Universitas Airlangga Official Website

Waspada Ancaman Baru di Budidaya Ikan Gabus: Aeromonas schubertii Penyebab Bintil Putih

Sumber: Health Kompas

Ikan gabus (Channa striata) kini semakin populer di Asia Tenggara. Rasanya yang gurih, khasiatnya yang dipercaya dapat mempercepat penyembuhan luka, serta nilai jualnya yang tinggi membuat permintaan ikan ini terus meningkat. Di Thailand, gabus bahkan menempati posisi kelima sebagai ikan air tawar yang paling banyak dibudidayakan. Namun, di balik peluang besar ini, muncul tantangan baru berupa penyakit menular yang bisa menurunkan produktivitas dan mengancam keberlangsungan usaha para pembudidaya.

Belakangan ini, para peneliti menemukan penyebab penyakit baru yang menyerang gabus, yaitu bakteri Aeromonas schubertii. Awalnya, bakteri ini lebih dikenal sebagai penyebab infeksi pada manusia. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa bakteri ini juga bisa menyerang ikan, termasuk gabus, dan menimbulkan dampak yang cukup serius.

Kasus pertama terdeteksi di sebuah kolam pembesaran di Provinsi Nakhon Pathom, Thailand. Banyak ikan gabus muda terlihat lemas, berenang tidak normal, mengalami luka pada kulit dan sirip, bahkan ditemukan bintil putih atau granuloma di organ dalam seperti hati, limpa, dan ginjal. Dalam waktu hanya satu bulan, hampir 40% ikan di kolam tersebut mati.

Untuk memastikan penyebabnya, para peneliti melakukan pemeriksaan laboratorium. Bakteri dari organ ikan yang sakit diisolasi, kemudian dianalisis dengan teknologi modern seperti MALDI-TOF MS dan sekuensing gen. Hasilnya jelas: pelaku utamanya adalah Aeromonas schubertii. Tidak berhenti di situ, tim peneliti juga melakukan uji infeksi buatan pada ikan gabus sehat. Hasilnya cukup mengejutkan. Tingkat kematian mencapai 86% pada dosis tertinggi, dan bintil putih di organ dalam mulai terlihat sejak minggu pertama hingga minggu ketiga setelah infeksi. Dengan kata lain, bakteri ini tergolong sangat berbahaya karena mampu menyebabkan kematian massal dalam waktu singkat.

Temuan ini menjadi peringatan serius bagi dunia akuakultur. Infeksi A. schubertii pada gabus merupakan laporan pertama di Thailand, dan bisa menjadi ancaman baru bagi negara-negara lain di Asia Tenggara yang juga aktif membudidayakan ikan ini. Apalagi, gejala penyakit yang ditimbulkannya mirip dengan infeksi bakteri lain, sehingga mudah terlewat jika tidak ada pemeriksaan khusus.

Apa yang bisa dilakukan pembudidaya? Kuncinya adalah pencegahan. Pemantauan kesehatan ikan secara rutin, menjaga kualitas air, mengatur kepadatan tebar, serta menerapkan biosekuriti yang ketat sangatlah penting untuk mencegah penyebaran penyakit. Selain itu, para peneliti juga mendorong pengembangan vaksin atau metode pengendalian baru, sebab penggunaan antibiotik saja tidak cukup efektif dan justru berisiko menimbulkan resistensi.

Kasus ini menunjukkan bahwa penyakit ikan bukan sekadar masalah teknis di kolam, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan, ekonomi, bahkan kesehatan masyarakat. Kehadiran Aeromonas schubertii harus menjadi perhatian bersama, agar budidaya ikan gabus yang menjanjikan ini bisa terus berkembang dengan aman dan berkelanjutan.

Penulis: Dr. Hartanto Mulyo Raharjo, drh., M.Si.

DOI: https://link.springer.com/article/10.1007/s10499-025-02187-2