Universitas Airlangga Official Website

UNAIR dan Griffith University Perkuat Kebijakan dan Kemandirian Kesehatan di Desa Kemiren Banyuwangi

UNAIR NEWS – Rangkaian agenda International Community Service yang diinisiasi oleh Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Griffith University, Australia, mencapai puncaknya pada Rabu (11/02/2026). Setelah sukses melakukan pemetaan masalah pada hari pertama, agenda hari kedua difokuskan pada penguatan kebijakan lintas sektor serta edukasi pakar yang bertempat di Jantung Budaya Desa Adat Kemiren.

​Guna memastikan keberlanjutan intervensi pasca-kegiatan, acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan strategis yang terdiri dari Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, penanggung jawab bidang teknis Dinkes, Kepala Puskesmas, hingga Kepala Desa Kemiren. Kehadiran para pemangku kepentingan ini merupakan wujud nyata tindak lanjut atas koordinasi strategis yang telah dibangun sebelumnya.

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR, ​Prof Dr Ratna Dwi Wulandari, SKM MKes menekankan bahwa pengabdian masyarakat merupakan bentuk sinergi akademisi yang harus memberikan dampak terukur bagi publik. Ia turut memaparkan rencana strategis jangka panjang dari kolaborasi ini.

​”Kedepannya, kolaborasi ini tidak hanya berhenti di sini, namun akan diperluas hingga ke Australia sebagai bentuk kemitraan timbal balik yang setara antara UNAIR dan Griffith University,” tegas beliau.

​Selaras dengan hal tersebut, Ketua Pelaksana Prof Dr Nyoman Anita Damayanti, drg MS memberikan analisis kritis terkait optimalisasi Cek Kesehatan Gratis (CKG). Ia menyoroti capaian CKG Jawa Timur yang masih memerlukan penguatan, terutama pada aspek teknis penginputan data. Sehingga, pendampingan di tingkat desa menjadi variabel krusial dalam keberhasilan program.

​Sesi edukasi pada hari kedua menghadirkan pendekatan yang menyentuh aspek personal sekaligus fundamental. Prof. Dr. Ratna Dwi Wulandari menyampaikan materi mengenai pentingnya ASI Eksklusif melalui perspektif pengalaman pribadi sebagai ibu. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan menyusui merupakan hasil dari support system yang kuat, melibatkan suami, keluarga, dan lingkungan sekitar.

​Dukungan terhadap kesehatan keluarga juga dipertegas oleh Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi. Beliau memberikan imbauan keras mengenai kawasan tanpa rokok di sekitar ibu hamil dan anak-anak guna menekan risiko penyakit pernapasan di tingkat rumah tangga.

​Dari aspek fundamental, Dr. dr. Muhammad Atoillah Isfandiari, M.Kes., memaparkan integrasi nilai agama dalam mendukung program imunisasi dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM). Penjelasan ini memberikan pemahaman logis kepada masyarakat bahwa menjaga kesehatan melalui langkah preventif adalah bagian dari implementasi menjaga keselamatan jiwa (hifdzun nafs).

​Apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan datang dari perwakilan Griffith University, Muji Bul. Pria asal Bangladesh tersebut menyatakan kekagumannya terhadap kemandirian mahasiswa FIKKIA UNAIR dalam mengorganisir agenda internasional yang kompleks. Secara spesifik, ia menyoroti fenomena sosial di Banyuwangi di mana perempuan memiliki kemandirian tinggi, termasuk dalam mobilitas harian menggunakan sepeda motor—suatu hal yang masih jarang ditemui di daerah asalnya.

​Sebagai langkah konkret penutup rangkaian kegiatan, dilakukan penyerahan secara simbolis Tanaman Obat Keluarga (TOGA) kepada warga desa. Penyerahan ini difasilitasi oleh Diansanto Prayoga, S.KM., M.Kes. dan Syifa’ul Lailiyah, S.KM., M.Kes., selaku dosen FIKKIA UNAIR yang bertugas di Banyuwangi.

​Inisiasi ini diharapkan menjadi stimulus bagi masyarakat Kemiren untuk mencapai kemandirian kesehatan berbasis kearifan lokal. Melalui kolaborasi dua hari ini, UNAIR dan Griffith University membuktikan bahwa transformasi kesehatan masyarakat dapat dicapai melalui integrasi data analitis, dukungan kebijakan, dan aksi nyata yang menghargai nilai-nilai budaya setempat.

Penulis: Satria Farrely Ardiansyah