Universitas Airlangga Official Website

UNAIR Harus Tetap Semangat di 2026 yang Penuh Tantangan

Pergantian tahun baru dari 2025 ke 2026 kemarin di sambut dengan suka cita di banyak negara di dunia ini. Masyarakat menikmati suguhan kembang api, makan minum di hotelk-hotel, tempat -tempat wisata pun penuh dengan pengunjung. Mungkin untuk sementara masyarakat tidak ambil pusing dengan bagaimana kondisi sebenarnya di tahun 2026 ini. Sesaat mereka bergembira ria memandang langit yang penuh kembang api itu.

Namun bagi Prince Michael of Liechtenstein pendiri dan pemimpin Geopolitical Intelligence Services AG (GIG) tahun 2026 merupakan tahun yang penuh tantangan. Dalam analisanya di GIG tanggal 29 Desember 2025. Dunia memang terus berubah ditandai dengan berbagai inovasi teknologi, tapi dunia juga masih menyaksikan perang dimana-mana.

Dibidang ekonomi, Prince Michael menjelaskan bahwa selama 40 tahun terakhir, ada penekanan yang berkembang pada perdagangan bebas, ekonomi pasar, dan inovasi bisnis. Kemajuan signifikan telah dicapai, mengangkat sebagian besar umat manusia keluar dari kemiskinan ekstrem dan kelaparan. Momentum ini sekarang tampaknya terhenti. Fragmentasi politik saat ini dan rezim sanksi Barat telah menyebabkan pergeseran perdagangan dan peningkatan proteksionisme. Ini telah terungkap selama beberapa waktu, diam-diam didorong oleh langkah-langkah perlindungan peraturan Uni Eropa dan oleh struktur birokrasi dan subsidi Tiongkok. Baru-baru ini, masalah ini telah menjadi garis depan, terutama karena tarif Amerika Serikat.

Beliau mencatat adanya optimisme tentang potensi sains yang mengganggu, yang membuka jalan bagi aplikasi luar biasa yang menguntungkan masyarakat dan ekonomi. Meskipun kita dapat mengharapkan perubahan transformatif dalam perawatan kesehatan, hasil positifnya mungkin tidak langsung terlihat. Kecerdasan buatan dan teknologi blockchain siap berfungsi sebagai alat yang ampuh untuk meningkatkan efisiensi ekonomi dan infrastruktur. Jika peningkatan produktivitas manusia melalui teknologi ini tidak terhalang oleh regulasi yang berlebihan, maka dapat membuahkan hasil yang luar biasa. Namun, harapan bahwa itu akan menghilangkan kelemahan dari negara bagian yang terlalu besar adalah utopis. Teknologi baru membawa risiko yang melekat untuk dieksploitasi oleh pemerintah yang mencurigakan untuk memantau warganya, kecenderungan yang ditemukan di demokrasi dan otokrasi.

Dibidang politik beliau mengamati adanya dinamika dalam politik global selama beberapa tahun sekarang, dan semakin cepat: Mayoritas Global, terutama negara-negara berkembang, memainkan peran yang semakin penting di panggung internasional. Sementara Barat sering membingkai diskusi sebagai pertempuran antara demokrasi dan otokrasi, pada dasarnya adalah bentrokan antara negara-negara dengan populasi yang menyusut yang diwakili oleh G7 (Eropa, Amerika Utara dan Jepang) di satu sisi, dan Rusia, Cina, Korea Utara dan Iran di sisi lain.

Mayoritas Global tidak lagi mau menerima tatanan dunia yang dibangun terutama di atas prinsip-prinsip Barat. Konsep lama seperti hegemoni, bipolaritas atau unipolaritas menjadi usang. Hegemoni sejati, jika sudah ada lagi, sekarang terbatas pada tingkat regional.

Di Eropa kondisinya lebih bergejolak terutama karena soal konflik antara Rusia Vs Ukraina. Meskpun ada upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mendamaikan kedua negara yang berseteru, namun hasilnya masih sulit di prediksi. Sebagian besar negara-negara Eropa yang bergabung dalam NATO masih menganggap Rusia merupakan ancaman jangka panjang walaupun Presiden Rusia Vladimir Putin berkali-kali mengatakan mustahil Rusia punya rencana menyerang negara-negara Eropa. Kalau proses perjanjian damai yang diusulkan Donald Trump itu gagal, maka perang di Ukraina mungkin saja menjadi perang jangka panjang. Hal ini akan banyak berpengaruh pada dinamika politik dan menghambat pertumbuhan ekonomi tingkat global.

Dunia di tahun 2026 ini juga dihantui ambisi Amerika Serikat untuk menyerbu negara berdaulat Venezeula dan menggulingkan Presidennya Nicolas Maduro. Amerika Serikat dianggap secara sepihak mengebom beberapa perahu Venezeula karena dituduh membawa narkotika ke Amerika Serikat. Nicolan Maduro mengatakan bahwa sejatinya Amerika Serikat hanya menggunakan soal penyelundupan narkotika sebagai alasan, dan alasan sebenarnya Amerika Serikat adalah menguasa lada-ladang minyak dan gas bumi milik Venezeula.

Masyarakat dunia juga menyaksikan gejolak di Timur Tengah yang terus berlangsung terutama soal genosida yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina. Israel memiliki ambisi untuk membangun “the Great Israel” atau Israel Raya yang wilayahnya meliputi Palestina, Lebanon dan Syria. Kelakukan Israel yang membabi buta dan terang-terangan melanggar hukum internasional itu selalu dibela mati-matian oleh sekutu abadinya yakni Amerika Serikat. Tidak ketinggalan kawasan Asia Selatan, Asia dan Asia Tenggara juga masih memiliki konflik antar negara seperti antara Pakistan-Afghanistan, Pakistan-India, Thailand- Kamboja, Korea Utara-Korea Selatan, Laut Cina Selatan dsb.

Indonesia perlu menyadari bahwa perjalanan bangsanya untuk menuju masyarakat yang sejahtera itu dikelilingi dengan faktor eksternal yang tidak bersahabat.

Universitas Airlangga sendiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia juga menyaksikan dan merasakan dampak faktor eksternal yang penuh turbulensi itu. Namun Unair harus tetap semangat menghadapi itu semua dengan terus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi tanpa lelah. Salah satu faktor kunci keberhasilan-keberhasilan Unair saat ini yaitu Keguyuban diantara semua elemen Civitas Akademika harus tetap dijaga. UNAIR NEVER GIVE UP !