Pada pandemi Covid-19, hampir seluruh sektor non kritikal mewajibkan pekerjanya untuk bekerja dari rumah, salah satunya adalah dosen. Selaku pekerja di bidang Pendidikan, semua kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah. Saat melaksanakan work from home, dosen cenderung tidak memiliki jam kerja yang jelas yang disebabkan oleh beberapa hal antara lain komunikasi yang terhambat sehingga membuat jam kerja melebihi standar yang ditetapkan dan adanya gangguan dari kegiatan domestik internal di rumah yang membuat pekerjaan sering terganggu. Beban pekerjaan yang diberikan oleh tempat kerja cenderung tetap tinggi, komunikasi berjalan tidak seperti sebelumnya dengan berbagai hambatannya semisal jaringan internet yang tidak stabil serta anjuran yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk tetap berada di rumah membuat pekerja mengalami tekanan yang cukup berat, perubahan pola kerja yang berubah begitu drastic. Sementara jika dulu sebelum pandemi pekerja dapat pergi berlibur sesaat untuk refresh pikiran, namun sekarang tidak ada media yang bisa menyalurkan kepenatan tersebut.Semua kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah. Pada masa ini, masalah gangguan psikososial menjadi perhatian khusus yang harus diperhatikan. Oleh karena itu, perlu dianalisis faktor yang berhubungan dengan dengan stres kerja pada dosen yang menjalani work from home selama pandemi COVID-19.
Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan dalam kemampuannya menyelesaikan suatu masalah. Sehingga antara laki-laki dan perempuan memiliki kerentanan yang berbeda tehadap terjadinya stres kerja. Pekerja perempuan cenderung lebih mudah mengalami stress kerja daripada pekerja laki-laki. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan stress kerja.
Usia dari mayoritas responden yang cenderung masih muda justru lebih rentan mengalami stress kerja. Faktor usia pada dasarnya sulit untuk dianalisis secara menyeluruh karena terdapat faktor individu lain yang ikut mempengaruhi. Usia merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan seorang pekerja mengalami stres akibat kerja, yaitu semakin tua umur pekerja dapat menyebabkan rendahnya kemungkinan untuk mengalami stres kerja karena pekerja dengan umur yang sudah tua akan memiliki kematangan kondisi kesehatan mentalnya. Pekerja yang umurnya lebih muda dapat mengalami stres dibandingkan dengan yang umurnya lebih tua. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara usia dengan stres kerja pada dosen.
Waktu kerja yang terlalu lama dapat meningkatkan beban kerja fisik maupun mental bagi pekerja. Hal tersebut akan menimbulkan kelelahan pada pekerja yang dapat mengacu pada terjadinya stress kerja. Jam kerja berpengaruh signifikan terhadap stres kerja karyawan pada Kantor Kecamatan. Terdapat hubungan antara jam kerja dengan stres kerja.
Waktu istirahat menjadi hal yang sangat penting bagi pekerja karena pada waktu tersebut pekerja dapat beristirahat sejenak untuk menghilangkan lelah akibat beban kerja yang dirasakan. Kelelahan pada pekerja yang tidak diatasi dapat memicu timbulnya stres kerja pada pekerja. Ada hubungan yang signifikan antara kelelahan yang dirasakan pekerja akibat kurangnya waktu istirahat yang diberikan. Pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, kelelahan kerja dapat menimbulkan beberapa keadaan yaitu prestasi kerja yang menurun. Kelelahan kerja terbukti memberikan kontribusi lebih dari 60% dalam kejadian kecelakaan di tempat kerja.
Lamanya waktu tidur yang cukup serta kualitas tidur yang baik diperlukan agar pekerja dapat melaksanakan aktivitasnya secara maksimal. Pada penelitian yang dilakukan kepada perawat di salah satu puskesmas di Kabupaten Malang menunjukkan hasil yang berlawanan dimana kualitas tidur berhubungan dengan tingkat stres kerja pada perawat. Para perawat yang memiliki kualitas tidur yang buruk cenderung mengalami stress kerja tingkat sedang. Penelitian lain yang dilakukan didapatkan hasil bahwa ada hubungan antara antara tingkat stres dengan kualitas tidur mahasiswa akhir.
Olahraga diketahui dapat mengurangi kecemasan, stres dan depresi akibat kerja. Pada penelitian yang dilakukan kepada ibu bekerja menunjukkan hasil yang berbeda dimana diketahui bahwa kebiasaan olahraga mempengaruhi tingkat stres kerja. Adanya intervensi berupa olahraga fisik terbukti menurunkan tingkat stres kerja pada ibu bekerja dari stress kerja tingkat sedang menjadi tingkat rendah. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa kebiasaan olahraga terhadap tingkat stress mempunyai hubungan yang tinggi, dan pengaruh yang signifikan, hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan olahraga yang baik berpengaruh terhadap tingkat stres pada mahasiswa. Partisipasi olahraga dan aktivitas fisik dalam porsi yang lebih tinggi terkait dengan tingkat depresi yang lebih rendah, serta persepsi diri yang lebih baik. Hal ini bermanfaat bagi remaja perempuan. Remaja perempuan dianggap lebih rentan mengalami depresi daripada remaja laki-laki pada usia yang sama.
Seseorang dengan ritme sikardian yang buruk cenderung lebih rentang mengalami stres. Ritme sikardian berkaitan dengan proses internal dalam tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun setiap 24 jam. Seseorang yang memiliki waktu tidur dan bangun yang tidak menentu berarti memiliki ritme sikardian yang buruk. Kondisi ini dapat memicu terjadinya stres kerja.
Insomnia merupakan kondisi seseorang yang mengalami kesulitan untuk tidur. Insomnia dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Insomnia pada pekerja dapat dipengaruhi oleh adanya waktu shift kerja yang berubah-ubah. Pekerja yang bekerja pada shift malam cenderung lebih rentan mengalami insomnia. Seseorang yang mengalami insomnia berarti memiliki kualitas tidur yang kurang maksimal, dimana hal ini dapat menyebabkan terjadinya stres kerja pada pekerja. Terdapat hubungan bermakna antara stres kerja dan keluhan sulit tidur. Hal ini menunjukkan stres kerja dengan keluhan sulit tidur memiliki hubungan yang kuat dan berpola positif, yang berarti semakin tinggi stress kerja maka semakin tinggi juga keluhan sulit tidur pada perawat.
Stres kerja pada dosen yang bekerja work from home saat pandemi Covid-19 disebabkan oleh jenis kelamin, usia, lamanya waktu tidur per hari, lamanya waktu olahraga per minggu, indikasi irama sirkadian, indikasi insomnia, lama waktu kerja, dan lama waktu istirahat kerja per hari.
Putri Ayuni Alayyannur, S.KM., M.KKK





