Cidera mallet finger dikatakan kronis jika cidera lebih dari 4 minggu. Terapi awal yang paling sering digunakan untuk cidera ini adalah splinting, baik untuk cidera mallet finger yang melibatkan jaringan lunak saja ataupun yang melibatkan tulang. Terapi awal ini dapat digunakan untuk cidera yang terjadi dalam 8 minggu pertama tanpa adanya deformitas yang menetap. Terapi awal lain yang dapat digunakan adalah fiksasi sementara dengan K-wire. Terapi-terapi ini masih dapat meninggalkan sekuele atau gejala sisa berupa extensor lag dan adanya benjolan pada sisi dorsal jari. Jika terapi awal gagal, terdapat extensor lag lebih dari 40o, deformitas sekunder, dan gangguan fungsional, maka tindakan operasi diindikasikan untuk menangani cidera ini. Ada banyak jenis tindakan operasi untuk mengatasi mallet finger kronis, namun jika terdapat extensor lag lebih dari 45o, deformitas swan neck sekunder, atau kasus kronis dengan tendon ekstensor yang sudah tidak dapat dijathitkan lagi, maka ini merupakan indikasi untuk dilakukan rekonstruksi SORL. Sudah ada beberapa modifikasi SORL yang telah dipublikasikan namun masih dapat menimbulkan komplikasi berupa nekrosis kulit. Oleh karena itu, artikel ini menunjukkan serial kasus dengan teknik modifikasi SORL yang dapat mencegah terjadinya resiko nekrosis kulit pada cidera mallet finger dengan deformitas swan neck.
Serial kasus ini terdiri dari 2 pasien laki-laki dan 1 pasien wanita dengan cidera mallet finger kronis dengan rata-rata extension lag distal interphalang (DIP) 66,6o disertai deformitas swan neck yang dikerjakan dengan teknik rekonstruksi SORL modifikasi. Dua pasien mengalami kasus neglected dimana cideranya tidak pernah mendapatkan terapi. Satu pasien mengalami rekurensi deformitas mallet setelah dilakukan tendon plikasi dan fiksasi dengan k-wire. Rata-rata waktu dari cidera ke operasi adalah 16,67 bulan (2-24 bulan). Rata-rata usia 34 tahun (20-54 tahun). Semua pasien adalah dominan tangan kanan. Pemeriksaan radiologis sebelum operasi menunjukkan tidak ada tanda subluksasi, arthrosis sendi, ataupun sinostosis dan sendi interphalang. Pasien diikuti dan dievaluasi dengan rata-rata waktu follow up 15,3 bulan (9-24 bulan).
Teknik operasi yang dilakukan untuk rekonstruksi SORL modifikasi pada pasien dengan mallet finger kronis ini menggunakan approach dari sisi dorsal dengan sayatan berbentuk S yang melewati sendi distal interphalang (DIP). Sayatan kedua dibuat pada phalang proksimal di sisi yang berlawanan dengan akhir sayatan berbentuk S yang pertama, yaitu di sisi radial pada mid aksial phalang proksimal. Setelah itu, graft yang dipersiapkan untuk rekonstruksi dipersiapkan dari tendon palmaris longus yang telah dibersihkan dari sisa-sisa otot yang melekat. Salah satu dari ujung tendon palmaris longus yang telah dilepaskan dari insersi dan ototnya kemudian dijahit dengan benang braided non-absorbable dengan Teknik Krackow untuk mempermudah memasukkannya ke dalam lubang di basis phalang distal yang merupakan bekas tempat insersi tendon terminal ekstensor. Kedua ujung sisa dari benang dibuat sama panjang dan masing-masing ujung benang dimasukkan ke dalam jarum. Kemudian pembuatan lubang (tunnel) pada basis distal phalang menggunakan k-wire 2.0 tegak lurus dengan permukaan tulang. Ujung tendon yang telah dijahit, dimasukkan ke dalam lubang pada distal phalang ini dengan memasukkan kedua benang dalam llubang tersebut, dan menembuskan ke kulit sisi volar dengan jarum dari benang tersebut. Setelah benang berada diluar kulit sisi volar, benang dimasukkan ke dalam kancing dan kemudian disimpul. Antara kancing dan kulit harus diberi padding untuk membantu mencegah nekrosis kulit. Kemudian ujung lain dari tendon palmaris longus dilewatkan melalui tunnel jaringan lunak ke arah volar dan proksimal menuju ke area sayatan kedua di sisi radial. Lubang (tunnel) tulang kedua dibuat pada area basis phalang proksimal searah permukaan tulang menggunakan k-wire 2.0. Ujung tendon yang telah dikeluarkan pada sayatan kedua di phalang proksimal dibagi menjadi 2 bagian sama besar secara longitudinal. Satu bagian ujung tendon dimasukkan ke lubang (tunnel) tulang dan diputar kembali ke dorsal melalui bawah area tendon ekstensor menuju ke area sayatan kedua dan dijahitkan pada ujung tendon lainnya secara puvertaft setelah ketegangan tendon disesuaikan sehingga didapatkan posisi yang diinginkan.
Hasil operasi dari ketiga pasien dengan mallet finger kronis menunjukkan hasil yang baik. Hal ini ditandai dengan rata-rata ruang gerak sendi proximal interphalang (PIP) 1.6o (rentang 0-5o) ekstensi dan 110o (rentang 100-120o) fleksi. Rata-rata ruang gerak sendi DIP 1.6o (rentang 0-5o) ekstensi dan 83,33o (rentang 80-85o) fleksi. Semua deformitas swan neck juga terkoreksi. Beberapa teknik telah diperkenalkan untuk mengatasi mallet finger kronis, namun teknik sebelumnya justru dapat membuat keterbatasan gerak fleksi pada DIP dan bahkan menjadi deformitas boutunniere. Salah satu teknik untuk mengatasi mallet finger kronis ini adalah Fowler’s technique, yaitu dengan cara tenotomy pada central slip untuk menambah ekstensi DIP dan mengurangi hiperekstensi PIP, namun teknik ini tidak efektif untuk extension lag yang melebihi 36o. Teknik rekonstruksi selanjutnya adalah SORL yang pertama kali diperkenalkan Thompson tahun 1978 yang secara simultan mengurangi extension lag DIP dan mengurangi hiperekstensi PIP tanpa membuat jaringan parut pada mekanisme ekstensor dan tanpa mengurangi ruang gerak sendi PIP dan DIP. Konsep dinamis dengan memasukkan tendon graft secara spiral dan memfiksasinya pada lubang di tulang membuat gerakan PIP dan DIP menjadi terkoordinasi. Ada efek tenodesis yang didapatkan, dimana saat PIP ekstensi, maka SORL akan lebih tegang dan dapat membuat sendi DIP ekstensi. Namun teknik tersebut masih memiliki kemungkinan terjadinya komplikasi nekrosis kulit. Teknik modifikasi yang kami lakukan ini dapat mengurangi terjadinya nekrosis kulit dengan sayatan yang lebih kecil dan fiksasi jahitan berada di dalam kulit sehingga juga dapat mengurangi resiko infeksi.
Oleh: Heri Suroto, Dina Aprilya, Tabita Prajasari, Andre Bayu Nugraha
Judul Artikel: Treatment of chronic mallet finger with swan neck deformity using a modified Spiral Oblique Retinacular Ligament (SORL) reconstruction procedure: A case series and technical note.
Dipublikasikan di: International Journal of Surgery Case Reports
Link: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2210261223000536





