Universitas Airlangga Official Website

Tinjauan Nilai Gizi Ampnag dan Getas

Foto by Pemprov BangBel

Pengolahan hasil perikanan merupakan upaya peningkatan nilai mutu hasil perikanan yang memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan hasil peternakan. Hasil perikanan berupa ikan tidak mampu bertahan lebih lama dan mengalami penurunan kualitas dari waktu ke waktu dengan cara penyimpanan yang kurang baik. Dengan teknologi penyimpanan yang baik, beberapa hasil perikanan dapat bertahan lama dan saat ini menjadi salah satu andalan devisa negara karena sebagian besar hasil perikanan laut berorientasi ke pasar internasional. Dari sisi pengolahan, sejumlah produk perikanan yang memiliki nilai ekonomi rendah dapat diubah dengan menambahkan sejumlah bahan pangan lain sehingga menjadi produk olahan yang mudah diterima oleh berbagai strata dan masyarakat umum. Jenis jajanan dan jajanan serta hasil perikanan yang banyak ditemukan di Kabupaten Bangka Tengah berupa rempeyek, amplang dan kerupuk ikan.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara geografis terletak pada koordinat 105°–108° Bujur Timur dan 03°30” Lintang Selatan yang berada di sebelah timur Provinsi Sumatera Selatan yang sebelumnya merupakan provinsi induk dari provinsi kepulauan ini. Provinsi ini memiliki luas wilayah 81.582 Km2 meliputi dua Pulau Besar yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung, meliputi luas daratan 16.281 Km2 dan luas laut 65.301 Km2 (Prop BPS Kepulauan Bangka Belitung 2019). Peluang ini menunjukkan besarnya potensi sektor perikanan dalam mendukung percepatan pembangunan di provinsi muda ini. Sektor perikanan budidaya dilaporkan mampu menghasilkan total 1.316.000 kg ikan per tahun atau dengan nilai konversi Rp 17.160 miliar/tahun. Namun, potensi industri pengolahan produk juga perlu diperhatikan. Salah satu produk olahan yang cukup terkenal adalah pempek ikan (khas Palembang) yang juga banyak ditemukan di daerah ini. Namun produk lain yang menjadi ciri khas daerah Bangka Belitung adalah produk makanan ringan seperti rempeyek, amplang, dan kerupuk ikan yang diproduksi di sejumlah daerah, salah satunya Desa Kurau Barat.

Desa Kurau Barat Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah memiliki letak yang sangat strategis (BPS Kabupaten Bangka Tengah 2020). Kawasan ini berjarak sekitar 20 km dari pusat pengembangan sumber daya manusia yang handal di provinsi ini yaitu Kampus Universitas Bangka Belitung di Balunijuk. Desa ini dihuni oleh sekitar 2.777 jiwa di sepanjang jalan utama dan beberapa desa berada di daerah pesisir dan muara dimana 70% penduduknya adalah nelayan dari suku Bugis. Dengan mayoritas penduduk desa berprofesi sebagai nelayan, desa ini mengembangkan produk olahan ikan sebagai andalan kegiatan ekonominya. Bahan baku berupa ikan laut sangat mudah didapatkan, terutama ikan kecil (trash fish) yang menjadi bahan baku utama pembuatan produk olahan perikanan di wilayah ini. Kegiatan perikanan tangkap yang sangat bergantung pada kondisi alam menjadi kendala bagi perkembangan usaha ini, terutama dalam penyediaan bahan baku ikan di home industry pengolahan hasil perikanan. Meskipun kegiatan budidaya air tawar di masyarakat sekitar kawasan berkembang, mereka belum mampu mensuplai kekurangan bahan baku karena kuatnya tradisi yang tidak suka mengkonsumsi ikan air tawar.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan pada kesempatan kali ini, kami melakukan analisis terhadap produk olahan masyarakat di Desa Kurau Barat Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah. Analisis ini berfokus pada diversifikasi produk, pengemasan, dan pelabelan yang diharapkan dapat memberikan informasi dan sekaligus memberikan nilai tambah bagi konsumen. Analisis pengolahan hasil perikanan dilakukan pada kelompok Ewaki, dan para pemilih bisnis, Bapak Andreas Maulana, sangat menyambut baik. Dari kegiatan ini diharapkan ada masukan dan saran dalam pengembangan produk berupa informasi nilai gizi pada label dan sekaligus memberikan masukan desain label yang informatif dan menarik.

Kegiatan analisis potensi hasil perikanan olahan di Desa Kurau Barat dalam mendukung peningkatan konsumsi hasil perikanan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah dilakukan. Dalam analisis produk olahan, kami menyimpulkan bahwa perlu adanya peningkatan kualitas dan pengemasan. Peningkatan kualitas dilakukan untuk menjaga nutrisi ikan yang terkandung dalam produk olahan, sedangkan pengemasan dilakukan untuk menjaga kualitas produk selama penyimpanan dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, penambahan informasi nilai gizi, tanggal kadaluarsa, dan label halal mutlak ditambahkan. Pada kesempatan ini, dukungan dari akademisi dan instansi terkait untuk memberikan bantuan sangat dibutuhkan. Kegiatan mahasiswa dan dosen Universitas Bangka Belitung dapat berperan penting dalam mendukung produk perikanan yang berkualitas di masa depan.

Penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono

Link: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/1036/1/012037/meta

Sitasi : Basarah, A. R., Amin, M., Syarif, A. F., & Andriyono, S. (2022, July). Nutritional Fact of Traditional Cracker (Amplang and Getas) from Bangka Belitung. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 1036, No. 1, p. 012037). IOP Publishing.