UNAIR NEWS – Surabaya 1st Global Colloquium on Photography & New Media for Youth Empowerment merupakan kegiatan kolaborasi antara Universitas Airlangga, Wisma Jerman, dan Institut Francais Indonesia (IFI). Pembuka kegiatan itu berupa residensi fotografi yang berlangsung pada (2-13/9/2023), di Padepokan Fotografi Bromo, Jawa Timur. Acara berlanjut dengan kegiatan colloquium pada (14-15/9/2023).
Pembuka hari pertama kegiatan colloquium adalah presentasi hasil residensi oleh 6 mahasiswa Eropa dan 6 mahasiswa Indonesia. Mereka menjadi peserta dalam kegiatan tersebut.
Selanjutnya terdapat sesi materi berjudul “Territory, Identity and the Politics of Representation” yang menghadirkan 3 pelaku fotografi dari 3 negara. Ialah Zhuang Wubin (Singapura), Prof Panizza Allmark (Australia), Oscar Motuloh (Indonesia). Ketiga pemateri menyampaikan preferensi dan hasil karya fotografi mereka yang terkait dengan representasi teritorial, identitas, dan politik.
Fotografi sebagai Sarana Menunjukkan “Teritorial”
Penyampai materi pembuka adalah Zhuang Wubin, seorang fotografer asal Singapura. Ia memiliki pengalaman mendokumentasikan kehidupan dan sejarah Tionghoa di Asia Tenggara. Dalam perjalanannya, ia mengabadikan momen tersebut, Wubin mengunjungi Indonesia dan melihat kehidupan Tionghoa yang berkamuflase dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Salah satu narasumber Wubin yaitu Yusuf Bambang Sujanto, pemimpin pertama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur dan merupakan founder dari Cheng Hoo Foundation pada tahun 1995. Ia mengisahkan saat wawancaranya bersama Yusuf Bambang yang menceritakan kehidupan sebagai seorang Tionghoa-Muslim di Indonesia.
Fotografi sebagai Representasi Budaya Patriarki
Selanjutnya, Prof Panizza Allmark, Dosen Visual and Cultural Studies dari Edith Cowan University mengulas mengenai “Photography Feminine An Embodied Awareness, Empathetic Lens and Ethical Intervention in Photography”. Menurutnya, fotografi tidak pernah netral. Ia juga menegaskan bahwa di zaman ini manusia tidak berburu menggunakan senjata tajam, tetapi menggunakan alat bernama kamera.
“Dalam fotografi, perspektif maskulin memerlukan modalitas otoritas kekuasaan dan hal tersebut bertentangan dengan fotografi feminin yang memberikan fokus pada etika, rispek, dan representasi keberagaman suara,” jelasnya.
Selanjutnya, Prof Panizza Allmark banyak menunjukkan mengenai perempuan sering menjadi objek ‘male gazed’ fotografi dan cerita perjuangan menjadi seorang fotografer wanita. Fotografi feminin, lanjutnya, menantang dinamika kekuasaan tradisional sembari meningkatkan kesadaran tentang isu-isu terkait gender.
“Kamera tidak hanya digunakan untuk observasi, tetapi juga sebagai alat untuk berinteraksi,” ungkapnya saat menjelaskan inti dari fotografi feminin.
Penulis: Adinda Aulia Pratiwi
Editor: Nuri Hermawan





