Upaya meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja terus dilakukan, terlebih di tengah tantangan era digital dan tingginya kasus perilaku berisiko di kalangan pelajar. Salah satu inovasi yang diujicobakan adalah HEY (Health Educator for Youth), sebuah website edukasi kesehatan yang dirancang agar sesuai dengan cara belajar generasi muda. Program ini diterapkan pada 50 siswa SMAN 1 Turen, Malang, dan hasilnya menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.
Sejak awal, para siswa mengikuti rangkaian pelatihan sebagai calon peer educator. Mereka dikenalkan pada delapan topik utama, mulai dari ciri-ciri masa remaja, gaya hidup sehat, isu body shaming dan diet, hingga kesehatan reproduksi, manajemen cinta, kemampuan berkata “tidak”, cara mengatasi stres, dan mengatur waktu. Seluruh materi dikemas dengan pendekatan edutainment, yakni perpaduan edukasi dan hiburan agar siswa tidak cepat bosan.
Metode yang digunakan sederhana tapi efektif. Setiap siswa diminta mengerjakan pre-test sebelum menonton video pembelajaran, lalu mengerjakan post-test setelah memahami materi. Cara ini membuat mereka bisa langsung menilai perubahan pemahaman diri mereka sendiri. Hasilnya cukup mencolok. Rata-rata nilai awal berada di angka 64,5, sedangkan nilai setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan melonjak menjadi 86,2. Analisis statistik juga menunjukkan peningkatan ini signifikan.
Beberapa topik menjadi perhatian khusus. Materi tentang body shaming, gizi, dan diet remaja memperoleh nilai tertinggi, yang menunjukkan bahwa isu ini memang dekat dengan keseharian mereka. Sebaliknya, materi mengenai stres dan mekanisme coping memperoleh skor pasca pelatihan paling rendah dibanding topik lain. Hal ini menandakan bahwa persoalan kesehatan mental masih menjadi tantangan dan memerlukan pendekatan lebih mendalam.
Temuan menarik lainnya adalah besarnya pengaruh lingkungan sebaya. Karena peserta yang dipilih adalah siswa aktif organisasi, keterlibatan mereka berpotensi mendorong teman-teman lain memahami isu kesehatan dengan lebih mudah. Inilah mengapa pendekatan peer educator dianggap relevan: remaja cenderung lebih terbuka ketika belajar dari teman sebayanya dibanding orang dewasa.
Program ini juga sekaligus menjawab meningkatnya kebutuhan media edukasi yang ramah digital. Hampir seluruh remaja kini sudah terbiasa dengan ponsel dan internet, sehingga penyampaian informasi melalui website menjadi jauh lebih efektif dibanding media lama seperti leaflet atau poster. Materi dalam HEY disusun ringkas, tidak menghabiskan banyak kuota, dan bisa diakses kapan pun, membuat pelajar lebih leluasa mempelajarinya.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa platform digital seperti HEY mampu meningkatkan pengetahuan siswa dalam waktu relatif singkat. Peningkatan pengetahuan ini diharapkan tidak berhenti pada angka tes, tetapi benar-benar mendorong perubahan perilaku, terutama terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan perilaku berisiko. Terlebih, Malang merupakan wilayah dengan angka pernikahan dini dan kasus penyalahgunaan narkoba remaja yang cukup tinggi, sehingga intervensi pendidikan berbasis teknologi sangat dibutuhkan.
Secara keseluruhan, keberhasilan HEY menunjukkan bahwa edukasi kesehatan remaja harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pendekatan yang interaktif, dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja, serta memberi ruang bagi mereka untuk berdiskusi dan berekspresi terbukti lebih mudah diterima. Bila dikembangkan lebih luas, platform semacam ini berpotensi menjadi langkah strategis dalam mendorong remaja Indonesia tumbuh sehat secara fisik, mental, dan sosial.
Link Artikel : https://e-journal.unair.ac.id/PROMKES/article/view/57390
Penulis: Prof. Ira Nurmala, S.KM., MPH, Ph.D.





