Universitas Airlangga Official Website

Validitas dan Reliabilitas pada Instrumen Instabilitas Banff Patellar versi Bahasa Indonesia

Foto by Halodoc

Sindrom nyeri patellofemoral atau PFPS merupakan jenis nyeri lutut yang kondisinya dapat semakin buruk dengan adanya peningkatan beban pada sendi lutut, seperti melompat, jongkok, berlari, dan naik turun tangga. Adanya ketidakstabilan tulang tempurung lutut terhadap tulang femur menjadi penyebab paling umum akan meningkatnya morbiditas pada pasien. Selain persoalan instabilitas dan munculnya nyeri pada daerah sekitar lutut, pasien juga dapat mengalami penurunan tingkat aktivitas yang dapat menyebabkan menurunnya kualitas hidup yang harus diatasi.

Evaluasi terhadap penanganan instabilitas patellofemoral ditengarai dapat meningkatkan perawatan dan efisiensi pembelajaran yang dapat mengarah pada pembuatan instrumentasi yang lebih akurat dan relevan. Beberapa instrumen yang telah digunakan dalam menganalisis tingkat keparahan instabilitas patellofemoral yaitu sistem penilaian Kujala patellofemoral dan Instrumen Instabilitas Banff Patellar (BPII).

Sistem penilaian Kujala patellofemoral telah banyak digunakan untuk menilai pasien dengan nyeri lutut anterior serta instabilitas patellofemoral sejak publikasi pertamanya pada tahun 1993. Namun penilaian Kujala hanya dapat mengevaluasi permasalahan nyeri pada pasien dewasa. Sedangkan Instrumentasi Instabilitas Banff Patellar yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2013, memiliki pendekatan yang lebih holistik dalam mengevaluasi ketidakstabilan patellofemoral pada pasien yang menderita sindrom nyeri patellofemoral. Penilaian BPII mencakup 32 pertanyaan yang terdiri atas beberapa aspek yaitu gejala dan keluhan fisik, pekerjaan, olahraga, kegiatan saat waktu luang, dan gaya hidup dari sisi emosional dan sosial. BPII diperbaharui pada tahun 2016 menjadi BPII 2.0 yang terdiri dari 23 pertanyaan.

Dilansir dari studi multicenter dari tiga klinik bedah orthopaedi yang dilakukan oleh Lafave et al (2020), yang menguji validasi BPII 2.0 dengan Paediatric International Knee Documentation Committee (Pedi-IKDC) pada pasien remaja, mengungkapkan bahwa BPII 2.0 menunjukkan validitas yang baik dengan korelasi yang cukup kuat (r = 0,65) dengan Pedi-IKDC. Selain itu, pasien merespon baik terhadap pertanyaan-pertanyaan BPII 2.0 yang dianggap mudah dipahami dan cukup esensial. Hiemstra et al (2013) dan Lafave et al (2016) melaporkan bahwa BPII 2.0 telah diterjemahkan dan divalidasi secara resmi untuk penutur bahasa Jerman dari Jerman, Austria, dan Swiss dan saat ini sedang divalidasi dalam bahasa Belanda, Spanyol, Portugis, Finlandia, dan Prancis. Namun, penilaian BPII 2.0 masih belum tersedia dalam Bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, peneliti melakukan pengkajian lebih lanjut untuk pengembangan BPII 2.0 dalam versi bahasa Indonesia dalam mengevaluasi validitas dan reliabilitasnya.

Penelitian dilakukan dengan analisis cross-sectional menggunakan protokol forward-backward translation. Sebanyak tiga puluh pasien (19  (63,3%)  laki-laki  dan  11  (36,7%)  perempuan) dari klinik rawat jalan orthopaedi dari rumah sakit diberikan kuesioner dengan beberapa kriteria inklusi yaitu nyeri lutut bagian depan, pasien berusia 10 – 60 tahun, dan fasih berbahasa Indonesia. Sementara itu, diagnosa PFPS ditegakkan oleh ahli bedah orthopaedi berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik. Setelah dilakukan proses penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia, kemudian hasil akhir temuan ini diterjemahkan kembali ke dalam bahasa inggris, yang kemudian diperiksa kemiripannya dengan versi asli Bahasa inggris.  Validitas kuesioner BPII 2.0 versi Bahasa Indonesia dievaluasi dengan menganalisis korelasi antara nilai setiap subskala dan nilai keseluruhan terhadap BPII 2.0 dan sistem penilaian Kujala versi bahasa Indonesia menggunakan koefisien korelasi Pearson, sedangkan reliabilitas dievaluasi dengan mengukur konsistensi internal (Cronbach α) dan reliabilitas tes yang dilakukan secara berulang yang diukur dengan interclass correlation coefficient (ICC). Prosedur pengulangan tes dilakukan dalam interval 7 hari karena efek klinis pasien dengan PFPS belum mengalami peningkatan dalam waktu singkat. Selama 7 hari, pasien menerima pengobatan oral dan perawatan fisioterapi.

Hasil dari penelitian ini merepresentasikan nilai BPII 2.0 versi Indonesia dan nilai Kujala versi Indonesia yang menunjukkan koefisien korelasi Pearson yang kuat dalam menciptakan validitas. Dari semua subskala, Cronbach α yang digunakan untuk menentukan konsistensi internal, memiliki nilai 0,90–0,98, yang menunjukkan konsistensi internal yang memadai. Reliabilitas dari pengujian berulang cukup tinggi, dengan ICCmulai dari 0,89 sampai 0,98 untuk semua subskala. Tidak terdapat perbedaan respon BPII 2.0 versi Indonesia antara pemberian kuesioner pertama dan kedua yang dilakukan 7 hari setelahnya. Dari penelitian ini, BPII 2.0 versi Bahasa Indonesia ini dinyatakan valid dan reliabel dan karenanya merupakan instrumen objektif untuk mengevaluasi instabilitas patellofemoral pada pasien dengan PFPS pada populasi Indonesia.

Namun demikian, studi ini masih memiliki banyak limitasi. Perbandingan dari temuan saat ini terbatas karena kurangnya studi adaptasi BPII 2.0 ke bahasa lain dan juga kurangnya penilaian versi bahasa Indonesia yang mengukur kualitas hidup pasien dengan instabilitas patellofemoral. Selain itu, peneliti hanya mengevaluasi pasien pra operasi dan demografi subjek penelitian kurang heterogen, dimana populasi remaja masih sedikit, serta variabel lain seperti tingkat pendidikan dan suku juga belum mendukung. Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia, sehingga temuan ini belum bisa berlaku untuk semua penduduk berbahasa Indonesia karena perbedaan bahasa dan budaya di berbagai daerah. Diperlukan lebih banyak studi dengan sampel populasi yang lebih besar dan lebih merata dari berbagai tempat. Terlepas dari banyaknya pengembangan yang harus dilakukan, temuan ini adalah penelitian pertama yang memvalidasi metode penilaian sindrom nyeri patellofemoral pada pasien di Indonesia.

Penulis: Sholahuddin Rhatomy, Ludwig Andre Pontoh, Krisna Yuarno Phatama, Heppy Chandra Waskita, Muslich Idris Al Mashur, Jessica Fiolin, Faiz Alam Rasyid, Dwikora Novembri Utomo, Ismail Hadisoebroto Dilogo

Link: https://link.springer.com/article/10.1007/s00590-022-03336-6

Judul Jurnal: The Banff Patellar Instability Instrument: validity and reliability of an Indonesian version

Dipublikasikan di: European Journal of Orthopaedic Surgery & Traumatology