Dari laboratorium karantina di Nusa Tenggara Timur, dua bahan yang biasa ada di dapur kita ternyata mampu merusak telur dan membunuh cacing hati sapi. Sebuah temuan kecil yang bisa jadi jawaban besar untuk masalah lama peternak. Bayangkan seekor sapi yang tampak sehat, makan dengan lahap, tetapi diam-diam bobotnya susah naik, produksi susunya menurun, dan hatinya rusak perlahan. Ketika disembelih, hatinya harus dibuang karena tak layak konsumsi. Biang keroknya sering kali adalah makhluk berbentuk daun pipih yang bersembunyi di saluran empedu: cacing hati Fasciola gigantica. Penyakit yang ditimbulkannya, fasciolosis, adalah salah satu penyakit cacing paling merugikan bagi ternak di dunia. Kerugian ekonominya secara global ditaksir mencapai miliaran dolar AS setiap tahun—dari penurunan produktivitas, hati yang dimusnahkan, hingga kematian ternak. Di daerah tropis dan subtropis seperti Asia Tenggara, F. gigantica adalah spesies yang mendominasi. Dan yang membuatnya makin merisaukan: cacing ini juga bisa menular ke manusia. Fasciolosis termasuk penyakit zoonosis yang oleh dunia kesehatan dianggap masih “terabaikan”.
Ketika Obat Mulai Kehilangan Taji
Selama ini peternak mengandalkan obat cacing kimia terutama triclabendazole untuk melawan cacing hati. Masalahnya klasik dan berbahaya: semakin sering dan sembarangan sebuah obat dipakai, semakin pintar parasit menyiasatinya. Laporan tentang cacing yang kebal obat terus bertambah di berbagai belahan dunia. Kalau tren ini dibiarkan, kita bisa sampai pada titik di mana obat yang tersedia tak lagi mempan.
Di sinilah muncul pertanyaan yang mendorong penelitian ini: bisakah kita menemukan senjata alternatif yang lebih ramah lingkungan, lebih murah, dan tidak mudah membuat parasit menjadi kebal? Jawaban yang dicoba oleh para peneliti dari Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, IPB, dan BRIN ini datang dari tempat yang sangat familiar: teh hijau dan kunyit.
Dua Herbal, Dua Cara Kerja
Kenapa dua tanaman ini yang dipilih? Karena masing-masing membawa “amunisi” kimiawi yang berbeda namun saling melengkapi. Teh hijau (Camellia sinensis) kaya akan tanin dan katekin senyawa polifenol yang sudah lama dikenal mengganggu metabolisme parasit, merusak lapisan pelindung tubuhnya, dan membuat telur cacing gagal berkembang. Kunyit (Curcuma longa) menyimpan kurkumin, senyawa berwarna kuning khas yang dilaporkan mampu memicu stress oksidatif, merusak membran sel, dan mengacaukan proses fisiologis penting di dalam tubuh parasit. Gagasannya sederhana tapi cerdas: kalau dua bahan ini digabung, mungkin serangannya jadi berlapis tanin menyerang dari satu sisi, kurkumin dari sisi lain. Inilah yang diuji dalam penelitian.
Bagaimana Percobaannya Dilakukan
Ini penting untuk dipahami: penelitian ini dilakukan di laboratorium (in vitro), bukan langsung pada sapi hidup. Artinya, cacing dan telurnya diuji di dalam wadah, bukan di dalam tubuh hewan. Cacing dewasa dan telur F. gigantica dikumpulkan dari sapi yang secara alami sudah terinfeksi di rumah potong hewan Kabupaten Ende, NTT—jadi tidak ada hewan yang sengaja disakiti untuk penelitian ini. Bahan uji lalu dibagi menjadi enam kelompok:
P0 — larutan garam fisiologis (kontrol negatif, sebagai pembanding “tanpa perlakuan”)
P1 — nitroxynil 10%, obat cacing komersial (kontrol positif,”standar emas” pembanding)
P2 sampai P5 — empat kombinasi teh hijau dan kunyit dengan takaran berbeda, dari yang paling encer hingga paling pekat Kombinasi paling pekat, P5, berisi 0,30% ekstrak teh hijau + 0,24% ekstrak kunyit.
