilitas perawatan kesehatan primer, sekunder, dan tersier. Namun, kolonoskopi yang merupakan prosedur mahal hanya tersedia di fasilitas perawatan kesehatan tersier yang terspesialisasi. Survei terhadap 15 negara berpendapatan rendah dan menengah mengungkapkan beban signifikan akses ke layanan endoskopi. Malawi dan Rwanda, sebagai contoh ekstrem, hanya memiliki satu ahli gastroenterologi yang terlatih secara medis dan kurang dari 11 pusat endoskopi.
Strategi diagnosis positif yang mengandalkan kriteria berbasis gejala dan tes rutin minimal lebih aman dan lebih hemat biaya daripada pendekatan eksklusif. Rome III mungkin lebih cocok untuk populasi di negara berpendapatan rendah dan menengah daripada Rome IV karena sensitivitasnya yang lebih tinggi dan mencakup gejala yang lebih ringan, seperti kembung dan nyeri. Selain pengambilan riwayat yang cermat, CBC, FOBT, dan tes tinja lengkap cukup untuk mengidentifikasi pasien IBS yang diduga memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk memiliki penyakit organik untuk membenarkan kolonoskopi. Penelitian yang dirancang dengan baik dan didanai secara memadai, yang mencakup populasi yang beragam di negara-negara berkembang, sangat penting untuk mengembangkan strategi diagnosis yang efektif.
Penulis: Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Link: https://doi.org/10.5217/ir.2023.00199
Baca juga: Senyawa Bioaktif Cinnamomum Zeylanicum sebagai Anti-jamur Potensial





