Kesehatan gigi dan mulut sering kali dianggap remeh, padahal faktanya, karies gigi masih menjadi penyakit kronis paling umum di dunia. Bahkan, menurut Ikatan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), sekitar 89% kasus karies gigi dialami oleh anak-anak. Salah satu penyebab utama karies adalah bakteri yang menempel pada gigi dan membentuk lapisan plak, atau yang secara ilmiah dikenal sebagai biofilm.
Menariknya, tidak semua bakteri penyebab plak bersifat “jahat” dari awal. Salah satu contohnya adalah Streptococcus gordonii. Bakteri ini dikenal sebagai “penjajah awal” dalam proses pembentukan biofilm karena kemampuannya menempel lebih dulu pada permukaan gigi. Namun meski awalnya bersifat komensal yakni hidup berdampingan tanpa langsung merugikan, S. gordonii ternyata bisa membuka jalan bagi bakteri lain yang lebih berbahaya, seperti Streptococcus mutans, yang merupakan pemicu utama karies.
S. gordonii punya kemampuan unik dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri asam seperti S. mutans. Ia memproduksi asam dari gula yang kita konsumsi, sehingga menurunkan pH (tingkat keasaman) di sekitar gigi. Dalam kondisi asam ini, enamel gigi mulai mengalami demineralisasi, dan inilah awal mula terbentuknya karies.
Untuk mencegah hal ini, para peneliti kini melirik bahan-bahan alami sebagai alternatif antibakteri, salah satunya adalah teh hijau. Teh hijau mengandung senyawa polifenol, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), yang terbukti memiliki sifat antimikroba. EGCG tidak hanya menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya seperti S. mutans, tapi juga mampu mengganggu pembentukan biofilm dan mengurangi produksi asam oleh bakteri, termasuk S. gordonii.
Beberapa studi menunjukkan bahwa EGCG mampu menghambat adhesi bakteri pada permukaan gigi serta menstabilkan pH, sehingga mengurangi risiko terjadinya karies. Ini menjadikan EGCG sebagai kandidat alami yang menjanjikan dalam dunia pencegahan karies, terutama bagi anak-anak di negara berkembang yang lebih rentan terhadap penyakit ini.
Meski hasil penelitian sejauh ini cukup menjanjikan, studi lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami lebih dalam bagaimana EGCG bekerja terhadap S. gordonii, terutama dalam konteks pembentukan biofilm dan regulasi pH glikolitik. Namun yang pasti, pendekatan alami
seperti ini membuka harapan baru dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut bukan hanya lewat sikat gigi, tapi juga lewat secangkir teh hijau.
Penulis: Prawati Nuraini, drg., M.Kes., Sp.KGA.
Informasi detail: https://rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2024-17-10-11





