Universitas Airlangga Official Website

Tingkat IgG Anti-spike Protein Receptor-binding Domain (S-RBD) SARS-COV-2 pada Petugas Kesehatan

Penelitian yang mengevaluasi tingkat antibodi anti-spike protein receptor-binding domain (S-RBD) immunoglobulin G (IgG) sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (SARS-CoV-2) pada petugas kesehatan yang telah divaksinasi di Indonesia masih sangat terbatas.

Mengevaluasi tingkat antibodi anti-IgG S-RBD yang bergantung pada waktu dan memantau respons petugas kesehatan di rumah sakit tersier di Indonesia setelah vaksinasi.

Penelitian observasional kohort prospektif ini dilakukan dari Januari hingga Desember 2021. Sebanyak 50 petugas kesehatan berpartisipasi dalam penelitian ini. Sampel darah dikumpulkan pada lima titik waktu. Kadar antibodi diukur menggunakan alat analisis CL 1000i (Mindray Bio-Medical Electronics Co., Ltd., Shenzhen, Cina). Kadar antibodi antar kelompok dianalisis menggunakan uji peringkat bertanda Wilcoxon dengan P kurang dari 0,05.

Tingkat rata-rata antibodi IgG anti-S-RBD SARS-CoV-2 pada hari ke-14, 28, 90, dan 180 secara signifikan lebih tinggi daripada tingkat pada hari ke-0 (P<0,001). Setelah dosis kedua, kadar puncak diamati pada hari ke-14; kadar menurun secara bertahap setelah hari ke-28. Meskipun telah menerima dua dosis vaksin, 10 dari 50 peserta (20%) terinfeksi COVID-19 (penyakit virus corona 2019). Namun, gejalanya ringan, dan tingkat antibodi secara signifikan lebih tinggi daripada peserta yang tidak terinfeksi (P<0,001).

Kadar antibodi IgG anti-S-RBD SARS-CoV-2 meningkat secara signifikan hingga hari ke-14 setelah dosis kedua; kadarnya menurun secara bertahap setelah hari ke-28. Sepuluh peserta (20%) terinfeksi SARS-CoV-2, dengan gejala ringan.

Oleh : Prof. Dr. Aryati, dr. MS, Sp.PK(K)

Artikel ini bisa di akses di : https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37113910/