Universitas Airlangga Official Website

Tim PKPK Psikologi UNAIR Beri Pendampingan Psikologis bagi Keluarga Korban Tragedi Al Khoziny

Potret Tim PKPK Psikolog UNAIR Dampingi Wali Santri Korban Tragedi Al Khoziny. (Foto: Istimewa)
Potret Tim PKPK Psikolog UNAIR Dampingi Wali Santri Korban Tragedi Al Khoziny. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan peran aktifnya dalam penanganan bencana kemanusiaan. Tragedi ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, pada Senin (29/9/2025), menyisakan duka mendalam bagi keluarga para santri. Melalui layanan Layanan Dukungan Psikologis (LDP), tim PKPK terjun langsung mendampingi para wali santri korban tragedi yang berada di RS Bhayangkara Surabaya, pada Selasa (7/10/2025) hingga Rabu (9/10/2025).

Kegiatan itu dilakukan dengan koordinasi ketua PKPK, Bani Bacan Hacantya Yudanagara S. Psi M Si melibatkan satu koordinator lapangan, Lantip Muhammad Dewabrata S Psi M Si dan lima relawan LDP. Pendampingan dilakukan mulai pukul 19.00 hingga 00.30 WIB di area posko utama BPBD dan tenda serah terima jenazah.

Sejak malam hari, suasana posko mulai ramai dengan kehadiran keluarga dan kerabat wali santri. Proses identifikasi dan serah terima jenazah dilakukan secara bertahap, disertai suasana duka mendalam. Tim LDP PKPK mendampingi wali santri dalam proses tersebut dengan mendengarkan, menenangkan, dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.

“Banyak wali santri yang masih menahan emosi. Stigma bahwa menangis berarti lemah membuat mereka sulit mengekspresikan duka,” ujar Rasya Wanda Az-Zahra selaku tim relawan. 

“Dalam situasi seperti ini, kehadiran pendamping menjadi penting untuk menciptakan ruang aman agar mereka dapat menyalurkan perasaan tanpa rasa bersalah,” lanjut Zaata Yamni selaku tim relawan.

Tim PKPK menerapkan pendekatan Psychological First Aid (PFA) melalui metode Look, Listen, Link. Relawan tidak hanya berjaga di posko utama, tetapi juga berkeliling ke tenda-tenda untuk mengidentifikasi wali santri yang menunjukkan tanda distress seperti tatapan kosong, tangisan, atau menarik diri dari lingkungan sosial.

“Setelah memastikan kebutuhan fisik mereka terpenuhi, kami menggunakan teknik mendengar aktif. Ketika mereka merasa didengar dan dipahami, itu menjadi langkah awal pemulihan psikologis,” jelas Zaata.

Jika ditemukan wali santri yang memerlukan bantuan lanjutan, tim menghubungkannya dengan tenaga profesional atau lembaga terkait, seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan.

Pelaksanaan LDP PKPK UNAIR dilakukan atas koordinasi dengan BPBD Jawa Timur, Dinas Kesehatan, Dokpol, dan Dinas Sosial. Awalnya, PKPK dihubungi oleh BPBD setelah teridentifikasi kebutuhan dukungan psikososial di RS Bhayangkara. Proses koordinasi berlanjut dengan asesmen kebutuhan dan pelaporan resmi ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Selama proses pendampingan, tim menemukan bahwa dukungan keluarga menjadi faktor paling penting dalam membantu wali santri melewati fase duka. “Wali yang datang bersama keluarga tampak lebih kuat dan tenang. Sementara yang sendirian menjadi kelompok paling rentan,” tutur Rasya.

Malam pendampingan diakhiri pukul 23.30 WIB setelah seluruh jenazah diberangkatkan menggunakan ambulans. Meski situasi penuh duka, tim PKPK UNAIR menutup kegiatan dengan refleksi dan rasa syukur dapat turut membantu meringankan beban psikologis para keluarga korban.(*)

Penulis: Nafiesa Zahra

Editor: Khefti Al Mawalia