UNAIR NEWS – Dalam rangka semarak Dies Natalis ke-71 Universitas Airlangga (UNAIR), Unit Kegiatan Mahasiswa Tahfidzul Qur’an (UKM TQ) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar Seminar Al-Qur’an bertajuk Merajut Meaningful Life dengan Ilmu dan Akhlak Qur’ani di Era Modern. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (13/11/2025), di Aula Utama Masjid Ulul Azmi, Kampus MERR-C, UNAIR. Menghadirkan Husain Yahya selaku narasumber dan Muhammad Umar Ibrahim selaku moderator.
Merajut Kehidupan Bermakna
Dalam pemaparannya, Husein Yahya menegaskan bahwa kehidupan bermakna berawal dari niat yang benar, dengan melakukan segala sesuatu dengan baik. “Segala aktivitas harus bertujuan sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt. Karena sejatinya, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Maka, perbaiki niat kita agar hidup jadi bermakna,” ujarnya.
Ia menambahkan pentingnya menyeimbangkan ilmu dengan akhlak qur’ani, sesuai tujuan diutusnya nabi untuk menyempurnakan akhlak. “Tunjukkan akhlak terbaik dimanapun dan kapanpun kalian berada. Seperti nasihat Imam Malik, belajarlah adab sebelum menuntut ilmu. Karena kesan pertama seseorang dinilai bukan berdasarkan kepintaran, melainkan dari akhlak,” tambahnya.
Tetap Terhubung dengan Al-Qur’an di Tengah Kesibukan Rutinitas
Lebih lanjut, ia menekankan untuk tetap terhubung dengan Al-Qur’an di tengah padatnya rutinitas. Menurutnya, menjadikan Al-Qur’an sebagai prioritas hidup akan mempermudah urusan dunia maupun akhirat.
“Karena Al-Qur’an adalah salah satu penolong kita di akhirat nanti. Jangan sampai saat ini kita berpaling dari Al-Qur’an, sehingga di akhirat nanti Al-Qur’an pun memilih untuk berpaling dari kita, Naudzubillah,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa seburuk dan sejauh apapun dosa, Allah Swt adalah tempat kita pulang. “Mumpung kita masih hidup, segeralah kembali pada Allah Swt. Karena seburuk apapun dosa, Allah Swt pasti akan mengampuni hamba yang benar-benar kembali pada-Nya,” tegasnya.
Terakhir, Husain menegaskan kembali pentingnya peran akhlak qur’ani di era kemajuan teknologi. Menurutnya, sebagai individu harus menunjukkan pribadi dengan value tanpa meninggalkan agama.
“Jangan sampai teknologi mengendalikan kita, tapi kita yang harus mengendalikan teknologi. Jangan pula menakar kebahagiaan pada hal duniawi yang sifatnya sementara. Karena jika itu hilang, kebahagiaan pun ikut hilang. Sehingga, libatkan Allah Swt di setiap aktivitas agar mendapat kebahagiaan abadi,” pungkasnya.
Penulis: Bethari Sri Indrajayanti
Editor: Khefti Al Mawalia





