UNAIR NEWS – Isu kesehatan mental di kalangan mahasiswa menjadi perhatian serius. Merujuk pada riset Argaheni (2020), sebanyak 38,57 persen mahasiswa mengalami stres sedang dan 28,57 persen mengalami stres berat. Menjawab tantangan tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar webinar edukatif bertajuk Nirmala Cita: One Hope Created, One Life Saved: Together For Tomorrow pada Minggu (7/9/2025).
Kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (World Suicide Prevention Day) ini menghadirkan psikiater dr. Damba Bestari, Sp.KJ sebagai pemateri utama. Webinar itu bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola stres dan menjadi pertolongan pertama bagi rekan yang mengalami krisis mental.
Memahami Stres dan Dampaknya
Dalam paparannya, dr. Damba menjelaskan bahwa stres adalah perubahan yang memerlukan penyesuaian. Stres tidak selalu negatif; ada eustress yang bersifat positif dan mendorong produktivitas, serta distress yang bersifat negatif dan bisa menjadi gangguan jika tidak dikelola dengan baik. Ia juga memaparkan data dari AS yang menunjukkan 44 persen mahasiswa mengalami gejala depresi dan 15 persen memiliki ide bunuh diri yang intens.
“Tantangan bagi mahasiswa baru antara lain adalah menghadapi ketidakpastian, perubahan dari masa SMA, dan manajemen waktu,” jelas dr. Damba.
Keterampilan Pertolongan Pertama
Fokus utama webinar ini adalah membekali peserta dengan keterampilan Mental Health First Aid (MHFA), atau pertolongan pertama pada kesehatan mental. dr. Damba menegaskan bahwa pertolongan ini tidak harus dilakukan oleh profesional. “Ini seperti menangani orang yang baru mengalami kecelakaan atau pingsan, bukan sebagai pengganti terapi lanjutan oleh profesional,” tuturnya. Metode MHFA untuk pencegahan bunuh diri dirangkum dalam tiga langkah. Yakni look, listen, link.
Look, Listen, Link.
Look berarti mengamati ciri-ciri orang yang berisiko, seperti menarik diri, terlihat putus asa, atau membicarakan soal kematian.
Listen berarti mendengarkan dengan empati tanpa menghakimi. dr. Damba menyarankan untuk berani bertanya secara langsung menggunakan kata bunuh diri karena tidak akan menginduksi ide tersebut. Ia menekankan pentingnya mengubah narasi bahwa kondisi ini adalah kondisi medis, bukan tentang salah atau benar.
Langkah terakhir adalah link, yaitu menghubungkan individu dengan sistem pendukung atau bantuan profesional seperti psikolog/psikiater.
Pentingnya Peran Komunitas
dr. Damba juga mengingatkan bahwa pencegahan bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat, bukan hanya ranah klinis. Memiliki dukungan sosial, harapan, dan tujuan hidup yang bermakna merupakan beberapa faktor protektif yang dapat mencegah seseorang dari krisis mental.
“Orang yang meninggal karena bunuh diri sebenarnya tidak ingin mengakhiri hidupnya, tetapi mereka ingin mengakhiri rasa sakitnya,” pungkasnya, menggarisbawahi pentingnya empati dan dukungan komunitas.
Penulis: Ahmad Abid Zhahiruddin
Editor: Khefti Al Mawalia





