Universitas Airlangga Official Website

Tidur yang Cukup, Berat Badan Sehat: Apa yang Terjadi pada Remaja yang Kurang Tidur?

Ilustrasi riset penelitian (Foto: Jurnal sumber)

Tidur bukan hanya waktu untuk beristirahat, tetapi juga merupakan bagian penting dari proses pemulihan tubuh. Saat kita tidur, hormon-hormon penting bekerja untuk memperbaiki jaringan, menyeimbangkan metabolisme, dan menjaga daya tahan tubuh. Sayangnya, banyak remaja masa kini yang menganggap tidur sebagai hal sepele — padahal, durasi tidur yang tidak sesuai anjuran dapat berdampak besar terhadap kesehatan mereka.

Sebuah penelitian menarik dari tim peneliti Universitas Airlangga yang dipublikasikan di Media Gizi Indonesia (2025) mengupas hubungan antara lama tidur, ukuran tubuh, dan sindrom metabolik pada remaja yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Penelitian ini dilakukan di Surabaya dan Sidoarjo dengan melibatkan 197 remaja berusia 13–18 tahun yang dinyatakan sehat namun memiliki berat badan berlebih.

Para ahli merekomendasikan agar remaja tidur selama 8–10 jam setiap malam. Namun, realitasnya sangat berbeda. Banyak remaja tidur kurang dari waktu ideal tersebut. Alasan utamanya beragam: kebiasaan bermain gawai hingga larut malam, stres akademik, konsumsi kafein, hingga paparan cahaya dari layar ponsel yang mengganggu ritme sirkadian tubuh.

Peneliti seperti Illingworth (2020) dan Jakobsson (2019) menyebutkan bahwa kurang tidur bisa menyebabkan gangguan konsentrasi, menurunkan prestasi belajar, serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

Hasil Penelitian: Pola Tidur U-Shape

Dalam penelitian ini, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok: short sleepers (tidur kurang dari 6 jamper malam), sufficient sleepers (tidur antara 6–10 jam per malam), dan long sleepers (tidur lebih dari 10 jam per malam). Menariknya, hasil penelitian menunjukkan pola hubungan berbentuk huruf U (U-shaped pattern). Artinya, baik tidur terlalu singkat maupun terlalu lama sama-sama berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas. Remaja yang tidur lebih dari 11 jam per malam justru memiliki berat badan, indeks massa tubuh (IMT), dan lingkar perut lebih besar dibandingkan mereka yang tidur cukup.

Namun, penelitian ini tidak menemukan hubungan signifikan antara durasi tidur dengan sindrom metabolik (MetS), yaitu kumpulan kondisi seperti tekanan darah tinggi, kadar gula tinggi, trigliserida tinggi, dan kolesterol baik (HDL) yang rendah. Artinya, lama tidur belum tentu secara langsung menyebabkan sindrom metabolik, meskipun berkaitan erat dengan perubahan berat badan dan lemak tubuh.

Kenapa Kurang Tidur Bisa Membuat Gemuk?

Kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Ketika seseorang tidak cukup tidur, kadar leptin (hormon yang memberi sinyal kenyang) menurun, sementara ghrelin (hormon pemicu lapar) meningkat. Akibatnya, remaja yang kurang tidur cenderung lebih sering merasa lapar dan mengonsumsi makanan tinggi kalori. Selain itu, kelelahan karena kurang tidur bisa menurunkan aktivitas fisik, sehingga pembakaran energi menjadi lebih sedikit.

Sebaliknya, tidur terlalu lama juga tidak baik. Pola tidur berlebihan bisa mengganggu keseimbangan metabolisme dan menurunkan tingkat aktivitas harian. Kedua ekstrem, kurang tidur dan tidur berlebihan — sama-sama berpotensi meningkatkan risiko kelebihan berat badan.

Pelajaran Penting bagi Orang Tua dan Remaja

Dari penelitian ini, ada beberapa pesan penting yang bisa diambil: Pertama, tidur cukup dan berkualitas adalah kunci menjaga berat badan ideal. Bukan hanya jumlah jam tidur, tetapi juga kualitas tidur, seperti tidur tanpa gangguan cahaya, suara, atau stres, yang memengaruhi metabolisme tubuh. Kedua, kurang tidur dapat menimbulkan efek domino pada kesehatan. Mulai dari perubahan hormon, peningkatan nafsu makan, hingga risiko penyakit metabolik di kemudian hari.

Ketiga, keseimbangan adalah kunci. Baik tidur terlalu singkat maupun terlalu lama sama-sama tidak baik. Tidur antara 8–10 jam adalah durasi yang direkomendasikan untuk remaja. Terakhir, peran keluarga dan sekolah sangat penting. Orang tua perlu mengawasi kebiasaan tidur anak, termasuk mengatur waktu belajar dan penggunaan gawai di malam hari. Sekolah juga bisa berperan dengan menyesuaikan jadwal agar tidak terlalu pagi, mengingat remaja membutuhkan waktu tidur yang cukup untuk fungsi kognitif optimal.

    Penulis: Nur Aisiyah Widjaja
    Detail riset bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/sleep-duration-anthropometric-measurements-and-metabolic-syndrome/