Universitas Airlangga Official Website

Workshop FIKKIA, Peneliti BRIN Paparkan Inovasi Nanopartikel dan Radiofarmaka di Dunia Medis

Sekelompok wanita mengenakan jas lab, berdiskusi di dalam laboratorium dengan peralatan ilmiah di sekitar mereka
Mahasiswa FIKKIA Melakukan Pencampuran Bahan Nano Kurkumin untuk Proses Kapsulasi (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Pengobatan manusia dan hewan terus berkembang mengikuti zaman. Berbagai teknik dan bahan aktif tercipta berkat inovasi pengetahuan. Beberapa tahun terakhir penggunaan nanopartikel dan radiofarmaka semakin masif untuk dunia riset ataupun terapi medis. 

Peneliti Madya Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB) BRIN, Muhammad Basit Febrian MSi mengatakan nanopartikel umumnya berukuran 10-500 nm. Nanopartikel terdiri dari gabungan atom atau molekul sebagai bagian nanomaterial. Tetapi ukuran tersebut belum memiliki konsensus baku. Nanopartikel juga bersifat stabil secara fisik dengan sifat unik daripada penyusunnya.

Dalam dunia medis, zat obat berukuran nanopartikel mempermudah bahan aktif terserap oleh tubuh pasien. “Contohnya terapi kanker menggunakan nanopartikel HAP Zr melalui injeksi berpengaruh lebih efektif daripada ukuran normal,” katanya.

Basit menuturkan nanopartikel juga bermanfaat dalam penyerapan nutrisi ternak. Penggunaan probiotik cair komersial saat mencapai lambung unggas cenderung membuat kandungan tidak stabil. Kecenderungan tersebut membuat kinerja probiotik menjadi tidak maksimal di intestinal berikutnya sebagai organ target utama.

Grup orang berpose di depan latar belakang hijau untuk diabadikan dalam foto
Foto Bersama Kegiatan Seminar Nanopartikel dan Radiofarmaka di Ruang Sidang Kampus Giri (Foto: Istimewa)

Penggunaan teknik tambahan enkapsulasi untuk zat organik dan pelapisan dalam zat anorganik menjadi solusi perlindungan. “Pembuatan nanoprobiotik untuk daya tahan unggas dapat menggunakan lapisan nanokitosan. Kapsulasi melindungi bahan organik dari kerusakan saat transportasi dalam tubuh menuju tujuan organ,” tuturnya.

Lebih lanjut, Basit menguraikan, radiofarmaka merupakan radioisotop yang bermanfaat dalam bidang diagnostik dan terapi. Fungsi diagnostik bermanfaat tanpa memiliki aksi ionisasi seperti sinyal Gamma serta X-Ray. Penggunaan terapi radiofarmaka menggunakan radiasi dengan jarak tembus pendek seperti gelombang beta dan alpha. 

Gelombang radiasi pendek dapat menghancurkan organ abnormal dalam terapi nekrosis kanker. “Penggunaan radiofarmaka harus memiliki alat perlindungan diri khusus bagi pengguna untuk melindungi dari paparan bahaya radioaktif menerus. Seperti celemek timbal,” jelas Basit. 

Penggunaan bahan radiasi lainnya yaitu sebagai penanda penyerapan obat melalui radiolabeling. Obat telah mendapat penambahan zat radioaktif yang aman bagi tubuh untuk mengetahui penyebaran dalam tubuh. “Radiolabeling dapat mendeteksi penyerapan onsite obat pada organ tubuh. Sehingga efektivitas obat menuju organ target dapat diketahui,” ucapnya.

Untuk diketahui, materi inovasi nanopartikel dan radiofarmaka tersebut disampaikan Basit dalam kuliah tamu dan workshop bertajuk “Nanopartikel dan Radiofarmaka”. Workshop tersebut terselenggara oleh Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi. Kegiatan bertempat di Ruang Sidang dan Laboratororium Terpadu 3 Kampus Giri pada Selasa (4/12/2024). 

Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Yulia Rohmawati