HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah penyakit infeksi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat penderitanya lebih rentan terhadap infeksi lain, termasuk tuberkulosis (TBC). Kombinasi HIV dan TBC merupakan masalah serius di dunia kesehatan, karena sulitnya diagnosis yang cepat dan akurat, khususnya pada pasien HIV yang sering kesulitan mengeluarkan dahak (sputum), sampel utama dalam diagnosis TBC.
Demi mengatasi kendala ini, para peneliti di Surabaya mencoba membandingkan dua metode diagnosis TBC menggunakan urine (air seni): uji Lipoarabinomannan (TB-LAM) dan GeneXpert MTB/RIF Ultra.
WHO sejak tahun 2019 telah merekomendasikan penggunaan tes urine TB-LAM sebagai metode diagnosis tambahan, terutama bagi pasien HIV dengan kondisi kekebalan tubuh yang lemah (CD4 <200 sel/mm³). Tes ini bersifat non-invasif, cepat, dan lebih nyaman bagi pasien.
Selain itu, GeneXpert MTB/RIF Ultra juga mulai diuji untuk mendeteksi DNA Mycobacterium tuberculosis (penyebab TBC) dalam urine, walaupun alat ini awalnya dirancang untuk sampel dahak.
Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. Soetomo pada Mei–September 2024 terhadap 82 pasien HIV, yang dibagi menjadi dua kelompok:
- 42 pasien HIV dengan TBC paru, dan
- 40 pasien HIV tanpa TBC paru.
Semua peserta menjalani pemeriksaan urine menggunakan dua metode: TB-LAM dan GeneXpert MTB/RIF Ultra.
- TB-LAM lebih sensitif dalam mendeteksi TBC paru pada pasien HIV (67%) dibandingkan GeneXpert Ultra (26,2%).
- Namun, GeneXpert Ultra lebih spesifik (100%) dibandingkan TB-LAM (95%) — artinya lebih jarang memberikan hasil positif palsu.
Menariknya, ketika CD4 pasien kurang dari 200, sensitivitas TB-LAM meningkat menjadi 86%, jauh lebih tinggi dibandingkan GeneXpert Ultra yang hanya 39%.
- Tes TB-LAM sangat berguna bagi pasien HIV yang sangat lemah daya tahan tubuhnya.
- Tes ini dapat membantu mendeteksi TBC dengan cepat, terutama ketika pasien tidak bisa mengeluarkan dahak untuk pemeriksaan.
- Walaupun GeneXpert Ultra akurat bila hasilnya positif, ia sering tidak mendeteksi infeksi yang sebenarnya ada jika digunakan dengan sampel urine.
TB-LAM paling efektif saat:
- Awal diagnosis sebelum terapi dimulai,
- Saat terapi intensif TBC (fase awal pengobatan), atau
- Sebagai alat pemantau efektivitas pengobatan.
Uji lipoarabinomannan dalam urine terbukti memiliki nilai diagnostik lebih baik dibandingkan GeneXpert MTB/RIF Ultra untuk mendeteksi TBC paru pada pasien HIV, terutama yang memiliki CD4 rendah. Tes ini bisa dijadikan alat bantu diagnosis tambahan — namun bukan pengganti total uji sputum yang tetap menjadi standar utama.
Jurnal ini bisa di akses pada :
https://jmpcr.samipubco.com/article_218148
Penulis :
Chiquita Hasri Mirandari, Aryati, Dwi Rahayuningsih, dan Musofa Rusli





