Wabah global Covid-19 yang mulai terjadi pada penghujung tahun 2019 di Cina memicu evolusi beberapa aspek kehidupan manusia di seluruh dunia. Ancaman kematian akibat infeksi Coronavirus mengakibatkan WHO harus mengeluarkan instruksi pembatasan kegiatan masyarakat untuk menghindari populasi keramaian. Akses dengan dunia luar terbatasi, ancaman kesehatan, kerugian finansial akibat pengangguran memicu peningkatan tingkat stres masyarakat. Satu dari empat manusia dewasa mengalami gejala stres menengah hingga berat akibat kondisi ketidakpastian saat pandemi Covid-19 dan membutuhkan dukungan kesehatan mental.
Stres yang tidak terkelola dengan baik dapat memberi pengaruh buruk bagi kehidupan manusia. Kesehatan mental akan terancam dan dapat mempengaruhi kesehatan jasmani. Instruksi pembatasan aktivitas saat wabah Covid-19 menyebabkan aspek kebutuhan manusia terhadap dukungan sosial tidak dapat terpenuhi dengan baik. Kesepian didefinisikan sebagai perasaan subyektif kurang menyenangkan karena intensitas hubungan sosial yang kurang serta keintiman tidak tercapai. Dengan demikian, manusia mencoba untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan memiliki pet animal sebagai teman. Hidup bersama hewan peliharaan berhubungan dengan tingkat kesepian dan emosi negatif yang lebih rendah.
Tingkat kepemilikan hewan peliharaan mempengaruhi aktivitas ekonomi pelaku industri produk dan jasa hewan peliharaan. Salah satu hal krusial yang perlu oleh pemilik pet animal adalah penunjang kesehatan hewan. Agen patogen mengancam keselamatan hewan. Pencegahan hal tersebut bisa melalui pemberian vaksin. Namun, vaksin yang beredar di Indonesia tidak seperti vaksin hewan komoditas yang telah menggunakan isolat lokal. Kemandirian Indonesia terhadap produksi vaksin pet animal dengan isolat lokal dapat diwujudkan. Selain profit, efektivitas proteksi yang lebih baik karena antibodi yang akan terbentuk lebih spesifik.
Penulis: Berlian Ramadhanti, Mahasiswa S2 Vaksinologi dan Immunoterapeutika FKH UNAIR
Editor: Yulia Rohmawati





