Penyakit arteri perifer/peripheral artery disease (PAD) merupakan masalah kesehatan global yang semakin sering dijumpai, terutama pada populasi lanjut usia. Kondisi ini disebabkan oleh penyempitan arteri di ekstremitas bawah yang membatasi aliran darah dan oksigen, sehingga memicu berbagai gejala klinis seperti nyeri, kram, dan kelelahan saat berjalan. Kondisi ini juga dikenal sebagai klaudikasio intermiten. PAD memiliki angka kejadian yang tinggi, dengan lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit ini. Uniknya, meskipun penyakit ini memiliki insiden yang lebih tinggi di negara-negara dengan pendapatan tinggi, mayoritas penderita PAD (sekitar 72,9%) justru berasal dari negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sebagian besar kasus PAD tidak terdiagnosis karena gejalanya yang sering tidak kentara pada tahap awal. Namun, jika tidak ditangani, PAD dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup yang serius dan risiko komplikasi seperti infark miokard, stroke, hingga amputasi.
Ankle Brachial Index (ABI) adalah alat diagnosis sederhana yang digunakan untuk mendeteksi PAD dengan mengukur perbedaan tekanan darah di pergelangan kaki dan lengan. ABI yang rendah menunjukkan adanya penyumbatan pada arteri perifer. Namun, ABI sering kali tidak memberikan gambaran lengkap mengenai progresi PAD. Pada pasien dengan klaudikasio intermiten, fokus pengobatan biasanya tertuju pada peningkatan jarak berjalan dan mengurangi rasa nyeri selama aktivitas.
Dalam upaya mencari pengobatan yang lebih efektif untuk PAD, trimetazidine (TMZ) muncul sebagai salah satu kandidat yang menjanjikan. TMZ adalah obat anti-iskemia yang awalnya digunakan untuk penyakit jantung koroner dan gagal jantung kronis. Obat ini bekerja dengan mengoptimalkan metabolisme aerobik, mengurangi penggunaan oksigen oleh otot, serta menekan produksi asam laktat yang memicu rasa nyeri akibat iskemia. Trimetazidine bekerja dengan mengoptimalkan oksidasi glukosa dan menghambat enzim tertentu di dalam mitokondria yang bertanggung jawab dalam oksidasi asam lemak. Melalui mekanisme ini, trimetazidine mendorong metabolisme energi pada sel-sel otot, yang pada akhirnya mengurangi gejala nyeri akibat kekurangan oksigen pada jaringan otot. Selain itu, trimetazidine diketahui memiliki efek lain yang bermanfaat bagi pasien dengan penyakit kardiovaskular, seperti mengurangi peradangan, mengurangi produksi mediator nyeri, dan menghambat fibrosis pada otot jantung. Oleh karena itu, beberapa penelitian mencoba untuk mengkaji manfaatnya pada pasien PAD, terutama yang mengalami klaudikasio intermiten, guna meningkatkan kemampuan berjalan tanpa rasa sakit.
Penelitian yang kami lakukan merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis yang bertujuan mengevaluasi efektivitas TMZ pada pasien PAD, khususnya mereka yang mengalami klaudikasio intermiten. Studi-studi ini menilai parameter klinis seperti ABI, Jarak Maksimum Berjalan/Maximum Walking Distance (MWD), Waktu Maksimum Berjalan/Maximum Walking Time (MWT), dan Waktu Munculnya Nyeri/Pain Onset Time (POT). Data dari kedua studi tersebut dianalisis secara kuantitatif untuk melihat pengaruh TMZ dibandingkan dengan perawatan standar. Meta-analisis yang kami lakukan menunjukkan bahwa TMZ memberikan efek positif yang signifikan pada pasien PAD. TMZ secara signifikan meningkatkan MWD, MWT, dan POT pada pasien yang mengalami klaudikasio intermiten dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pasien yang menerima TMZ mampu berjalan lebih jauh dan lebih lama sebelum merasakan nyeri yang disebabkan oleh iskemia pada otot. Pada parameter MWD, TMZ terbukti meningkatkan jarak berjalan maksimum secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p = 0.0006). TMZ juga secara signifikan memperpanjang MWT dan menunda waktu munculnya nyeri (POT). Ini menunjukkan bahwa TMZ dapat membantu pasien PAD berjalan lebih jauh tanpa mengalami nyeri yang disebabkan oleh penyumbatan aliran darah di arteri perifer. Namun, meskipun TMZ secara efektif meningkatkan kemampuan berjalan, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam peningkatan ABI antara kelompok yang menerima TMZ dan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa TMZ tidak memiliki dampak langsung pada penyebab mendasar PAD, yaitu penyempitan arteri atau pembentukan plak aterosklerotik, tetapi lebih pada perbaikan gejala klinis yang terkait dengan iskemia otot.
