Universitas Airlangga Official Website

Ubah Limbah Organik jadi Wadah Tanam, Tim UNAIR Raih Juara I di Business Plan Competition

Mahasiswa UNAIR berhasil meraih juara 1 dalam ajang Business Plan Competition Sharia Economics Advancement pada Rabu (3/6/2026) (Foto: Narasumber)

UNAIR NEWS – Tingginya volume limbah organik di Indonesia masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian berbagai pihak. Berangkat dari isu tersebut, mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas TerraGrow, inovasi wadah tanam berbahan limbah organik. Gagasan itu mengantarkan mereka meraih Juara 1 dalam Business Plan Competition Sharia Economics Advancement di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Rabu (3/6/2026).

Tim tersebut terdiri atas Tanjung Saskia Maysyaroh dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Widiatik Marlina dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Arya Risqi Niko Pratama dari Fakultas Vokasi (FV). Melalui TerraGrow, mereka menawarkan model bisnis yang mengolah limbah cangkang telur dan serabut kelapa menjadi wadah tanam biodegradable yang terintegrasi dengan ekosistem digital

Tanjung menjelaskan bahwa TerraGrow berangkat dari potensi cangkang telur dan serabut kelapa yang sering kali terabaikan. Menurutnya, kedua limbah organik tersebut dapat menjadi alternatif bahan media tanam sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.

Dalam rancangan business plan tersebut, tim memanfaatkan limbah cangkang telur dan serabut kelapa sebagai bahan utama pembuatan wadah tanam. Konsep produksinya meliputi pengolahan kedua bahan menjadi bubuk, kemudian mencampurkannya dengan tepung tapioka sebagai perekat sebelum mencetaknya menjadi wadah tanam yang dapat terurai secara alami.

Widia menambahkan bahwa pemilihan bahan baku tidak terlepas dari ketersediaannya yang melimpah di masyarakat. Menurutnya, banyak limbah cangkang telur dari pelaku usaha kuliner maupun dapur MBG serta limbah serabut kelapa yang belum termanfaatkan secara optimal.

“Kami melihat potensi besar dari limbah-limbah tersebut. Karena itu, TerraGrow kami rancang agar mampu mengurangi timbulan sampah sekaligus menciptakan produk yang memiliki nilai tambah,” jelasnya.

Arya menjelaskan bahwa TerraGrow tidak hanya menawarkan produk fisik, tetapi juga mengusung ekosistem digital. Setiap kemasan produk dirancang terhubung dengan aplikasi TerraGrow melalui QR code yang memudahkan pengguna mengakses berbagai layanan pendukung.

“Pengguna dapat memanfaatkan fitur pengingat penyiraman tanaman, edukasi pertanian, program loyalitas, hingga layanan penjualan limbah organik. Kami ingin menghadirkan solusi yang terintegrasi, bukan sekedar media tanam semata,” ungkap Arya.

Menurutnya, integrasi antara produk dan platform digital menjadi salah satu keunggulan TerraGrow dibandingkan produk sejenis yang telah beredar di pasaran. Pendekatan tersebut memungkinkan pengguna memperoleh pendampingan dalam merawat tanaman sekaligus berpartisipasi dalam pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab.

Melalui inovasi tersebut, tim berharap dapat membantu mengurangi limbah organik serta mendorong praktik urban farming di kawasan perkotaan. “Kami ingin menunjukkan bahwa limbah dapat menjadi sumber daya yang bernilai dan berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan,” pungkas Tanjung

Penulis: Maia Chaerunnisa

Editor: Yulia Rohmawati