UNAIR NEWS – Mengusung inovasi kemasan makanan berbasis biopolimer nabati, tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil menorehkan prestasi pada ajang Youth Impact 2025. Tim yang beranggotakan Syarafina Khoirunnisa, Usamah, dan Ainun Azka Rohmatillah ini sukses meraih Juara 1 dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh ECOTON.
Inovasi EcoThin muncul akibat keprihatinan tim atas dampak penggunaan kemasan plastik terhadap lingkungan. Salah satu anggota tim, Usamah mengatakan rata-rata masyarakat Indonesia menelan hingga 15 gram mikroplastik per bulan yang setara dengan satu kartu ATM.
“Kami sering melihat tumpukan sampah plastik di sekitar lingkungan, terutama dari kemasan makanan sekali pakai. Dari situ kami sadar, meskipun terlihat sepele, dampaknya besar terhadap lingkungan. Hal itu yang kemudian mendorong kami untuk menciptakan solusi nyata lewat penelitian ini,” ujar Usamah.
Menggunakan Tiga Kombinasi Biomassa Lokal
EcoThin mempunyai dua misi utama, yaitu menggantikan plastik sekali pakai dan menekan sumber pencemaran mikroplastik. Sebagai upaya mewujudkan misi tersebut, Usamah menjelaskan EcoThin menggunakan tiga kombinasi biomassa lokal yaitu pati singkong, serat batang pisang, dan pektin kulit pisang. Ketiga bahan tersebut diformulasikan dengan tambahan gliserol dan asam asetat.
“Semua bahan berasal dari sumber nabati lokal yang melimpah, mudah diperoleh, dan berbiaya rendah. Singkong memiliki kandungan amilum tinggi untuk membentuk film kuat, sedangkan serat dan pektin dari limbah pisang menambah kekuatan mekanik sekaligus mempercepat biodegradasi,” ucap Syarafina selaku ketua tim.
Dalam proses pembuatan, EcoThin menggunakan metode solvent casting. Syarafina mengungkap proses bermula dari tahap ekstraksi serat batang pisang dan pektin kulit pisang. Kemudian melalui proses pengeringan, penghalusan, dan percampuran bersama pati singkong hingga membentuk larutan homogen. Campuran tersebut kemudian dituangkan ke dalam cetakan, dikeringkan hingga menghasilkan lembaran film biodegradable.
“Tahapan ini kami lakukan secara hati-hati agar hasil struktur film menjadi kuat, lentur, dan tidak mudah menyerap air. Setelah proses pengeringan, film juga kami stabilkan dalam desikator selama dua hari agar kadar airnya seimbang dan hasilnya lebih stabil,” jelas Syarafina.
Perjalanan Selama Kompetisi
Dalam proses pengembangan EcoThin, tim menghadapi tantangan terutama dalam menjaga konsistensi hasil penelitian. “Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi hasil setiap percobaan. Bahan alami seperti pati dan serat memiliki karakter yang berbeda tergantung kadar airnya. Kami juga harus menyesuaikan suhu dan waktu pengeringan karena sedikit perbedaan bisa mempengaruhi tekstur dan fleksibilitas film,” bahas Syarafina.
Setelah melalui berbagai proses penelitian dan uji coba, inovasi EcoThin berhasil mendapat apresiasi dari dewan juri. “Juri dan audiens sangat mengapresiasi konsep kami karena memanfaatkan limbah nabati untuk mencegah pencemaran mikroplastik. Mereka menilai EcoThin mudah terurai, memiliki ketersediaan bahan yang tinggi, berbiaya rendah, dan desain yang menarik,” akui Ainun.
Selain memberikan memberikan apresiasi, juri juga memberikan saran pengembangan inovasi EcoThin dengan menggunakan hot press molding supaya kualitas dan daya tahan kemasan bisa meningkat.
Penulis: Kania Khansanadhifa Kallista.
Editor: Ragil Kukuh Imanto





