Universitas Airlangga Official Website

Tips Menjalani Kuliah bagi Mahasiswa Difabel

Potret Mira Mendampingi Kegiatan Membatik Metode Ciprat untuk Difabel (Foto: Istimewa)
Potret Mira Mendampingi Kegiatan Membatik Metode Ciprat untuk Difabel (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS –  Mira panggilannya, seorang Mahasiswa S2 Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) memiliki keterbatasan penglihatan karena penyakit lupus yang diidapnya di tahun 2009. Penyakit lupus tersebut menyebabkan penurunan fungsi pada matanya sehingga tingkat kecerahan cahaya sangat berpengaruh dalam proses penglihatannya. 

Bagi Mira, keterbatasan yang dimilikinya bukan menjadi penghalang untuk menggapai cita-citanya terutama dalam dunia akademik. Hal itu dibuktikan dengan dirinya yang mendapatkan beasiswa S2 dari AUN DPPnet. AUN DPPnet merupakan beasiswa yang diberikan oleh Universitas Malaya kepada mahasiswa disabilitas yang berada di perguruan tinggi di ASEAN. Mira mengungkapkan bahwa beasiswa ini memfasilitasinya untuk dapat menjadi pionir di negaranya tentang evaluasi kebijakan publik di negara ASEAN.

Mira menyebutkan bahwa salah satu cara untuk menciptakan lingkungan inklusif di lingkungan kampus, yaitu dengan membuka diri bagi mahasiswa disabilitas dan penerimaan yang baik dari lingkungan sekitar. Penerimaan yang baik bagi Mira diartikan sebagai pemberian perlakuan yang sama antara mahasiswa disabilitas dengan mahasiswa non-disabilitas, tanpa membeda-bedakannya.

“Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, para penyandang disabilitas bukanlah orang yang seharusnya dikasihani, tapi kita juga ikut diberdayakan. Jadi masyarakat lebih bisa berbaur dan berperilaku, seperti pada umumnya dengan penyandang disabilitas. Keterbatasan aksesibilitas, fasilitas, stigma, yang justru membuat kami menjadi disabilitas” Ungkap Mira kepada Tim UNAIR NEWS. 

Dokumentasi Mira Bersama Koordinator Program Studi (KPS) S2 MKP dan Mahasiswa S2 MKP (Foto: Istimewa)

Bagi mahasiswa difabel, Mira mengatakan bahwa tantangan merupakan hal yang sudah biasa dirasakan oleh teman-teman difabel. Dan hal tersebut sudah pasti sering dilalui sehingga mereka sudah paham bagaimana cara mengatasinya. 

“Aku yakin sebenarnya, teman-teman disabilitas walaupun challenging pasti mereka tau itu challenging, karena ya everyday is challenging for us. Dan mereka juga pasti sudah dapat menilai kapasitas diri mereka untuk menghadapi itu,” katanya

Isu disabilitas sampai saat ini telah menjadi isu yang familiar di kalangan masyarakat. Regulasi dan kebijakan yang mendukung hak-hak mereka telah diimplementasikan di banyak tempat terkhususnya di lingkungan perguruan tinggi. 

Bagi para mahasiswa difabel, membangun networking tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga sebuah keharusan. Dengan bersatu dan saling mendukung, komunitas difabel dapat menemukan kekuatan bersama dalam menghadapi berbagai tantangan yang mungkin mereka hadapi. Hal inilah yang kemudian dirasakan oleh Mira saat memasuki jenjang S2 di Universitas Airlangga. Banyak networking yang ia bangun dengan para difabel lainnya. Hal ini sangat berguna baginya dalam menunjang dan membantu kegiatan perkuliahannya. 

Memiliki kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi adalah sebuah privilege bagi Mira. Mengutip dari data SUSENAS, hanya 5,12% bagi difabel yang dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mira memandang hal tersebut merupakan permasalahan yang harus diselesaikan. Mira seringkali memberikan pengkaderan untuk para difabel supaya dapat lebih membuka pandangan mengenai hak untuk dapat merasakan akses pendidikan yang sama dengan mahasiswa lainnya. 

“Apabila teman-teman disabilitas mau menciptakan Indonesia yang inklusif, teman-teman difabel sendiri yang harus terlibat. Bahasanya kalau di kita, ‘nothing about us without us’,’’ ucapnya. 

Setiap makhluk tuhan memiliki peran untuk dapat memberikan manfaat untuk sekitar. Mira mengatakan bahwa motivasinya untuk dapat memberi manfaat kepada masyarakat menjadi tujuan yang ingin ia capai. Sehingga menjaga semangat untuk dapat menyelesaikan berbagai tugas dan ujian akhir selama di kuliah adalah hal yang ia pertahankan. 

“Dari awal kuliah udah tahu ‘why’ kenapa aku kuliah, yaitu aku mau bermanfaat untuk masyarakat. Akhirnya aku semangat belajar dan mengerjakan tugas thesis, semuanya senafas dengan motivasi untuk bermanfaat di masyarakat terkhususnya untuk isu difabel di negeri ini,” tegasnya. 

Selain mengetahui tujuan apa yang ingin dicapai, Mira juga mengatakan bahwa usaha merupakan salah satu kunci yang penting. Mira percaya bahwa memiliki visi yang jelas saja tidaklah cukup, perlu ada aksi konkret untuk mewujudkannya. Baginya, usaha merupakan manifestasi dari komitmen dan dedikasi seseorang terhadap impian dan tujuannya. Dengan berusaha keras dan tanpa kenal lelah, Mira yakin bahwa setiap rintangan dapat teratasi dan setiap tujuan dapat dicapai. 

“Aku selalu usahakan yang terbaik, put the best effort karena gak bakal menyesal. Harus ada konsistensi dalam menjalankan kegiatan belajar ataupun mengerjakan tugas,” tuturnya. 

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan inklusi terhadap difabel. Banyak negara telah mengimplementasikan regulasi dan kebijakan yang mendukung hak-hak mereka, termasuk hak pendidikan, aksesibilitas, pekerjaan, dan layanan kesehatan. Meskipun demikian, masih banyak tantangan yang dihadapi oleh masyarakat dalam memahami dan mendukung individu dengan disabilitas. Pentingnya edukasi, sosialisasi, dan peningkatan aksesibilitas infrastruktur untuk memastikan bahwa difabel dapat mendapatkan kesempatan yang sama seperti individu lainnya.

Penulis: Maryam Fauziah

Editor: Feri Fenoria