Salah satu alasan utama trimetazidine efektif dalam meningkatkan kapasitas berjalan pada pasien PAD adalah karena obat ini membantu mengurangi akumulasi asam laktat dalam otot selama aktivitas fisik. Pada kondisi PAD, terbatasnya aliran darah dan oksigen menyebabkan otot bekerja secara anaerob (tanpa oksigen), yang memicu penumpukan asam laktat dan mediator nyeri lainnya. Penumpukan ini menyebabkan rasa sakit dan memaksa pasien untuk berhenti berjalan. Trimetazidine bekerja dengan mengoptimalkan metabolisme aerobik, sehingga mengurangi produksi asam laktat dan mediator inflamasi lainnya yang memicu nyeri pada otot. Selain itu, trimetazidine meningkatkan aktivitas enzim piruvat dehidrogenase, yang berperan dalam mengurangi penggunaan oksigen selama pembentukan energi dalam mitokondria. Dengan demikian, trimetazidine membantu memperpanjang durasi berjalan tanpa nyeri, yang sangat berharga bagi pasien PAD yang biasanya terbatas mobilitasnya. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pasien PAD yang menggunakan trimetazidine memiliki tingkat nyeri yang lebih rendah dan kapasitas berjalan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya menerima terapi konvensional.
Meskipun memiliki manfaat yang signifikan dalam meningkatkan kemampuan berjalan, trimetazidine tidak memengaruhi ABI secara langsung, yang mencerminkan aliran darah di kaki. Ini berarti bahwa obat ini tidak dapat secara langsung memperbaiki kondisi penyempitan arteri atau mencegah perkembangan plak yang menyebabkan PAD. Oleh karena itu, trimetazidine lebih cocok sebagai terapi tambahan untuk mengatasi gejala PAD, bukan sebagai pengobatan utama untuk mengatasi penyebab dasar penyakit ini.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa trimetazidine menawarkan solusi non-invasif yang potensial bagi pasien PAD untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dengan membantu meningkatkan durasi dan jarak berjalan tanpa nyeri. Dengan mengurangi produksi asam laktat dan mediator nyeri lainnya, obat ini memungkinkan pasien PAD untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah dan bebas dari rasa sakit yang membatasi. Namun, karena trimetazidine tidak dapat mengatasi penyebab utama PAD, obat ini idealnya digunakan bersama terapi lain yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi pembuluh darah pasien, seperti perubahan gaya hidup, terapi antiplatelet, atau bahkan intervensi bedah pada kasus yang lebih parah. Penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih kuat dan sampel yang lebih besar sangat dibutuhkan untuk mengeksplorasi efek jangka panjang dari trimetazidine pada pasien PAD. Selain itu, penelitian mengenai dosis optimal, frekuensi pemberian, dan kombinasi terapi yang paling efektif juga penting untuk memastikan bahwa pasien dapat menerima manfaat maksimal dari pengobatan ini.
Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu
Dosen Fakultas Kedokteran Unair
Link: https://jpma.org.pk/index.php/public_html/article/view/21453
Baca juga: Menilik Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Diagnosis Penyakit Arteri Perifer





