UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menghadirkan kegiatan ilmiah dengan menyelenggarakan Hands-On Workshop Teknik Vitrifikasi dan Thawing dalam Mempertahankan Kualitas Embrio. Workshop ini berlangsung pada hari Senin (9/2/2026) di Ruang Tandjung Adiwinata Lt. 2, Gedung FKH Merr-C.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli di bidang reproduksi dan embriologi. Dr Zakiyatul Faizah, dr MKes yang membahas teknologi vitrifikasi dan thawing pada simpan beku embrio. Serta, Dr Maitra DWen SpAnd SubSpFerMClinEmbryol yang menjelaskan peran krioprotektan dalam melindungi embrio selama proses freezing.
Mengenal Teknologi Vitrifikasi dan Thawing sebagai Solusi Mutakhir Simpan Beku Embrio
Dr Zakiyatul Faizah, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sekaligus konsultan International Coaching Federation (ICF), menekankan pentingnya teknologi vitrifikasi dalam reproduksi berbantu. Ia menjelaskan, vitrifikasi merupakan metode pembekuan cepat yang mengubah cairan menjadi kondisi menyerupai kaca tanpa membentuk kristal es yang berpotensi merusak sel, sekaligus menjadi solusi atas kelemahan teknik slow freezing.
Menurutnya, prosedur ini relatif efisien karena hanya memerlukan waktu sekitar 10–15 menit. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada ketepatan penggunaan media, kecepatan penurunan suhu hingga -196°C dalam nitrogen cair, serta keterampilan tinggi dalam manipulasi embrio di bawah mikroskop.
“Tujuan kita membekukan itu adalah membuat sel bisa bertahan hidup untuk kita pakai suatu saat nanti tanpa adanya kerusakan dari kristal es. Vitrifikasi ini membutuhkan skill yang tinggi karena tidak mudah bekerja dengan benda kecil di bawah mikroskop dengan cairan yang pekat,” ungkapnya.
Peran Krioprotektan dalam Mencegah Kristal Es
Dr. Maitra Dewen, spesialis andrologi sekaligus ahli embriologi, menjelaskan bahwa keberhasilan simpan beku sangat bergantung pada efektivitas krioprotektan sebagai pelindung sel. Ia menambahkan, krioprotektan terdiri dari dua jenis, yaitu penetrating seperti ethylene glycol dan DMSO, serta non-penetrating dari golongan gula. Menurutnya, keseimbangan dehidrasi sel dan perlindungan kimiawi menjadi kunci agar embrio tetap viabel setelah dibekukan dalam nitrogen cair.
Dr Maitra menegaskan bahwa pemilihan krioprotektan harus tepat karena setiap embrio memiliki karakteristik dan daya tahan yang berbeda. Ia menekankan pentingnya memahami prinsip biofisika pada media komersial agar tidak terjadi dehidrasi berlebihan yang dapat merusak sel. Selain menjaga viabilitas embrio, inovasi komposisi krioprotektan terus dikembangkan untuk menekan risiko mutasi genetik jangka panjang. Menurutnya, ketepatan pengaturan volume dan durasi paparan media menjadi standar utama dalam menjaga keamanan aset biologis pasien selama proses pembekuan.
“Tugas kita sekarang setelah kita tahu biofisikanya adalah kita mencari keseimbangannya. Bagaimana kita punya krioprotektan yang baik yang bisa menimbulkan dehidrasi tapi tidak sampai merusak sel. Kunci berikutnya adalah bagaimana kita melewati transisi gelas ini supaya tidak terbentuk bunga es,” ujar Dr Maitra.
Penulis: Kania Khansa Nadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





