Rehabilitasi adalah terapi yang diberikan pada seseorang dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup, performa, dan tingkat kesehatan. Rehabilitasi sering di gunakan untuk mengatasi kasus cedera pada anggota tubuh, penyakit stroke, hingga mengatasi ketergantungan pada berbagai zat additive. Sindrom Pasca COVID-19 merupakan gejala membandel yang dialami oleh para pasien COVID-19 hingga 2 bulan setelah infeksi COVID-19 sembuh. Kondisi ini dapat menggangu keseharian hingga menurunkan kualitas hidup dari pasien. Gejala yang umum dialami antaralain adalah: demam, sesak nafas, nyeri tenggorokan, batuk kering, dan nyeri pada dada. Sindrom Pasca COVID-19 ini juga dapat mempengaruhi berbagai macam organ di tubuh, serta dapat kambuh sewaktu waktu (Jones et al., 2021). Menurut WHO kurang lebih 200 juta penduduk dunia telah menderita permasalahan kesehatan yang membandel akibat dari infeksi COVID-19 (Chen et al., 2022). Oleh karena itu Rehabilitasi dibutuhkan dalam mengatasi Sindrom Pasca COVID-19.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Hallek et al. (2023), gejala yang dapat timbul meliputi sesak napas, batuk persisten, eksaserbasi asma, nyeri dada atipikal, aritmia, takikardia, kantuk, kelelahan, gangguan memori/konsentrasi, berbagai perubahan psikiatri, kelemahan otot, mialgia, penurunan laju filtrasi glomerulus, flebitis, dan gejala lainnya. Beberapa pasien bahkan mengalami gejala seperti batuk persisten, sesak napas saat aktivitas fisik, dan nyeri otot yang berlanjut selama berbulan-bulan. Komplikasi seperti fibrosis paru dan penyumbatan vaskular paru-paru juga mungkin terjadi akibat peradangan fase akut (ARDS) dan peradangan yang menghasilkan perubahan mikroangiopatik, edema, yang memperburuk hasil klinis. Imobilisasi jangka panjang juga dapat menyebabkan efek samping fisik yang kurang umum seperti cedera tekanan, kontraktur miogenik, neurogenik, dan iatrogenik, ketidakstabilan postur, tromboemboli vena, pemendekan otot, dan penurunan kondisi kardiorespirasi.
Rehabilitasi fisik menjadi salah satu terapi yang dapat meningkatkan fungsi, dan performa dari otot pada anggota gerak dan otot pada organ pernafasan, serta dapat meningkatkan fungsi kardiovaskuler yang nantinya akan meningkatkan kualitas hidup serta tingkat kesehatan dan kebugaran dari pasien. Metode yang digunakan dalam rehabilitasi fisik ini antaralain adalah: Latihan pernafasan, Latihan aerobic, Latihan angkat beban, dan kombinasi dari ketiga Latihan tersebut (jimeno-Almazan et al., 2023). Terapi fisik dapat membantu mengurangi gejala yang timbul dengan mengurangi produksi sitokin proinflamasi dan meningkatkan produksi sitokin antiinflamasi. Terapi fisik juga dapat memengaruhi komposisi serat otot, sintesis perakitan kontraksi aktin dan miosin, serta meningkatkan koordinasi antar otot melalui latihan beban rendah, keseimbangan, dan koordinasi (Maestroni et al., 2020; Pinckard, Baskin, dan Stanford, 2019).
Efek dari infeksi COVID-19 dan Sindroma Pasca COVID-19 tak hanya menyerang pada fisik dari seseorang, namun kondisi psikis dari individu tersebut juga menerima dampak yang sama. Dilansir dari penelitian sebelumnya efek pada psikis yang umum terjadi terjadi pada pasien adalah ansietas, gangguan tidur, hingga depresi. Hal ini dapat disebabkan oleh kombinasi dari mekanisme biologis dan psikologis yang berlangsung Ketika pasien mengidap Sindrom Pasca COVID-19 (Najjar et al., 2020; Premraj et al., 2020). Untuk mengatasi hal tersebut rehabilitasi dengan intervensi psikologis sangat dianjurkan, metode terapi yang dapat digunakan dalam kasus ini adalah terapi Othmer, dan Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Metode ini telah terbukti untuk mengontrol mood, serta mencegah terjadinya stress psikis seperti ansietas dan depresi (Orendáčová, Kvašňák, dan Vránová, 2022).
Gejala neurologis seperti nyeri kepala, kehilangan kemampuan perasa pada lidah, dan kehilangan kemempuan untuk membau pada hidung menjadi tiga gejala neurologis yang marak terjadi di kalangan pasien dengan Sindrom Pasca COVID-19. Hal ini dipicu oleh sistem pembuluh darah dan saraf yang terganggu akibat dari infeksi COVID-19 (Nuwer, 2020). Dari penelitian yang dilakukan oleh Lamontagne et al. (2021) terbukti bahwa terapi neuorogis dapat mengatasi gangguan yang terjadi pada pembuluh darah akibat dari infeksi COVID-19, lalu dalam penelitian lain terapi ini dapat membantu masalah dalam system saraf hingga membantu meningkatkan daya ingat serta focus dari pasien (Laura et al., 2022).
Berdasarkan penjelasan diatas rehabilitasi merupakan pilihan pengobatan alternatif yang layak bagi pasien PCS. Dalam memilih terapi alternatif untuk pasien Sindrom pasca COVID-19, sejumlah faktor harus dipertimbangkan, seperti kondisi psikososial pasien, efektivitas biaya terapi alternatif, dan kondisi klinis yang muncul pada pasien. Hal ini harus dipertimbangkan agar para tenaga kesehatan dapat mengidentifikasi dan menawarkan terapi alternatif yang sesuai untuk mengobati gejala pasien PCS seefektif mungkin.
PENULIS: Bambang Haryo Tri Satya Wahyono, Maftuchah Rochmanti
Detail tulisan lengkap dapat dilihat:
Bambang Haryo Tri Satya, Wahyono, & Maftuchah, Rochmanti (2023). Rehabilitation as an alternative therapy for Post COVID-19 Syndrome (PCS). International Journal of Research Publications, volume 139(1). https://doi.org/10.47119/IJRP10013911220235812