Para peneliti mengamati dua hal: seberapa banyak telur yang rusak setelah 16 hari, dan seberapa cepat cacing dewasa mati pada berbagai rentang waktu (dari 5 menit hingga 320 menit). Mereka bahkan memeriksa tubuh cacing di bawah mikroskop biasa dan mikroskop elektron (SEM) untuk melihat kerusakannya hingga ke permukaan kulit.
Hasilnya: Makin Pekat, Makin Mematikan
Temuannya konsisten dan menjanjikan. Semakin pekat ekstrak dan semakin lama paparannya, semakin besar kerusakannya baik pada telur maupun cacing dewasa.
Pada kelompok paling pekat (P5), rata-rata 94% telur mengalami kerusakan: cangkang pecah, membran hancur, bentuk abnormal, dan gagal berkembang menjadi larva. Angka ini mendekati efek nitroxynil yang merusak 100% telur. Untuk cacing dewasa, ceritanya sedikit berbeda dan justru menarik. Nitroxynil bekerja seperti kilat—membunuh semua cacing hanya dalam 5 menit. Ekstrak herbal jauh lebih lambat memulai serangannya. Tetapi begitu diberi waktu, hasilnya mengejar: pada menit ke-320, seluruh kelompok ekstrak berhasil membunuh 100% cacing. P5 bahkan sudah mencapai 90% kematian pada menit ke-160.
Ketika tubuh cacing diperiksa lebih dekat, terlihat jelas kerusakannya: lapisan pelindung (tegumen) mengelupas, duri- duri di permukaannya bengkak dan rontok, alat pengisapnya (sucker) terkikis, dan usus di dalamnya pecah. Pola kerusakan ini mirip dengan yang ditimbulkan obat kimia—petunjuk kuat bahwa ekstrak herbal menyerang target yang sama.
Cepat vs. Perlahan: Perbedaan yang Wajar
Kenapa herbal lebih lambat daripada obat kimia? Ini bukan kelemahan yang mengejutkan. Obat cacing sintetis biasanya langsung melumpuhkan sistem saraf-otot parasit sehingga efeknya instan. Senyawa dari tumbuhan cenderung bekerja lewat
jalur yang lebih “berputar” mengganggu metabolisme, memicu stres oksidatif, atau merusak membran secara bertahap. Butuh waktu, tapi ujungnya sama: parasit mati.
Yang Perlu Diingat: Ini Baru Langkah Awal
Para peneliti sendiri jujur soal batasannya, dan ini yang membuat penelitian mereka bisa dipercaya: Percobaan ini hanya dilakukan di laboratorium. Kondisi di dalam tubuh sapi yang hidup jauh lebih rumit, jadi hasil ini belum bisa langsung diterapkan ke ternak.
Penelitian ini belum menguji teh dan kunyit secara terpisah dalam percobaan yang sama. Karena itu, klaim bahwa keduanya “bersinergi” belum bisa dipastikan—yang lebih tepat disebut efek gabungan yang saling melengkapi. Kandungan kimia ekstrak belum diukur secara detail (misalnya kadar epigallocatechin gallate dari teh atau kurkuminoid dari kunyit), yang seharusnya dilakukan untuk memastikan konsistensi.
Langkah berikutnya sudah jelas: uji langsung pada hewan hidup (in vivo), pengecekan keamanan dan dosis optimal, serta analisis kimia yang lebih mendalam.
Kenapa Ini Penting untuk Kita
Meski masih tahap awal, arah temuan ini memberi harapan nyata. Teh hijau dan kunyit adalah bahan yang murah, mudah didapat, dan akrab dengan masyarakat kita terutama di daerah dengan peternakan skala kecil, tempat obat komersial mahal atau sulit dijangkau, dan tempat kekebalan obat mulai jadi ancaman. Kalau riset lanjutan membuktikan keampuhannya pada ternak hidup, dua bahan sederhana dari dapur ini bisa menjelma menjadi bagian dari strategi pengendalian cacing hati yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sebuah pengingat bahwa terkadang solusi untuk masalah modern justru sudah lama tersimpan di rak dapur kita.
Artikel ini ditulis sebagai rangkuman populer dari penelitian berjudul “Combined ethanolic extracts of Camellia sinensis and Curcuma longa exhibit ovicidal and anthelmintic activities against Fasciola gigantica under in vitro conditions” (Harini dkk., Veterinary World, 2026). Untuk data lengkap dan metodologi rinci, silakan merujuk pada artikel aslinya.
Penulis: Dr. Nanik Hidayatik, drh.





