Universitas Airlangga Official Website

Strategi Pengurangan Risiko dengan Good Corporate Governance

IL by Populix

Konsep tata kelola perusahaan dipergunakan untuk mewujudkan tata kelola perusahaan yang lebih terbuka bagi pengguna laporan keuangan. Dalam jangka panjang penerapan tata kelola perusahaan yang baik dapat mempengaruhi kinerja perusahaan, dimana hasil perusahaan akan dikaitkan dengan kinerja keuangan atau memperoleh laba. Jika terdapat masalah dengan kinerja keuangan, maka dapat merusak stabilitas perusahaan dan dalam jangka panjang sehingga dapat mengarah pada kondisi kebangkrutan (Ananto et al., 2017).

Gejala kebangkrutan dapat diketahui dengan melakukan analisis kebangkrutan. Manajemen akan semakin baik untuk meminimalkan kebangkrutan apabila gejala ini diketahui lebih awal. Salah satu gejala kebangkrutan bisa dilihat dari financial distress. financial distress adalah permasalahan yang amat penting diwaspadai oleh suatu perusahaan. Menurut Platt and Platt (2002) financial ditress adalah tahap yang sangat penting dalam penurunan keuangan dan dapat didefinisikan sebagai tanda masalah keuangan yang lebih serius, termasuk kebangkrutan.

Terdapat beberapa penelitian sebelumnya mengenai penerapan GCG terhadap risiko financial distress. Temuan dalam penelitian Helena and Saifi (2018); Pramudena (2017); Hassan Al-Tamimi (2012); Wardhani (2006); Yudha and Fuad (2014); Li et al. (2008); dan Pembayun and Januarti (2012) menyatakan bahwa terdapat beberapa komponen dari GCG yang berdampak terhadap financial distress. Akan tetapi, dalam penelitian Widhiastuti et al. (2019) mengatakan bahwa GCG tidak memiliki pengaruh secara langsung maupun tidak terhadap financial distress. Helena and Saifi (2018) dan Pramudena (2017) menyatakan bahwa Kepemilikan Institusional juga memiliki dampak terhadap financial distress. Sedangkan, pada analisis penelitian dari Widhiastuti et al. (2019) dan Yudha and Fuad (2014). Kepemilikan Institusional sebagai variabel GCG tidak memiliki dampak terhadap kegagalan keuangan. Variabel kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap probabilitas financial distress (Pramudena, 2017); (Fathoni et al., 2014); dan (Yudha and Fuad, 2014). Sebaliknya, dalam penelitian Wardhani (2006) mengatakan adanya dampak negatif kepemilikan manajerial terhadap kegagalan keuangan. Kepemilikan Manajerial tidak berpengaruh pada kegagalan keuangan (Widhiastuti et al., 2019). Konsentrasi kepemilikan juga ditemukan berhubungan negatif dengan probabilitas kesulitan keuangan/ financial distress (Li et al., 2008).

Dari perbedaan hasil penelitian tersebut dapat dilihat terdapat hasil yang tidak konsisten pada keenam variabel GCG terhadap financial distress, maka hal ini mendorong peneliti untuk menguji ulang bagaimana pengaruh GCG atas enam indikator yaitu kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, ukuran dewan komisaris independen, size, dan leverage. Alasan peneliti memilih keenam variabel tersebut karena menurut beberapa teori pada penelitian sebelumnya menggambarkan bahwa keenam variabel ini mempunyai hubungan yang dapat menyebabkan financial distress.

Dalam penelitian ini diambil dari kelompok perusahaan terdaftar di ISSI (Indeks saham syariah Indonesia). Pasar modal syariah memiliki daya tarik tersendiri bagi investor muslim yang menghindari saham perusahaan yang beroperasi tidak sesuai syariah disisi lain saham yang tercatat di ISSI lebih dari 350 emiten bergabung dalam ISSI, sehingga menarik untuk penulis lakukan penelitian ini. Penelitian ini memiliki periode waktu yang berbeda yaitu 9 tahun terakhir dari 2011-2019. Penelitian ini juga dilakukan untuk meyakinkan kebenaran dari hasil yang tidak konsisten antara pengaruh keenam variabel independen terhadap kemungkinan Financial Distress menggunakan pendekatan regresi data panel dan machine learning.

Penelitian ini melakukan pengolahan data sebanyak dua kali dengan menggunakan metode yang berbeda. Metode pertama adalah regresi data panel untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen baik secara simultan maupun parsial. Metode lain yang digunakan adalah machine learning, pemilihan metode ini karena dapat mengidentifikasi beberapa model, baik statistik tradisional maupun dengan menggunakan model machine learning (Chen, 2021). Nantinya dapat dilihat perbedaan antara kedua metode penelitian tersebut dalam melihat variabel dependen yang paling berpengaruh.

Berdasarkan hasil pengolahan data, terdapat perbedaan hasil antara metode regresi data panel dan machine learning dengan menggunakan model extra tree. Pada panel data regresi ditemukan variabel dewan komisaris berpengaruh negatif signifikan dan independent komisaris berpengaruh positif signifikan. Hasil data panel menunjukkan untuk meminimalkan risiko kebangkrutan, perusahaan syariah dapat mengatur proporsi GCG dengan mengurangi jumlah dewan komisaris dan meningkatkan proporsi komisaris independen. Hasil ini menunjukkan bahwa fungsi komisaris independen berpengaruh baik terhadap keberlangsungan perusahaan karena dapat memberikan nasehat yang netral bagi keberlangsungan perusahaan, hal ini berbeda dengan tugas dewan komisaris yang biasanya berasal dari internal perusahaan. Dampak negatif Dewan Komisaris menunjukkan bahwa semakin banyak proporsi Dewan Komisaris justru dapat menimbulkan risiko kebangkrutan. Hal ini dapat mengindikasikan adanya kepentingan politik internal perusahaan atau biaya operational yang besar dalam keseharaian dewan komisaris sehingga mengurangi laba perusahaan.

Hasil lain yang ditemukan pada metode extra tree menunjukkan variabel kepemilikan institusional sangat berpengaruh terhadap risiko kebangkrutan perusahaan yang kemudian disusul dengan variabel dewan komisioner dan independent komisaris. Model machine learning tidak dapat menunjukkan arah signifikansi, sehingga perlu adanya kolaborasi dengan metode regresi data panel untuk melihat dampak negatif atau positif dari suatu variabel. Kedua model menyarankan kepemilikan Institutional memiliki dampak dan panel menunjukan arah negatif, artinya kepemilikan institusional yang lebih tinggi dapat mengakibatkan naik risiko kebangkrutan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel GCG yang terdiri dari kepemilikan isntitusional, Dewan Komisaris, dan Independen komisaris secara parsial paling berpengaruh terhadap financial distress perusahaan syariah.

Penulis: Sylva Alif Rusmita; Moh.Saifin Ami An-Nafis; Indria Ramadhani; Mohammad Irfan

Jurnal:
The effect of good corporate governance on financial distress in companies listed in sharia stock index Indonesia: Machine learning approach