Pandemi COVID-19 telah membawa perubahan besar pada pendidikan di seluruh dunia, termasuk di India. Peralihan cepat menuju pembelajaran daring memaksa semua disiplin ilmu untuk beradaptasi, termasuk pendidikan kedokteran gigi yang menghadapi tantangan unik. Pendidikan kedokteran gigi tidak hanya bergantung pada teori, tetapi juga pada pengembangan keterampilan praktis dan interaksi langsung dengan pasien, yang sulit dicapai melalui pembelajaran daring.
Penelitian internasional menunjukkan bahwa pembelajaran daring memiliki keterbatasan dalam mengembangkan keterampilan teknis penting di bidang kedokteran gigi. Menyadari hal ini, pendidikan kedokteran gigi perlu untuk menekankan pentingnya pembelajaran praktis sebagai bagian inti dari kurikulum. Meskipun begitu, fase pra-klinis sering menggunakan simulasi dengan manekin, menunjukkan potensi pendekatan pembelajaran campuran yang menggabungkan pembelajaran daring dan praktik langsung. Dalam hal ini, platform daring dapat digunakan untuk menyampaikan teori, sehingga waktu di kelas dapat digunakan untuk pengembangan keterampilan praktis.
Sebelum pandemi, digitalisasi dalam pendidikan kedokteran gigi terutama difokuskan pada alat pelatihan praktis seperti CAD/CAM dan teknologi pencetakan 3D. Kuliah tatap muka masih menjadi metode utama untuk penyampaian pengetahuan, dan pembelajaran daring belum banyak dieksplorasi. Namun, pandemi COVID-19 telah mengubah hal ini, mendorong pembelajaran daring menjadi metode utama dalam pendidikan kedokteran gigi.
Perubahan mendadak ini membutuhkan penilaian menyeluruh terhadap dampaknya pada persepsi dan pengalaman mahasiswa serta pengajar kedokteran gigi. Permasalahan yang muncul adalah: “Sejauh mana pandemi COVID-19 memengaruhi persepsi dan tantangan pembelajaran daring di kalangan mahasiswa dan pengajar kedokteran gigi?”
Kolaborasi penelitian yang melibatkan negara India, dimana karakteristik penduduknya mirip dengan Indonesia, diharapkan dapat mengungkap kelebihan, keterbatasan, dan area yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran daring di konteks pendidikan kedokteran gigi. Hasil temuan ini akan membantu dalam pengembangan kurikulum di masa depan, memungkinkan integrasi yang strategis antara pendekatan daring dan tradisional. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan pengalaman pendidikan bagi mahasiswa kedokteran gigi. Dengan memastikan kurikulum yang seimbang yang memanfaatkan keunggulan pembelajaran daring dan luring, kita dapat membekali dokter gigi masa depan dengan pengetahuan dan keterampilan praktis yang diperlukan untuk sukses dalam dunia perawatan kesehatan yang terus berkembang.
Penulis: Prof. Dr. Dian Agustin Wahjuningrum, drg., Sp.KG. Subsp, KE(K)
Link: https://doi.org/10.1186/s12909-024-05340-2
Baca juga: Biaya Ekuitas Sebelum dan Selama Wabah COVID-19 di Indonesia





