Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Awal mula munculnya penyakit ini diketahui dari adanya laporan kasus pneumonia misterius yang tidak diketahui penyebabnya pada tanggal 31 Desember 2019 di Tiongkok. Dalam kurun waktu 3 hari, pasien dengan kasus tersebut mencapai 44 pasien dan terus bertambah hingga saat ini berjumlah jutaan kasus. Pada awalnya data epidemiologi menunjukkan 66% pasien terpajan virus ini di suatu pasar hewan dan seafood di Wuhan, Provinsi Hubei Tiongkok. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemic. Selanjutnya pada bulan Maret 2020 COVID-19 pertama kali dilaporkan di Indonesia.
Diabetes mellitus (DM) dikenal sebagai salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan derajat keparahan dan mortalitas akibat COVID-19. Hal ini disebabkan oleh adanya disfungsi sistem kekebalan tubuh pada pasien dengan diabetes mellitus, terutama yang pada kelompok tidak terkontrol. Hiperglikemia memengaruhi imunitas bawaan dengan menghambat produksi interferon tipe I yang memiliki sifat antivirus. Hiperglikemia juga mengganggu kemotaksis neutrofil, fagositosis, degranulasi, dan meningkatkan stress oksidatif. Pada penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol juga terjadi gangguan fungsi limfosit-T yang menyebabkan kerusakan pada system imunitas adaptif.
Pasien COVID-19 dengan diabetes lebih sering dikaitkan dengan tingkat keparahan yang berat atau kondisi kritis yang bervariasi dari 14-32% dalam penelitian yang berbeda. Suatu penelitian terkait karakteristik pasien COVID-19 di Wuhan menemukan prevalensi diabetes mellitus pada 2-20% kasus konfirmasi COVID-19 dan ditemui pada 7,1% dari total kasus COVID-19 yang membutuhkan perawatan intensif di ICU. Pada beberapa penelitian dilaporkan bahwa prevalensi diabetes mellitus sebesar lebih kurang 20% pada kasus terkonfirmasi COVID-19 di Cina. Studi lain yang serupa dilakukan terhadap 5.700 pasien rawat inap dengan COVID-19 mendapatkan bahwa sebanyak 1.808 pasien (33,8%) memiliki komorbid diabetes mellitus, 3.026 pasien (56,6%) memiliki komorbid hipertensi, dan sebanyak 1.737 pasien (41,7%) dengan obesitas.
Pusat Pencegahan dan pengendalian penyakit Cina (CDC China) melakukan analisis case cohort terhadap 70.000 pasien COVID-19 dan melaporkan angka kematian sebesar 2,3% pada nondiabetes mellitus dan meningkat menjadi 7,3% pada pasien COVID-19 dengan diabetes mellitus. Berdasarkan hasil penelitian oleh Pusat Pencegahan dan pengendalian penyakit Amerika Serikat (CDC USA) terhadap 7.162 pasien COVID-19 didapatkan prevalensi diabetes mellitus pada kelompok pasien rawat jalan sebesar 6%, pada kelompok rawat inap non-ICU sebesar 24%, dan pada kelompok rawat inap ICU sebesar 32%. Berdasarkan hasil penelitian lain pada kasus COVID-19 di Indonesia, diketahui bahwa diabetes melitus menduduki peringkat kedua sebagai komorbid terbanyak dengan persentase sebesar 33,6%. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Indonesia, per bulan Mei 2021 diketahui prevalensi diabetes mellitus sebagai komorbid COVID- 19 sebesar 36,6%.
Penelitian yang dilakukan pada pasien COVID-19 dengan komorbid diabetes mellitus di Rumah Sakit Lapangan KOGABWILHAN II Surabaya menunjukkan terapi antidiabetes yang didapatkan oleh pasien sebagai berikut: terapi tunggal yang paling banyak digunakan adalah glimepiride 2 mg yang digunakan oleh 32 pasien (30.19%), metformin 500 mg digunakan oleh 12 pasien (11.32%), dan metformin 850 mg digunakan oleh 2 pasien (1.89%). Terapi kombinasi dua antidiabetes oral yang paling banyak digunakan adalah kombinasi metformin 500 mg dan glimepiride 2 mg, digunakan oleh 14 pasien (13.21%). Terapi kombinasi insulin kerja cepat dan insulin basal juga menjadi salah satu pilihan terapi yang digunakan, seperti kombinasi Insulin glulisine dan insulin detemir, digunakan oleh 11 pasien (10.38%) menjadi terapi insulin kombinasi yang paling banyak digunakan.
Metformin sebagai lini pertama pengobatan diabetes mellitus, sebelumnya diketahui memiliki efek antiproliferatif dan imunomodulasi. Bukti terbaru menunjukkan bahwa pemberian metformin pada pasien diabetes mellitus dengan COVID-19 terbukti aman dan mungkin menguntungkan. Metformin diduga memiliki kemampuan meningkatkan respon imun dengan menginduksi perubahan adenosine monophosphate (AMP) menjadi AMP activated protein kinase (AMPK). Metformin juga menginduksi autofagi, pembentukan makrofag M2 dan sel T memori CD8, dan menurunkan ekspresi gen yang mengkode kemokin dan sitokin. Metformin juga diduga memiliki efek antioksidan dengan mempengaruhi katalase dan superoxide dismutase. Penelitian lainnya menunjukkan kelompok pasien diabetes mellitus dengan kadar gula darah terkontrol (39% anggota menerima metformin) menunjukkan penurunan semua penyebab kematian yang signifikan dibandingkan dengan kelompok tidak terkontrol dengan diabetes (26% anggota menerima metformin). Kelompok metformin memiliki kadar albumin yang lebih tinggi secara signifikan dan kadar IL-6 yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok non-metformin. Tingkat kematian selama rawat inap yang lebih rendah juga diamati pada kelompok metformin, dibandingkan dengan kelompok non-metformin.
Penggunaan insulin disertai dengan monitoring glukosa yang konstan menjadi terapi pilihan utama untuk kondisi hiperglikemia pada kasus rawat inap. Regimen intensif dengan kombinasi insulin basal dan prandial merupakan terapi terbaik untuk pasien non kritis di rumah sakit dengan intake nutrisi oral yang baik ataupun buruk, untuk dapat mencapai target glukosa darah yang direkomendasikan. Terapi insulin pada pasien diabetes mellitus yang terinfeksi COVID-19 tetap harus dilanjutkan dan untuk dosis insulin disesuaikan dengan status kontrol glikemik, resiko hipoglikemia, severitas infeksi dan terapi lain yang sedang digunakan. Kadar serum kalium sebaiknya selalu dimonitor pada semua pasien COVID-19 yang menggunakan insulin, karena infeksi SARS-CoV-2 dapat menurunkan kadar kalium, dan memperburuk kondisi hipokalemia akibat insulin, melalui penekanan ekspresi ACE2, yang menyebabkan peningkatan kadar angiotensin II, yang selanjutnya diikuti dengan hiperaldosteronisme yang pada akhirnya akan meningkatkan eksresi kalium melalui ginjal.
Penulis: Didik Hasmono, Drs., MS
Jurnal: Antidiabetic drug profile of COVID-19 patients with comorbid diabetes mellitus





