UNAIR NEWS – Delegasi dari UNAIR berhasil meraih Juara 2 dalam ajang Brawijaya SDGs Summit 2025. Tim bernama Doa Ibu tersebut terdiri dari Anindya Wita Wisesa, Elga Ignafia, dan Gaida Salsabila Arden, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi. Pagelaran ini adalah persembahan dari Kementerian Lingkungan Hidup Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB) yang berlangsung daring pada Jumat (31/10/2025).
Brawijaya SDGs Summit 2025 terselenggara dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi mahasiswa dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Tahun ini, Brawijaya SDGs Summit mengusung tema “Youth Act: Youth-Driven Action For Change and Transformation”. Gelaran ini menyoroti peran penting generasi muda dalam mendorong perubahan dan transformasi untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Solusi Cerdas untuk Pemantauan Hutan
Dalam kompetisi ini, mereka mengusung aplikasi inovatif bernama Greenity. Aplikasi ini menggabungkan teknologi transfer learning dan XGBoost untuk mendeteksi dan memprediksi deforestasi. Sebagai upaya mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 15, yang berfokus pada pelestarian ekosistem darat.
Aplikasi Greenity mereka rancang untuk menganalisis citra satelit dan data lainnya guna mendeteksi apakah suatu area hutan terancam deforestasi. Selain itu, aplikasi ini juga dapat memprediksi potensi ancaman deforestasi di masa depan. Terlebih lagi, aplikasi ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pemantauan dan pengelolaan hutan secara real-time. Solusi ini mereka harapkan dapat membantu pihak berwenang untuk merespons lebih cepat terhadap kerusakan hutan, dengan fokus pada keberlanjutan ekosistem.
Mencari Solusi yang Tepat
Anindya Wita Wisesa, salah satu anggota tim, mengungkapkan bahwa ide untuk aplikasi ini berawal dari riset mendalam mengenai isu lingkungan yang relevan. “Kami ingin mengembangkan solusi yang bisa mengatasi masalah lingkungan terkini. Setelah melakukan riset, kami memutuskan untuk menggabungkan teknologi machine learning, khususnya transfer learning dan XGBoost, untuk mendeteksi dan memprediksi deforestasi melalui citra satelit,” kata Anindya.
Tim menghadapi tantangan terbesar dalam memilih algoritma yang tepat agar model yang mereka kembangkan bisa menghasilkan akurasi yang tinggi. “Setelah beberapa eksperimen, kami berhasil mencapai akurasi sekitar 90% dengan metode transfer learning, yang menjadi solusi terbaik untuk masalah ini,” jelas Anindya.
Salah satu tantangan terbesar tim adalah menemukan ide yang relevan dan tepat untuk masalah lingkungan yang sedang berkembang. “Kami memerlukan waktu untuk riset dan memahami permasalahan yang dapat kami selesaikan dengan teknologi. Setelah beberapa kali brainstorming, kami menemukan bahwa menggunakan citra satelit dan machine learning adalah solusi yang tepat,” ujar Anindya.
“jujur lumayan excited buat ikut lomba ini. Tim kami tipikal punya banyak banget ide dan setelahnya kami memilih ide yang paling relevan, dan disitu kami mempelajari banyak hal baru. perjalanan tim kami juga ngga sampai di lomba ini aja, karena untuk seterusnya akan ada perlombaan lain yang harus ditaklukan,” ujar Anindya dengan semangat.
Dengan prestasi ini, tim Doa Ibu berharap inovasi mereka dapat terus diterapkan untuk menjaga kelestarian hutan, serta berkontribusi pada pelestarian ekosistem dunia.
Penulis: Saffana Raisa Rahmania
Editor: Ragil Kukuh Imanto





