Sida merupakan salah satu marga heterogen dengan jumlah spesies terbanyak di Malveae. Sida adalah sebuah genus dalam famili Malvaceae, subfamili Malvoideae, suku Malveae, dan sub-suku Abutilinae. Genus ini terdiri dari beberapa bagian, antara lain Cordifoliae, Distichifoliae, Ellipticifoliae, Hookerianae, Malacroideae, Muticae, Nelavagae, Oligandrae, Sidae, Spinosae dan Stenindae. Hampir semua spesies Sida dikenal sebagai gulma tahunan atau tahunan yang umum di dataran tinggi dan dataran rendah.
Tercatat 250 spesies Sida yang tersebar di seluruh area tropis dan subtropis. Di Indonesia, Sida hidup di tempat sampah, hutan jati, hutan kelapa, kebun perkebunan kelapa, di pinggir jalan, dan di dekat pantai. pantai. Penelitian taksonomi Sida di Indonesia telah mencatat keberadaan beberapa spesies. Di dalam buku Flora Flora of Java and Malesian Malvaceae Revised mencatat ada dua belas spesies di Jawa, yang meliputi S. acuta, S. balica, S. cordifolia, S. elongata, S. glutinosa, S. javensis, S. mysorensis, S. retusa, S. rhombifolia, S. spinosa, S. subcordata, dan S. veronicaefolia. Sementara van Steenis hanya mencatat S. rhombifolia dan S. acuta di pulau Jawa. Secara umum, Sida dikenal sebagai semak liar dengan tepi daun bergerigi, bunga berwarna kuning, dan buah skizokarpik berwarna kecoklatan. Namun, Sida memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan marga-marga terkait dalam suku Malvaceae.
Umumnya tumbuhan ini digunakan sebagai pengobatan etnomedisin di beberapa negara seperti Brasil, Kolombia, Nigeria, Filipina, Amerika Tengah, dan India. Sida memiliki manfaat untuk mengobati rematik, asma, kelumpuhan wajah, kencing nanah, diare, gigitan ular, dan demam. Tanaman ini juga digunakan untuk pengobatan luka, antiinflamasi, dan penyakit kulit. Dilaporkan juga, Sida digunakan dalam berbagai obat Ayurveda dan etnis. Studi fitokimia yang telah dilakukan mengungkapkan Sida memiliki beberapa metabolit sekunder metabolisme seperti alkaloid, flavonoid, kumarin, ekdisteroid, triterpen, dan tokoferol. Di Indonesia, S. rhombifolia adalah salah satu dari daftar jamu Indonesia dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia program ilmiah.
Taksonomi numerik mengacu pada fenetik yang mencoba mengelompokkan spesies ke dalam taksa yang lebih tinggi berdasarkan kesamaan secara keseluruhan, biasanya dalam morfologi. Fenetik juga merupakan salah satu pendekatan utama dalam klasifikasi biologi selain filogenetik dan kladistik. Karena pengelompokan berbasis morfologi selalu jelas dan mudah dimengerti, taksonomi numerik dapat berfungsi sebagai klasifikasi dasar. Hal ini dapat dilihat karakter apa saja yang berbeda antar takson (OTU) dan juga mengetahui karakter-karakter yang mempengaruhi pengelompokan takson dari suatu tumbuhan.
Tulisan ini mengungkap hal terkait identifikasi hubungan berdasarkan morfologi karakteristik. Sistem klasifikasi kuno, penamaan, identifikasi, dan deskripsi tanaman semuanya didasarkan pada morfologi karakteristik. Hampir semua masalah taksonomi masih diselesaikan dengan menggunakan ciri-ciri morfologi, yang dapat diterapkan pada semua tingkat taksonomi, dari varietas hingga divisi. Dengan demikian, kita dapat mengamati keanekaragaman tanaman dengan lebih mudah. kapasitas untuk mengamati keanekaragaman tanaman dengan lebih mudah merupakan keuntungan lain dari karakteristik morfologi karakteristik morfologi dibandingkan dengan sifat-sifat lainnya. Pengelompokan yang pengelompokan yang dihasilkan menunjukkan yang paling sering kesamaan morfologi yang paling sering terjadi di seluruh taksa, yang mungkin berbeda jika diteliti dengan menggunakan basis lain.
Penelitian Felayati dan Purnobasuki (2023) memperbarui taksonomi terbaru mengenai genus Sida di Indonesia. Fenogram dibuat dengan menggunakan data yang yang berasal dari penilaian 70 ciri morfologi. Di PAST, fenogram dibuat menggunakan analisis klaster, dan Principal Cluster Analysis digunakan untuk menentukan alasan pengelompokan. Cluster pertama menunjukkan pemisahan Sida acuta dari semua OTU pada jarak 0.30. Cluster kedua menunjukkan pemisahan OTU Sida cordifolia dari OTU Sida glutinosa dan OTU Sida mysorensis pada jarak antara 0,20 sampai 0,25. Cluster ketiga menunjukkan pemisahan OTU Sida rhomboidea dari OTU Sida rhombifolia dan OTU Sida alnifolia pada jarak yang mendekati 0,20. Nilai terbesar dari hasil PCA adalah -0,45 dan dimiliki oleh awn tip yang merupakan karakter dari mericarp. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya karakter mericarp untuk mengidentifikasi dan mengapresiasi keanekaragaman genus Sida, terutama di pulau Bali dan Jawa.
Dalam Kesimpulannya, Sida adalah genus yang heterogen dalam famili Malvaceae yang memiliki tujuh spesies di Indonesia. S. acuta, S. rhombifolia, S. alnifolia, S. rhomboidea, S. cordifolia, S. glutinosa dan S. mysorensis memiliki banyak persamaan dan perbedaan morfologi karakteristik. Ketujuh spesies ini adalah anggota dari seksi Sida, Distichifolia, Cordifoliae, dan Nelavaga dibagi menjadi 3 kelompok, dengan mericarp sebagai yang utama alat pembeda yang juga sering berfungsi sebagai alat identifikasi pada tumbuhan ini. Akhirnya, penelitian ini penelitian ini merupakan upaya untuk menyediakan data taksonomi taksonomi terkait Sida spp. berdasarkan karakter morfologi yang karakter morfologi yang diharapkan diharapkan dapat bermanfaat bagi ilmu biosistematika dan taksonomi biosistematika dan taksonomi di Indonesia.
Penulis: Hery Purnobasuki
Sumber: https://jcoagri.uobaghdad.edu.iq/index.php/intro/article/view/1662





