Universitas Airlangga Official Website

The Effect of Green Tea with EGCG Active Compound in Enhancing the Expression of M2 Microglia Marker

Foto oleh Femina

Stroke adalah penyebab kematian nomor dua dan penyebab kecacatan nomor tiga di dunia. Insiden stroke meningkat tajam, dengan 5-12 per 1.000 penduduk. Prevalensi stroke meningkat dua kali lipat di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Stroke juga memiliki dampak ekonomi yang cukup besar, karena stroke akan menurunkan angka produktifitas manusia dan pengobatan serta perawatan akibat stroke juga memerlukan biaya.

Stroke memiliki berbagai macam jenis, salah satunya dinamakan sebagai stroke iskemik. Stroke iskemik merupakan jenis stroke paling umum, terhitung sekitar 87% dari semua kasus stroke. Stroke iskemik terjadi akibat otak kekurangan pasokan darah yang mengandung oksigen. Hal ini bisa diakibatkan oleh adanya sumbatan pada pembuluh darah yang mengalir ke otak.

Lini pertahanan pertama sistem imun terhadap cedera otak adalah mikroglia. Segera setelah otak mengalami stroke, mikroglia dengan cepat pergi ke lokasi cedera untuk memulai pelepasan zat dan merekrut sel imun lainnya. Mikroglia juga memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk dan fungsinya. Mikroglia yang telah diaktifkan akan melepaskan berbagai zat yang dapat membuat kerusakan sel menjadi semakin parah, atau sebaliknya, menghasilkan zat yang menciptakan kondisi optimal untuk terjadinya perbaikan sel.

Ada suatu zat yang dinamakan CD206, yang peningkatannya akan ditampilkan sebagai respons terhadap peningkatan kadar mikroglia, khususnya mikroglia yang berfungsi untuk mengurangi peradangan otak, sehingga memberikan kondisi yang optimal untuk proses penyembuhan otak. Mikroglia dengan sifat tersebut dinamakan M2. Mikroglia M2 dapat menghambat peradangan, meningkatkan perbaikan dan penyembuhan jaringan, dan berperan dalam pembentukan sel saraf baru serta dalam perbaikan fungsional otak. M2 juga dapat membantu perbaikan jaringan, proses pembentukan kembali sel baru setelah rusak, dan mendukung proses penyembuhan luka.

Salah satu pengobatan stroke adalah dengan memberikan obat yang berfungsi untuk menghilangkan sumbatan pembuluh darah sehingga otak dapat kembali menerima aliran darah dan pasokan oksigen. Contoh obat tersebut adalah trombolisis yang mana merupakan satu-satunya obat yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA). Akan tetapi, kemanjuran dan keamanan obat tersebut terbatas karena batas waktu pemberian trombolitik  sempit; dengan demikian, hanya beberapa pasien stroke akut yang dapat menerimanya.

Teh hijau adalah minuman paling umum kedua di dunia setelah air, dan konsumsinya telah lama dikaitkan dengan manfaat kesehatan. Teh hijau merupakan sediaan dengan bahan aktif baik yang melimpah, termasuk suatu zat yang dinamakan epigallocatechin-3-gallate (EGCG). Di antara banyak jenis teh, teh hijau memiliki jumlah bahan aktif terbanyak dan jumlah kafein paling sedikit. Teh hijau mengandung EGCG yang melimpah. EGCG dapat menembus masuk kedalam otak. Kemampuan tersebut membuat teh hijau dengan bahan aktif EGCG menarik perhatian banyak peneliti.

EGCG bertindak sebagai zat anti peradangan. Hal ini menjadi penting, karena ada tidaknya zat peradangan merupakan faktor yang membuat mikroglia berubah fungsinya, apakah menjadi perusak (Mikroglia ini dinamakan sebagai M1) atau menjadi pembantu dalam perbaikan otak (M2). Dan ternyata secara teoritis, EGCG telah diketahui mampu menurunkan produksi zat radang, hal itu akan mencetuskan peningkatan produksi zat anti radang sehingga menciptakan suasana yang mendukung dalam perubahan bentuk dan fungsi mikroglia kedalam tipe yang menguntungan (M2). Untuk membuktikannya, kita bisa mengamati kadar CD206 sebagai penanda M2, yang mana seharusnya EGCG dapat membantu peningkatan ekspresi CD206 dan menurunkan zat yang dapat menghambat CD206.

Kami mengadakan penelitian pada hewan yaitu tikus, yang mana memiliki karakteristik otak mirip  manusia. Tikus dibuat dalam kondisi stroke, kemudian kami memasukkan ekstrak teh hijau melalui mulut tikus selama 7 hari.  Tikus yang dipilih memiliki kriteria yaitu sehat, berusia 4 bulan, dengan berat badan 175–225 g (kami memperoleh tikus dari pusat pembibitan Universitas Gadjah Mada, Indonesia). Tikus mendapatkan kondisi lingkungan kandang yang baik dengan akses bebas untuk makanan dan minumannya. Kami melakukan semua prosedur percobaan sesuai dengan standar etika yang telah disetujui oleh pedoman Komite Etik Hewan, Universitas Airlangga, Indonesia.

Kami membagi tikus secara acak menjadi enam kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (Sham), kelompok kontrol positif (P0), tikus stroke yang diberi EGCG 10 mg/kg BB (P1), EGCG 20 mg/kg BB (P2), EGCG 30 mg/kg BB (P3), dan diberi ekstrak teh hijau terstandarisasi sebanyak 10 mg/kg BB (P4). Kadar CD206 yang ingin diamati akan diukur menggunakan metode imunohistokimia.

Berdasarkan hasil temuan yang kami lakukan, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian teh hijau dengan senyawa aktifnya yaitu EGCG terhadap peningkatan kadar CD206. Hubungan ini juga menunjukkan bahwa peningkatan dosis EGCG atau ekstrak teh hijau terstandar akan semakin meningkatkan kadar CD206. CD206 sendiri memiliki peran dalam menyelesaikan peradangan dengan membersihkan zat radang dari darah, yang dibuktikan dengan kurangnya CD206 akan meningkatkan kadar zat radang.

Selain itu, hasil penelitian kami sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zhang et al. Oleh karena itu, hasil analisis data menunjukkan bahwa teh hijau dengan senyawa aktif EGCG meningkatkan ekspresi CD206 sebagai penanda M2 pada tikus model stroke. Penelitian kami memiliki kelebihan bahwa faktor-faktor bias yang mempengaruhi hasil penelitian dapat dikendalikan karena penelitian kami bermodel desain eksperimental uji coba. Keterbatasan penelitian kami adalah hasil penelitian yang menggunakan hewan coba tidak bisa memberikan gambaran yang sama secara akurat dengan mekanisme yang terjadi pada manusia.

Penulis: Abdulloh Machin, dr., Sp.S.

Link: https://read.qxmd.com/read/35532615/the-effect-of-green-tea-with-egcg-active-compound-in-enhancing-the-expression-of-m2-microglia-marker-cd206