Saat ini Indonesia masih dalam tahap pemulihan ekonomi pasca covid terutama pada sektor pariwisata sehingga banyak upaya dari pemerintah untuk mengembalikan kestabilan pariwisata dengan mengutamakan 3 pilar dalam proses pemulihan yaitu inovasi, adaptasi dan kolaborasi seperti yang pernah disampaikan oleh Sandiaga Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. Menurut beliau sebagai bangsa yang besar maka kita seharusnya berkolaborasi serat memanfaatkan teknologi digital sebagai inovasi dan beradaptasi di tengah pemulihan ekonomi.
Maka sesuai dengan arahan pemerintah berdasarkan 3 pilar tersebut dalam perkembangan sektor pariwisata kedepannya adalah pariwisata yang berkelanjutan serta berbasis digital yang sangat membutuhkan keterlibatan generasi muda. Peran generasi muda yang di mana populasi gen-Z dan milenial merepresentasikan lebih dari 50% populasi di Indonesia menjadi peluang untuk pariwisata digital. Seperti yang kita ketahui generasi muda adalah generasi yang melek teknologi sehingga sangat mudah untuk beradaptasi dalam perkembangan digital. Hal tersebut menjadi potensi yang sangat besar dalam mempromosikan pariwisata dengan melibatkan generasi muda dalam promosi digital melalui media social. Banyak generasi muda sekarang yang menjadi influencer, tiktokers, selebgram yang di mana mereka memiliki banyak followers di social media sehingga menjadi peluang bagi pemerintah dalam meningkatkan pariwisata dengan berkolaborasi bersama mereka untuk mempromosikan destinasi-destinasi wisata di Indonesia.
Bahkan dengan taktik tersebut bisa dikatakan cukup berhasil karena setelah pasca pandemi banyak promosi untuk liburan atau berwisata yang cukup massive di social media karena keterlibatan generasi muda yang memiliki banyak followers sehingga memancing masyarakat yang jenuh di rumah selama pandemic untuk mulai merencanakan liburan. Apalagi bagi pekerja yang selalu work from home mulai beralih ke work from anywhere untuk mengurangi masa jenuh dan stress yang diakibatkan pandemic maka mereka bisa menikmati waktu untuk liburan namun tetap bisa menyelesaikan pekerjaan. Hal tersebut tentunya bisa terjadi dengan adanya upaya pemerintah dalam meningkatkan pariwisata digital yang di mana memberikan akses kemudahan dalam membooking tiket, penginapan, ataupun transportasi secara digital.
Namun ditengah momentum upaya pemerintah dalam meningkatkan pariwisata pasca pandemi, kita harus menghadapi isu global yaitu resesi pada tahun 2023. Sebenarnya hal tersebut sudah mulai kita rasakan dengan adanya kenaikan bahan pokok maupun bbm sehingga pemerintah juga meminta kita untuk menjaga kestabilan ekonomi pribadi dalam menghadapi resesi tersebut. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pariwisata karena jika terjadi resesi maka akan terjadi kenaikan pada suku bunga sehingga masyarakat harus berhemat untuk pengeluaran keuangan, hal ini juga akan membuat liburan atau wisata tidak menjadi list to do utama karena kita akan memprioritaskan kebutuhan primer seperti makanan atau membeli bahan pokok. Merespon isu tersebut maka pemerintah akan melakukan 10 langkah strategi berdasarkan hasil Rapat Koordinasi High Level (Rakor HL) sebagai berikut ini:
1. Melanjutkan dan mengoptimalkan pelonggaran wisatawan, termasuk dengan mengkaji penyempurnaan regulasi terkait visa.
2. Mendorong percepatan perbaikan kapasitas dan frekuensi angkutan udara, khususnya untuk menunjang mobilitas ke destinasi wisata, sejalan dengan permintaan yang meningkat.
3. Mempercepat pengembangan 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), termasuk dengan didukung oleh peningkatan dukungan amenitas dan penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan (quality tourism).
4. Melanjutkan pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan destinasi pariwisata lainnya, didukung oleh alokasi anggaran dan pengaturan pengelolaan aset yang telah terbangun.
5. Memastikan terselenggaranya event skala internasional dan nasional yang telah terjadwal, termasuk agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) 2022 dan rangkaian kegiatan pendukung keketuaan Asean pada 2023.
6. Meningkatkan sinergi dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE).
7. Melanjutkan dukungan insentif dan peningkatan akses pembiayaan bagi pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dan desa wisata, termasuk melalui dukungan kebijakan makroprudensial untuk sektor prioritas.
8. Mendorong sinergi program dalam pengembangan UMKM pendukung pariwisata dan desa wisata, termasuk memperluas digitalisasi transaksi pembayaran antara lain melalui QRIS dan memanfaatkan potensi dari QRIS antarnegara.
9. Mendorong promosi pembukaan pariwisata Indonesia yang lebih luas melalui rangkaian kegiatan Bangga Berwisata Indonesia (BBWI) 2023.
10. Mengakselerasi vaksinasi dan memperluas penerapan Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) berstandar SNI di destinasi wisata.
Dalam mendukung strategi pemerintah maka kita sebagai masyarakat terutama generasi muda dapat membantu pengembangan UMKM yang di mana sekarang banyak pelaku usaha UMKM mayoritas adalah kaum muda. Jika para generasi muda terus melakukan inovasi pada usaha mereka maka tidak menutup kemungkinan sektor pariwisata akan tetap stabil apalagi dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah.
Penguatan UMKM juga menjadi solusi dalam menghadapi resesi karena dampak dari resesi adalah salah satunya susah dalam mencari pekerjaan sehingga dengan memberdayakan UMKM maka akan adanya peluang lapangan pekerjaan untuk meminimalisir dampak tersebut.
Tentunya jika pemerintah terus meningkatkan pariwisata digital maka sector ini akan terus berkembang walaupun terjadi resesi. Seperti contoh, jika kita tidak bisa berwisata secara langsung maka kita masih bisa menikmati keindahan wisata dengan virtual tour pada event-event yang diselenggarakan secara online. Ini juga menjadi tugas bagi kita semua untuk menciptakan sustainable tourism di Indonesia sehingga sangat diharapkan untuk masyarakat terutama generasi muda yang berwisata tidak hanya berkunjung namun bisa memberikan dampak positif pada lingkungan, masyarakat, dan ekonomi di tempat tersebut.
Penulis: Kaligis Carlita Grace Caesaria (Mahasiswa S2 PSDM UNAIR)





