Universitas Airlangga Official Website

UKM Teater Mata Angin UNAIR Berhasil Sabet Juara II Nasional

Penampilan UKM Teater Mata Angin UNAIR dalam Babak Grand Final (Foto: Dok. Narasumber)
Penampilan UKM Teater Mata Angin UNAIR dalam Babak Grand Final (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWSUnit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi gemilang. Tim Teater Mata Angin UNAIR berhasil meraih juara dalam ajang lomba teater yang diselenggarakan oleh Eduhub dan program studi D4 Manajemen Perkantoran Digital UNAIR pada Minggu (20/7/2025).

Rasa senang dan bangga mengelilingi tim lomba teater kali ini beranggotakan Briyan Septianto (FV), Dyana Vidya P (FH), Ahmad Al Ghifari (FV), Alivia Angelin E (FPK), Anya Putri B (Fpsi), Safina Neysa A (FISIP), Reyva Christalenta (FISIP), M Fadhil S (FISIP) dan Damai Fajarharini (FH).

Briyan, selaku sutradara mengungkapkan bahwa ketertarikan tim untuk mengikuti lomba tersebut yaitu tema yang diangkat sangat menarik. Lalu karena level lomba ini nasional maka akan membentuk semangat dan tantangan baru.

“Lomba teater ini mempunyai tema yakni mengembalikan kebudayaan yang hilang. Dari situ, tim kami merasa tertarik mengikuti. Ditambah effort yang kami jalankan juga serius dengan mengatur waktu yang baik untuk latihan. Mengingat minggu ini sudah masuk masa liburan jadi harus merelakan masa liburannya demi memberikan penampilan yang terbaik,” ungkapnya.

Briyan menjelaskan bahwa naskah yang dibawakan pada lomba tersebut berjudul Lunggah-Lungguh. Ia menjelaskan maksud tersirat dari judul yang diinisiasi yaitu aktivitas duduk yang berarti sebuah ajakan efektif.

“Judul tersebut merupakan permainan kata dari unggah-ungguh dan lungguh (duduk) dan ajakan reflektif sebelum menuntut anak untuk sopan dan hormat. Orang tua sebagai panutan juga perlu duduk bersama dengan anaknya. Di mana duduk dalam arti harfiah dan emosional guna mendengarkan isi hati, memahami perasaan dan menjalin komunikasi yang sejajar,” jelasnya.

Kemudian ia juga menjelaskan unggah-ungguh yang dimaksud mempunyai makna untuk berperilaku sesuai norma. Khususnya anak muda di masa sekarang. Briyan berpesan pada generasi muda untuk tidak melupakan budaya yang lahir di sekitar kita dan jangan takut untuk mengekspresikan diri melalui seni.

“Tentunya sebagai sutradara, saya menuliskan cerita ini sendiri. Budaya unggah-ungguh ini memiliki banyak sekali aturan tidak tertulis tentang bagaimana kita berperilaku. Oleh karena itu, masih seringkali dijumpai anak muda di Jawa tidak terlalu mengerti menggunakan bahasa Jawa halus. Maka hal ini perlu kita angkat kembali, agar bahasa daerah tidak terkikis,” tegasnya.

Penulis: Ersa Awwalul Hidayah

Editor: Yulia Rohmawati