Gangguan gastrointestinal fungsional adalah gangguan interaksi usus-otak yang ditandai dengan gejala gastrointestinal kronis, seperti nyeri perut, dispepsia, dan diare, tanpa adanya patologi yang dapat dibuktikan pada pengujian konvensional (Alaqeel, et. al., 2017). Gangguan gastrointestinal fungsional sangat umum terjadi dengan prevalensi di seluruh dunia sebesar 40%, lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria dan menurun seiring bertambahnya usia (Al-Dabal et. al., 2010). Gangguan gastrointestinal yang paling sering terjadi adalah dispepsia fungsional dan sindrom iritasi usus besar (Al-hrinat, et. al., 2024).
Dispepsia fungsional merupakan salah satu gangguan pencernaan yang paling banyak dilaporkan.. Menurut data World Health Organization (WHO) sebanyak 15–30% orang di dunia menderita dispepsia setiap tahunnya. Di Asia prevalensi dispepsia berkisar 8-30%. Prevalensi dispepsia di Indonesia mencapai 40-50%, yang mana dispepsia sendiri termasuk dalam 10 besar penyakit tertinggi di Indonesia (Putri, et. al., 2022). Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Amerika Serikat dan Inggris dengan jumlah penderita dispepsia terbanyak. Diperkirakan dari pasien yang datang ke praktik umum 30% nya datang dengan keluhan dispepsia.
Gejala gangguan pencernaan yang berulang dapat menjadi masalah serius dan tentunya mengganggu produktivitas, termasuk di kalangan mahasiswa (Cheng, et. al., 2022). Mahasiswa kedokteran dikenal sibuk dengan perkuliahan dan organisasi. Gaya hidup ini sering kali menyebabkan pola makan yang tidak teratur dan asal-asalan, yang berdampak pada munculnya berbagai gejala gangguan pencernaan atau gastrointestinal. Prevalensi penyakit lambung di Amerika Serikat hampir mencapai 20% (Grundmann, et. al., 2010) dan nyeri perut merupakan gangguan yang paling sering terjadi pada pasien rawat jalan (Sandler, et. al., 2002). Beberapa faktor yang menyebabkan gangguan gastrointestinal adalah kualitas tidur, tingkat stres dan pola makan.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji kesahihan kuantitatif “Kuesioner Skala Penilaian Gejala Gastrointestinal (SPGG)” dan mengkaji hubungan antara kualitas tidur, tingkat stres, dan pola makan dengan gejala gastrointestinal pada mahasiswa kedokteran. Manfaat dari pemikiran ini adalah sebagai bahan masukan bagi dosen atau pertimbangan pembimbing program dalam melakukan tindakan preventif terhadap mahasiswa yang rentan mengalami gejala gangguan pencernaan pada mahasiswa kedokteran hingga lulus menjadi dokter. Penapisan terhadap mahasiswa yang rentan mengalami gejala gangguan pencernaan dapat diberikan penanganan khusus agar nantinya ketika sudah bekerja sebagai calon dokter memiliki kesehatan yang optimal.
Pada hasil penelitian ini, kuesioner SPGG sahih untuk digunakan sebagai alat ukur awal gejala gangguan gastrointestinal pada masyarakat Indonesia. Mayoritas mahasiswa kedokteran pada penelitian ini memiliki gejala gastrointestinal tingkat ringan (81,6%), kualitas tidur buruk (85,3%), tingkat stres sedang (41,2%), dan pola makan berlebihan (47,8%). Terdapat hubungan antara kualitas tidur, tingkat stres, pola makan, dan gejala gangguan gastrointestinal pada mahasiswa kedokteran. Hanya tingkat stres yang memiliki hubungan cukup erat, sedangkan kualitas tidur dan pola makan memiliki hubungan yang sangat lemah pada mahasiswa kedokteran.
Gejala gangguan gastrointestinal yang dimaksud adalah jika terdapat hasil gabungan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan motilitas usus, peningkatan sensitivitas saraf usus. Faktor-faktor lain seperti kesalahan dalam pengaturan interaksi juga dapat terjadi antara otak dan usus. Faktor-faktor tersebut juga dapat dipengaruhi dari luar, yaitu pengaruh psikologis dan sosial. Selain itu, gangguan dapat disebabkan oleh kebiasaan tidur yang buruk, asupan makanan yang buruk, pola makan, kebiasaan olahraga, gaya hidup, dan stres yang berlebihan (Miwa, et., al., 2012). Efek jangka panjang dari gejala gastrointestinal meliputi penurunan kualitas hidup individu (Yulia, et., al., 2018).
Penulis: Eka Arum Cahyaning Putri, dr., M.Kes.; Muhammad Naufal Razzan Maghribi; Muhammad Nabiel Firdausi; Emilda Puteri Aulia; Hayuris Kinandita Setiawan, dr., M.Si.; Rimbun Rimbun, dr., M.Si.; Raden Argarini, dr., M.Kes., Ph.D.; Annisa Zahra Mufida, dr., M.Kes., Sp.PD.; Amie Vidyani, dr., Sp.PD. KGEH; Misbakhul Munir, dr., M.Kes.
Informasi detail dari review artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://doi.org/10.47176/mjiri.39.143
Putri EAC, Maghribi MNR, Firdausi MN, Aulia EP, Setiawan HK, Rimbun R, Argarini R, Mufida AZ, Vidyani A, Munir M. Validity and Reliability Test of The Indonesian Version of the Gastrointestinal Symptom Rating Scale (GSRS) and Correlation of Sleep Quality, Stress Level, and Diet with Gastrointestinal Symptoms among Medical Students. Med J Islam Repub Iran.2025 (10 Nov);39:143.





