UNAIR NEWS- Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-43, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan Orasi Ilmiah dengan tema “Kesehatan Mental di Masa Kini”. Acara yang berlangsung pada Kamis (12/02/2026) ini menghadirkan tiga pembicara ahli di bidang psikologi. Para pembicara tersebut membahas isu-isu terkini mengenai kesehatan mental, baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Kesehatan Mental di Tempat Kerja
Orasi ilmiah pertama oleh Prof Dr Seger Handoyo Psikolog, yang mengangkat tema “Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Teori dan Kebutuhan Kolaborasi untuk Tempat Kerja yang Lebih Manusiawi.” Dalam orasinya, Prof Seger menyampaikan bahwa kesehatan mental di tempat kerja bukan hanya sebuah isu psikologis individu saja. Menurutnya, sebuah masalah yang melibatkan berbagai elemen dalam organisasi, termasuk pimpinan dan struktur kerja.
Prof Seger menjelaskan bahwa banyak karyawan yang menghadapi stres dan masalah kesehatan mental. Mayoritasnya karena tuntutan pekerjaan yang tinggi, pemimpin yang tidak mendukung, serta budaya kerja yang kurang manusiawi. Ia menyebutkan bahwa job demands yang berlebihan tanpa job resources yang memadai bisa memperburuk kondisi kesehatan mental karyawan.

Lebih lanjut, Prof Seger menekankan pentingnya kolaborasi antara individu, tim, pemimpin, dan organisasi dalam menciptakan tempat kerja yang lebih sehat dan manusiawi. Karyawan tidak hanya harus dilindungi dan diberi dukungan, tetapi juga harus diberdayakan untuk mengatur dan menyesuaikan pekerjaannya melalui job crafting atau penyesuaian pekerjaan.
Penguatan Literasi Dini
Orasi ilmiah kedua oleh Dr Nur Ainy Fardana Nawangsari MSi Psikolog, dengan tema “Penguatan Literasi Dini: Keterlibatan Orang Tua dan Pengembangan Risetnya.” Dalam orasinya, Nur Ainy mengungkapkan pentingnya literasi dini sebagai fondasi utama bagi perkembangan anak. Tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup aspek kognitif, sosial, dan emosional yang berperan dalam kesiapan anak menghadapi pendidikan lebih lanjut.
Nur Ainy menekankan bahwa literasi dini seharusnya bermula sejak usia nol hingga enam tahun, masa kritis di mana kemampuan dasar anak terbentuk. Namun, tantangan yang ada adalah keterbatasan waktu dan sumber daya yang orang tua miliki. Terutama di tengah kemajuan teknologi yang mempengaruhi cara orang tua berinteraksi dengan anak-anak mereka. Di sinilah peran orang tua sangat vital dalam memberikan stimulasi yang tepat. Implementasinya melalui kegiatan sederhana seperti membaca buku, bernyanyi, mendongeng, atau bahkan hanya berbicara dan berdiskusi dengan anak-anak mereka.
Lebih lanjut, Nur Ainy juga menggarisbawahi pentingnya riset dalam mendukung penguatan literasi dini. Beliau menjelaskan bahwa pengembangan riset terkait literasi dini bukan hanya berfokus pada cara-cara mengajarkan anak untuk membaca atau menulis, tetapi juga pada faktor-faktor yang mendukung keterlibatan orang tua dalam proses ini. Riset juga perlu menggali peran ayah dan ibu secara seimbang dalam stimulasi literasi anak. Selain itu, bagaimana menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan literasi yang sehat.
Pengembangan Riset Kesehatan Mental
Orasi ilmiah ketiga oleh Prof Endang Retno Surjaningrum MAppPsych PhD Psikolog, mengangkat tema “Pengembangan Riset Kesehatan Mental yang Inovatif dan Berdampak.” Prof Endang mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam riset kesehatan mental saat ini adalah menciptakan solusi yang tidak hanya berbasis pada pengetahuan ilmiah, tetapi juga mampu diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
Prof Endang menyoroti pentingnya kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dalam merancang riset yang berdampak sosial. Ia menjelaskan bahwa banyak temuan riset yang berhenti di tingkat publikasi ilmiah tanpa implementasi praktis di lapangan. Oleh karena itu, riset kesehatan mental perlu bertransformasi dari sekadar knowledge generation menjadi knowledge translation. Riset tersebut dapat menghasilkan intervensi berbasis bukti yang mudah masyarakat akses.
Lebih lanjut, Prof Endang juga menekankan pentingnya inovasi dalam kesehatan mental berbasis komunitas. Pendekatan yang mengutamakan pencegahan dan promosi kesejahteraan psikologis, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda, menjadi semakin penting. Dalam konteks ini, riset perlu mengintegrasikan perspektif psikologi dengan pendekatan kesehatan masyarakat, pendidikan, dan bahkan kebijakan sosial, untuk memastikan bahwa solusi yang berkembang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan sosial yang ada.
Penulis: Saffana Raisa Rahmania
Editor: Ragil Kukuh Imanto





