Operator SPBU rawan mengalami gangguan kesehatan, Oleh karena stasiun pengisian bahan bakar merupakan sumber utama dari beberapa senyawa organik yang mudah menguap termasuk didalamnya benzene. Benzena merupakan konstituen bensin yang digunakan untuk meningkatkan nilai oktan dan salah satu kontaminan utama lingkungan. Benzene diklasifikasikan sebagai kategori 1A karsinogen oleh Uni Eropa (EU) dan kelompok 1 karsinogen manusia oleh International Association Research of Cancer (IARC). Apabila pajanan benzena yang berasal dari BBM SPBU tidak dapat dikurangi maka akan dapat mengakibatkan peningkatan risiko gangguan kesehatan pada pekerja berupa gangguan hematologis. Sampai saat ini penelitian tentang pajanan benzena pada SPBU masih perlu diperjelas, terutama terkait kajian tentang keluhan kesehatan yang dialami oleh operator SPBU.
Keterpaparan terhadap benzene menurut beberapa literature dapat menyebabkan penyakit hematologis seperti leukemia dan sindrom myelodysplastic. Selain itu Orang-orang yang bekerja di tempat dengan konsentrasi benzena tinggi memiliki keluhan perasaan ketidaknyamanan fisik, bila terjadi keracunan maka mereka akan mengalami gejala umum keracunan antara lain sakit kepala, pusing dan kelelahan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang profil hematologi, status gizi dan keluhan kesehatan operator SPBU Pertamina di Kota Makassar.
Penelitian yang telah dilakukan pada operator SPBU di Makasar sebanyak 29 orang operator SPBU. Data primer yang dikumpulkan antara lain karakteristik responden, keluhan kesehatan, pemeriksaan profil hematologis dan pengukuran status gizi. Data profil hematologi diperoleh melalui pemeriksaan hematologi pada Laboratorium Klinik Prodia Makassar, status gizi. Analisis data penelitian dilakukan secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukan adanya keluhan kesehatan pekerja yan dirasakan selama 1 tahun terakhir antara lain sakit kepala/pusing (69%) , sempoyongan/mata berkunang-kunang ketika bangun dari duduk/jongkok (48,3%), sesak napas/dada (24,1%), batuk-batuk (65,5%), kurang napsu makan (37,9%), mata perih/berair/rasa terbakar (17,2%), mual/gangguan lambung/maag ( 55,2 %) , kulit gatal-gatal/rasa terbakar ( 6,9%).
Hasil pemeriksaan profil hematologi operator pengisian BBM SPBU di Kota Makassar, sebanyak 10,3% kadar Hb yang tidak normal. Untuk proporsi profil hematokrit 6,9% memiliki kadar tidak normal. Untuk proporsi profil eritrosit sebanyak 3,4% memiliki kadar tidak normal. Untuk proporsi profil MCV dan MCH semuanya 100% memiliki kadar normal. Untuk proporsi profil MCHC yang memiliki tidak normal sebanyak 3,4%. Untuk proporsi profil RDW-CV yang memiliki kadar tidak normal sebanyak 6,9%. Untuk proporsi profil trombosit yang memiliki kadar tidak normal sebanyak 10,3%. Untuk proporsi profil leukosit dengan kadar tidak normal sebanyak 10,3%. Untuk proporsi profil basofil dengan kadar tidak normal sebanyak 10,3%. Untuk proporsi profil eosinofil dengan kadar tidak normal sebanyak 65,5%. Untuk proporsi profil neutrofil dengan kadar tidak normal sebanyak 27,6%. Untuk proporsi profil limfosit dengan kadar tidak normal sebanyak 17,2%. Untuk proporsi profil monosit dengan kadar tidak normal sebanyak 27,6%. Dan untuk proporsi profil LED dengan kadar tidak normal sebanyak 6,9%.
Status gizi diukur menggunakan metode antropometri yaitu menghitung Indeks Massa Tubuh dari subjek penelitian yang selanjutnya dibagi dalam tiga kategori standar batas IMT yaitu kurus, normal dan lebih. Hasil penelitian ini menemukan bahwa proporsi operator pengisian BBM SPBU yang memiliki status gizi paling banyak pada kategori normal sebanyak 58,7%, selanjutnya urutan kedua terbanyak adalah yang memiliki status gizi kategori lebih sebanyak 24,1% dan paling sedikit pada kategori kurus sebanyak 17,2%. Gizi kerja merupakan salah satu syarat untuk menjaga derajat kesehatan yang optimal. Masyarakat pekerja, bila memiliki status gizi yang baik dan ditunjang dengan lingkungan kerja yang bersih maka dapat meningkatkan produktivitas kerja. Operator dengan keadaaan gizi yang baik akan memiliki kapasitas kerja dan ketahanan tubuh yang lebih baik, begitu juga sebaliknya pada pekerja dengan keadaan gizi buruk dan beban kerja berat akan mengganggu kerja dan menurunkan efisiensi serta ketahanan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit dan mempercepat kelelahan.
Penulis: Prof. Dr. Tri Martiana, dr., MS
Link: https://rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2022-15-3-4





