Universitas Airlangga Official Website

Temuan Cemaran Mikroplastik pada Ikan di Cilacap Jawa Tengah

Melimpahnya sampah di perairan disebabkan oleh aktivitas domestik, industri, dan manusia, seperti alat tangkap ikan yang terbuat dari jaring atau serat plastik yang sengaja dibuang ke laut (Lestari, Haeruddin, dan Jati, 2021). Sampah plastik membutuhkan waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk dapat terurai melalui proses fisika, kimia, mekanik, dan fotolitik (Barnes dkk., 2009; Eriksen dkk., 2014).

Menurut Woodall dkk. (2014), karena adanya proses fisik yaitu adanya arus dan sinar matahari, sampah plastik yang ada di dalam air lambat laun akan terurai menjadi mikroplastik. Oleh karena itu, mikroplastik didefinisikan sebagai fragmen yang berasal dari deskripsi sampah plastik yang berukuran <5 mm dan tidak dapat larut dalam air (Hiwari et al., 2019). Mereka ditemukan di lingkungan dan tubuh organisme. Karena ukurannya yang kecil, mikroplastik sering disalahartikan sebagai makanan dan tertelan oleh berbagai organisme, seperti ikan, vertebrata, burung, dan mamalia laut (Cole dkk., 2011; Rochman dkk., 2015; Terepocki dkk., 2017).

Mikroplastik yang tertelan sangat berbahaya dan dapat menyumbat saluran pencernaan ikan. Partikel-partikel yang mengendap di sedimen juga dapat dikonsumsi oleh ikan bentik yang hidup di dasar perairan (Rijal, Annisa dan Firda, 2021). Sedangkan yang mencemari tubuh ikan yang dikonsumsi oleh manusia tentunya akan menimbulkan bahaya (Rijal, Annisa dan Firda, 2021). Masuknya mikroplastik dapat menjadi racun bagi tubuh dan menyebabkan berbagai kerusakan fisik pada sel manusia (Barboza et al., 2018).

Penelitian ini, yang difokuskan di Tempat Pelelangan Ikan Lengkong, Cilacap, meneliti keberadaan mikroplastik pada ikan yang dikonsumsi secara lokal. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan, kelimpahan, dan kategori mikroplastik pada ikan komersial yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan Lengkong, Cilacap.

Berdasarkan hasil dan pembahasan, kami menemukan mikroplastik pada saluran pencernaan empat spesies ikan komersial dan dominan yang digunakan sebagai objek penelitian, yaitu ikan tongkol (E. tetradactylum), ikan selar (N. japonicas), ikan kembung (Rastrelliger sp), dan ikan tongkol (T. lepturus) dengan frekuensi kemunculan 100%. Kelimpahan mikroplastik dalam saluran pencernaan ikan relatif tinggi, dengan kisaran nilai 12 ± 2,86 hingga 28,33 ± 8,11 partikel∙ind-1. Empat jenis utama mikroplastik teridentifikasi, yaitu film, serat, fragmen, dan butiran, dengan film mendominasi.

Tujuh warna yang ditemukan adalah transparan, ungu, hitam, biru, hijau, coklat, dan kuning, dengan warna mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah transparan. Polimer yang ditemukan juga bervariasi, yaitu PS, nilon, ABS, PU, PP, HDPE, dan LDPE. Studi ini menunjukkan bahwa spesies ikan berbeda dalam mengakumulasi mikroplastik karena perbedaan pola makan, strategi makan, dan habitat. Secara umum, predator pelagis mengumpulkan lebih sedikit plastik daripada spesies ikan bentik.

Konfirmasi konsumsi plastik oleh empat spesies ikan yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan Lengkong memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman kita tentang masalah pencemaran plastik di lingkungan laut. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dampak mikroplastik terhadap kesehatan ikan-ikan ini, serta kemungkinan terjadinya biomagnifikasi.

Penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono

Tulisan lengkap pada link: https://journals.pan.pl/dlibra/show-content?id=128408

Hidayati, N. V., Rachman, F. O., Hidayat, R. R., Meinita, M. D., Husni, I. A., Andriyono, S., & Sanjayasari, D. (2023). Microplastics contamination in commercial fish landed at Lengkong Fish Auction Point, Central Java, Indonesia. Journal of Water and Land Development, 70-78.