Universitas Airlangga Official Website

Senyawa Bioaktif Cinnamomum Zeylanicum sebagai Anti-jamur Potensial

Senyawa Bioaktif Cinnamomum Zeylanicum sebagai Anti-jamur Potensial
Sumber: Detikfood

Kandidiasis oral merupakan infeksi oportunistik yang paling sering terjadi pada orang yang hidup dengan kondisi immunocompromised seperti HIV. C. albicans telah diidentifikasi sebagai spesies yang paling bertanggung jawab atas 90% infeksi jamur invasif di seluruh dunia, termasuk kandidiasis oral, yang terjadi ketika sistem imun terganggu. C. albicans juga dikenal sebagai penyebab utama ke-4 infeksi pada pasien rumah sakit dengan immunocompromised. Jika sistem imun atau mikrobiota normal inang terganggu, C. albicans dapat menyebabkan berbagai penyakit.

Masalah resistensi Candida albicans terhadap agen anti-jamur dalam penanganan kandidiasis telah muncul sebagai perhatian penting yang kemudian mengharuskan pengembangan alternatif anti-jamur baru untuk memastikan kemanjuran dalam pengobatan kandidiasis. Manifestasi penting dari patogenisitas C. albicans adalah perkembangan biofilm yang difasilitasi oleh keberadaan gen tertentu yang dikenal sebagai gen sekuens mirip aglutinin (ALS), khususnya ALS1 dan ALS3. Pembentukan biofilm berhubungan dengan sebagian besar infeksi yang disebabkan oleh C. albicans. Pembentukan biofilm yang melekat pada permukaan sangat penting untuk virulensi C. albicans. Ekstrak Cinnamomum zeylanicum sebagai agen anti-jamur alternatif mempunyai potensi dalam mengatasi resistensi jamur, khususnya dalam konteks C. albicans, untuk pengobatan kandidiasis. Senyawa bioaktif seperti kayu manisaldehid, siklopentana, asam eugenika, asam heksadesena, dan Pirantel Hidroklorida terdapat dalam C. zeylanicum.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Departemen Penyakit Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedoteran, Universitas Airlangga bekerjasama dengan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga serta Universitas Siliwangi melakukan penelitian untuk menyelidiki kemungkinan mekanistik dari bahan kimia bioaktif yang ditemukan di C. zeylanicum sebagai agen untuk memerangi kandidiasis. Studi tersebut juga meneliti efek penghambatan pada protein Agglutinin-like sequence-1 (ALS1) dan ALS3. Studi menggunakan kombinasi simulasi molecular docking dan molecular dynamics untuk menjelaskan interaksi kompleks antara konstituen bioaktif C. zeylanicum dan protein ALS1/ALS3.

Hasil penelitian mengungkap bahwa ligand menunjukkan afinitas pengikatan yang signifikan terhadap molekul Cinnamaldehyde, Pyrantel Hydrochloride dan Hexadecenoic Acid yang berasal dari C. zeylanicum, seperti yang terlihat dari nilai afinitas pengikatannya yang berkisar antara –4,873 hingga –6,03 kkal/mol. Hal ini menunjukkan potensi efektivitasnya dalam mengubah aktivitas protein target. Hasil penelitian juga mengungkap adanya pola interaksi yang berbeda antara setiap zat kimia dan protease. Poin penting dari penelitian adalah Pyrantel Hidroklorida membentuk interaksi pengikatan dengan residu katalitik penting di ALS1 dan ALS3. Stabilitas kompleks Pyrantel Hidroklorida-ALS1/ALS3 selanjutnya didukung oleh simulasi dinamika molekuler, yang menunjukkan bahwa kompleks ini memiliki kapasitas penghambatan yang kuat. Efektivitas Pyrantel Hidroklorida ditekankan oleh banyaknya ikatan hidrogen yang terbentuk dan dikonfirmasi menggunakan perhitungan energi pengikatan bebas. Secara keseluruhan, hasil penelitian menyoroti kemungkinan tindakan anti-kandidiasis C. zeylanicum, yang terutama dimediasi melalui penghambatan ALS1 dan ALS3. Aktivitas tersebut juga sebagian besar difasilitasi oleh Pyrantel Hidroklorida. Pemahaman yang komprehensif ini memberikan dasar yang berharga untuk pengembangan strategi anti-jamur yang inovatif dalam memerangi infeksi C. albicans.

Penulis: Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH 

Link: https://doi.org/10.48048/tis.2024.7986

Baca juga: Ekstrak Jahe Sebagai Pengobatan Anti Jamur Candida Albicans