UNAIR NEWS – Tujuh Mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), Universitas Airlangga (UNAIR) mengikuti program Student Outbound di Universitas Malaysia Sabah (UMS). Kegiatan itu berlangsung selama 2 hari pada Rabu-Kamis (22-23/10/2025). Delegasi itu terdiri dari Najmi Ebqory Farrail Al-Ilmy, Mutiara Pinastika Hadi Ikhsani, Najwa Hariza Fariha, Aretha Rut Novenia Sitorus, Almisa Amalia Aziz Syafa, Salsabiila Ramadhani dan Matthew Allen Wibowo.
Eksplorasi dan Kunjungan yang Mengubah Cara Pandang
Salsabiila Ramadhani menjelaskan bahwa kegiatan hari pertama diawali dengan pembahasan Memorandum of Understanding (MoU) antara FPK UNAIR dan Borneo Marine Research Institute (BMRI). Dilanjutkan tour hatchery untuk melihat budidaya ikan kerapu dan ikan kakap dan mengunjungi akuarium buatan dan laboratorium milik UMS. Hari Kedua diisi dengan pengabdian masyarakat di Desa Lingkar Timur, Kota Belud (desa binaan UMS). Usai kegiatan, delegasi berkunjung ke Pasar Kota Belud, Pasar Filipina, dan Pusat Perbelanjaan di Kota Kinabalu untuk mengenal budaya lokal.
Menurutnya, program itu berfokus pada peninjauan fasilitas riset di UMS yang membuka pandangan baru terkait prospek karier di bidang perikanan dan kelautan. “Awalnya saya kira cukup memahami proses pengolahan bahan baku saja. Namun, setelah melihat bukti konkrit bahwa biota laut berpotensi menjadi riset inovatif dan aplikatif, saya semakin tertarik untuk riset di sini dan berkarier menjadi researcher,” jelasnya.
Baginya, momen paling berkesan adalah saat membantu dosen dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang menumbuhkan rasa bangga sebagai perwakilan UNAIR sekaligus memperluas wawasan akademik. “Mahasiswa S2 di sana hanya fokus riset. Untuk meraih cumlaude, mereka wajib publikasi jurnal Scopus. Bagi saya, program ini meningkatkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi, memperkaya ilmu, dan menumbuhkan sikap pentingnya menghargai budaya Malaysia,” lanjutnya.
Peluang Riset dan Kolaborasi Global
Sementara itu, Matthew Allen Wibowo menuturkan bahwa fasilitas laboratorium UMS sangat modern dan lengkap. “Peralatannya modern dan lengkap, didukung dengan lingkungan asri dan sumber daya manusia yang sangat kompeten,” tuturnya.
Matthew menilai program ini memperkaya perspektif tentang pentingnya kerja sama internasional dalam membuka peluang kolaborasi riset antara FPK UNAIR dan UMS. “Pengalaman lintas negara ini menjadi investasi penting bagi mahasiswa di era global. Mahasiswa dapat menambah wawasan global, bertukar pikiran, dan memperluas jejaring global di masa depan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Matthew mengaku sempat menghadapi tantangan karena belum familiar dengan wilayah Sabah. “Saya menyesuaikan diri dengan memanfaatkan google maps dan bertanya langsung kepada warga setempat,” tambahnya.
Matthew berharap bahwa kerja sama antara FPK UNAIR dan UMS dapat terus berlanjut dan berkembang ke arah yang lebih luas. “Semoga ke depannya ada program double degree agar mahasiswa dapat merasakan pengalaman belajar di luar negeri. Kerja sama ini bukan hanya sekedar sarana pertukaran akademik, melainkan jembatan persahabatan antara dua negara serumpun,” pungkasnya.
Penulis: Bethari Sri Indrajayanti
Editor: Khefti Al Mawalia





