Karsinoma nasofaring (KNF) berbeda dari kanker kepala dan leher lainnya dalam hal epidemiologi, gambaran klinis, penanda biologis, faktor risiko karsinogenik, dan faktor prognostik. Namun informasi mengenai KNF di Indonesia masih terbatas, di mana rata-rata prevalensi yang tercatat adalah 6,2/100.000 dan terdapat 13.000 kasus baru yang dilaporkan setiap tahunnya. Banyak pengobatan yang digunakan, dan penting untuk menentukan dengan tepat faktor risiko yang berkontribusi terhadap prognosis buruk.
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat luaran pasien kanker nasofaring yang dirawat di rumah sakit rujukan berdasarkan karakteristik dan hasil laboratorium.
Data dari rekam medis dianalisis untuk dilakukan penelitian retrospektif. Sebanyak 785 pasien yang dirawat di rumah sakit rujukan tunggal dari tahun 2018 hingga 2022 dan menerima diagnosis kanker nasofaring diikutsertakan.
Kanker nasofaring masih menjadi salah satu jenis kanker yang menjadi beban global. Karsinoma nasofaring merupakan salah satu jenis penyakit multifaktorial yang terutama menyerang masyarakat umum di Tiongkok Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Utara. Meskipun di wilayah tertentu Karsinoma Nasofaring jarang terjadi di negara-negara Arab, namun angka kejadiannya semakin meningkat karena meningkatnya paparan terhadap berbagai faktor risiko. Sebuah penelitian mengidentifikasi kanker nasofaring dari Asia Tenggara. Studi ini menemukan bahwa angka kejadian dan kematian tertinggi terjadi di Malaysia, Singapura, Indonesia, Vietnam, dan Brunei. Angka kejadian kasus tersebut mencapai 176.500 secara global pada tahun 2019. Indonesia tercatat sebagai negara dengan angka kematian tertinggi ketiga akibat penyakit ini. Kanker nasofaring mencapai 3.220 kematian pada tahun 2019. Kanker nasofaring merupakan salah satu kanker terbanyak pada pria di Indonesia selain limfoma. Prevalensi kanker nasofaring di Indonesia adalah 6,2/100.000 dengan hampir 13.000 kasus baru, namun ini merupakan proporsi kecil dari angka kematian akibat kanker nasofaring.
Kanker nasofaring merupakan kanker kepala dan leher yang paling umum terjadi, dengan rasio pria-wanita 2:4, dan merupakan penyakit endemik di Pulau Jawa. Berbagai penelitian menemukan bahwa pasien kanker nasofaring memiliki tingkat kelangsungan hidup yang buruk. Pasien datang ke rumah sakit dalam keadaan stadium lanjut. Survei yang dilakukan Dwijayanti dkk, tahun 2020 menemukan tingkat kelangsungan hidup pasien kanker nasofaring adalah sekitar 31,08 bulan. Berbagai faktor yang ada pada saat pra pengobatan, selama pengobatan, dan pasca pengobatan dapat mempengaruhi prognosis, kelangsungan hidup, dan kualitas hidup pasien Karsinoma Nasofaring (KNF).
Strategi untuk memberikan outcome terbaik pada pasien kanker nasofaring telah dilakukan namun hasilnya bervariasi. Perlu dilakukan identifikasi karakter pasien yang menyebabkan prognosis buruk sehingga dapat diantisipasi lebih dini. Berbagai pilihan pengobatan pasien kanker nasofaring di rumah sakit belum sepenuhnya menjanjikan hasil terbaik. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis outcome pasien kanker nasofaring setelah dirawat di rumah sakit rujukan berdasarkan karakteristik dan hasil laboratorium.
Jenis penelitian dan populasi penelitian ini merupakan penelitian retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien dengan diagnosis kanker nasofaring di RSUD Dr. Soetomo Jawa Timur Indonesia sepanjang tahun 2018-2022. Kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini adalah pasien diagnosis kanker nasofaring pada tahun 2018-2022 yang dirawat di rumah sakit dan mempunyai data yang lengkap. Data rekam medis yang tidak lengkap dan pasien rawat jalan tidak dimasukkan dalam penelitian. Data yang diperoleh dari sebanyak 785 pasien dianalisis. Rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit rujukan di Jawa Timur, Indonesia.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah penyakit ginjal kronis, tingkat pendidikan, dan klasifikasi TNM berhubungan dengan hasil akhir pasien. Terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar K, SGPT, albumin, Na, SGPT, CrCl, leukosit, dan trombosit sebelum pengobatan pada pasien yang selamat dan tidak selamat. Selain itu, terdapat perbedaan yang signifikan pada variabel penyakit ginjal kronis dan kadar albumin sebelum pengobatan. Penderita kanker nasofaring yang memiliki penyakit ginjal kronis memiliki peluang 12,151 kali lipat untuk mengalami kematian.
Penulis: Achmad Chusnu Romdhoni, Hayyu Fath Rachmadhan, Yufi Aulia Azmi, Faisal Yusuf Ashari, Astri Dewayani.
Link: https://balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4512





