Universitas Airlangga Official Website

Stunting dan Tuberkulosis pada Anak: Ketika Gizi dan Infeksi Saling Mengunci

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Stunting masih menjadi persoalan kesehatan anak yang serius di Indonesia. Kondisi ini tidak sekadar soal tinggi badan yang kurang dari standar, tetapi mencerminkan masalah gizi kronis yang berdampak panjang terhadap perkembangan fisik, kognitif, dan daya tahan tubuh anak. Salah satu faktor yang sering luput diperhatikan adalah peran penyakit infeksi kronis, terutama tuberkulosis (TB), dalam memperparah kondisi stunting. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang masih tinggi prevalensinya di Indonesia. Bahkan, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TB. Yang lebih memprihatinkan, sekitar 11 persen kasus TB terjadi pada anak-anak. Pada kelompok usia ini, TB tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga mengganggu status gizi dan pertumbuhan anak secara signifikan.

Hubungan antara TB dan stunting membentuk lingkaran setan. Anak dengan gizi buruk memiliki daya tahan tubuh yang lemah sehingga lebih rentan terinfeksi TB. Sebaliknya, infeksi TB meningkatkan kebutuhan energi dan zat gizi, menurunkan nafsu makan, serta memicu peradangan kronis yang memperburuk status gizi anak. Akibatnya, pertumbuhan anak terhambat dan risiko stunting semakin besar. Salah satu dampak penting dari kombinasi stunting dan TB adalah anemia serta gangguan sistem imun. Anak dengan TB sering mengalami anemia akibat peradangan kronis yang mengganggu metabolisme zat besi. Di sisi lain, kondisi gizi buruk juga memengaruhi kadar sitokin, seperti interleukin-6 (IL-6), yang berperan dalam respons peradangan dan kekebalan tubuh. Kadar IL-6 yang tidak seimbang dapat membuat anak semakin rentan terhadap infeksi. Untuk mengatasi masalah ini, pemberian oral nutritional supplements (ONS) sering irekomendasikan sebagai bagian dari terapi pendukung pada anak dengan TB dan stunting. Suplemen ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan energi, protein, dan mikronutrien yang meningkat selama masa infeksi, dengan harapan dapat memperbaiki status gizi sekaligus mendukung pemulihan tubuh. penelitian yang dilakukan di Surabaya mengkaji efektivitas ONS pada anak usia 12–60 bulan yang mengalami stunting dan terinfeksi TB dengan memberikan ONS selama 90 hari sebanyak 400 kkal/hari. Selain menerima ONS, anak-anak tersebut edukasi gizi kepada orang tua. Peneliti menilai perubahan berat badan, tinggi badan, kadar hemoglobin (Hb), dan IL-6 sebelum dan sesudah intervensi.

Hasilnya menunjukkan pemberian ONS terbukti membantu peningkatan berat dan tinggi badan anak, menandakan adanya perbaikan status gizi secara antropometrik. Namun, perubahan kadar hemoglobin dan IL-6 tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik setelah 90 hari intervensi. Temuan ini memberikan pelajaran penting. Perbaikan pertumbuhan fisik melalui suplementasi gizi relatif dapat dicapai dalam waktu singkat. Namun, parameter biologis yang terkait dengan peradangan kronis dan metabolisme zat besi, seperti Hb dan IL-6, memerlukan waktu lebih lama untuk menunjukkan perubahan. Faktor lain seperti tingkat keparahan infeksi TB, kepatuhan pengobatan, infeksi penyerta, dan kondisi kesehatan lain juga sangat memengaruhi hasil.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa penanganan stunting pada anak dengan TB tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan. Suplementasi gizi memang penting, tetapi harus disertai pengobatan TB yang optimal, pemantauan kesehatan secara menyeluruh, serta edukasi gizi berkelanjutan bagi keluarga. Dengan pendekatan yang komprehensif, siklus stunting dan infeksi dapat diputus, sehingga anak memiliki peluang tumbuh dan berkembang secara optimal.

Pada akhirnya, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, dan TB bukan hanya soal infeksi paru. Keduanya adalah cerminan ketimpangan kesehatan anak yang membutuhkan perhatian serius dari tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan masyarakat secara luas. Investasi pada gizi dan pengendalian infeksi sejak dini adalah kunci untuk melindungi generasi masa depan Indonesia.

Penulis: Dr. Nur Aisiyah Widjaja, dr., Sp.A(K)

Link artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/hemoglobin-and-il-6-in-stunted-children-with-tuberculosis-infecti/