Universitas Airlangga Official Website

Stres dan Pola Hidup Polisi di Jawa Timur Terkait Risiko Penyakit Jantung

Ilustrasi Gejala Penyakit Jantung (Sumber: Hypeabis)
Ilustrasi Gejala Penyakit Jantung (Sumber: Hypeabis)

Sebuah penelitian besar yang melibatkan lebih dari 3.000 anggota kepolisian di Jawa Timur menemukan bahwa sebagian besar polisi memiliki risiko tinggi terkena penyakit jantung dan pembuluh darah (penyakit kardiovaskular). Studi yang diterbitkan di Multidisciplinary Science Journal tahun 2026 ini menunjukkan bahwa lebih dari 90% polisi yang diperiksa memiliki nilai Atherogenic Index of Plasma (AIP) tinggi — penanda laboratorium yang kuat untuk memprediksi aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah arteri.

Profesi kepolisian merupakan salah satu pekerjaan dengan tingkat stres tertinggi. Jam kerja tidak teratur, tekanan psikologis, dan paparan fisik berat menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko gangguan metabolik. Polisi sering bekerja dalam kondisi stres tinggi dan jadwal tidak menentu. Hal ini berdampak pada pola makan, kualitas tidur, dan kebiasaan hidup yang akhirnya berpengaruh pada kesehatan jantung.

Dari ribuan anggota yang diperiksa, sekitar 70% mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, setengahnya menderita hipertensi, dan lebih dari dua pertiga memiliki kadar gula darah puasa yang tinggi. Yang menarik, penelitian ini juga menemukan indikator baru yang bisa memprediksi risiko penyakit jantung lebih akurat dibandingkan hanya melihat kolesterol total atau tekanan darah.

Tim peneliti memperkenalkan empat indeks atherogenik gabungan – yaitu Atherogenic Index (AI), Lipoprotein Combine Index (LCI), Castelli Risk Index I (CRI-I), dan Castelli Risk Index II (CRI-II). Keempatnya terbukti berkorelasi kuat dengan AIP, yang berarti bisa membantu dokter mengenali risiko aterosklerosis lebih dini.  Selama ini pemeriksaan kolesterol sering dianggap cukup, padahal indikator seperti AIP dan indeks gabungan ini jauh lebih sensitif untuk mendeteksi risiko dini. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi program skrining kesehatan rutin di lingkungan kepolisian, serta mendorong gaya hidup lebih sehat di kalangan aparat penegak hukum.

Para peneliti menekankan perlunya dukungan institusional agar pemeriksaan kesehatan kardiovaskular dapat dilakukan secara berkala bagi anggota polisi. Selain pemeriksaan laboratorium, perubahan gaya hidup seperti pengaturan pola makan, olahraga teratur, berhenti merokok, dan manajemen stres perlu menjadi bagian dari program kesejahteraan personel. Polisi adalah garda terdepan dalam menjaga keamanan masyarakat.

Sudah seharusnya kesehatan mereka juga menjadi prioritas. Penelitian ini juga membuka peluang bagi studi lanjutan tentang pengaruh faktor pekerjaan, jenis kelamin, serta pola tidur terhadap risiko penyakit jantung pada kelompok pekerja dengan tekanan tinggi.Pemeriksaan kolesterol saja tidak cukup. Indeks AIP dan kombinasi lipid baru dapat membantu mendeteksi risiko penyakit jantung lebih awal, terutama pada profesi dengan stres tinggi seperti polisi.

Penulis: Dr. Meity Ardiana, dr., Sp.JP(K)FIHA

Link Publikasi : https://malque.pub/ojs/index.php/msj/article/view/10336