Universitas Airlangga Official Website

Sifilis Sekunder Menyerupai Keganasan pada Kondisi HIV Positif

Foto by Hello Sehat

Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum subspecies pallidum. Sekitar 10-90 hari setelah terpapar, bakteri T. pallidum menyebabkan lesi primer berupa papul berukuran 0.5-1.5 cm yang mengalami ulserasi dan dapat sembuh spontan dalam 3-6 minggu. Dalam beberapa minggu hingga bulan, bakteri T. pallidum dapat terdiseminasi di seluruh tubuh, menyebabkan gejala klinis berupa makula berwarna merah tembaga, diskret, berukuran 0.5-2 cm, dan bersisik. Kondisi ini dikenal dengan nama sifilis sekunder.

Dalam 2 dekade terakhir didapatkan peningkatan kembali insidensi sifilis, terutama pada populasi lelaki seks lelaki (LSL) dan HIV/AIDS. Schmidt dkk. menemukan perilaku seroadaptif pada populasi LSL dan HIV, dimana populasi melakukan hubungan seksual berdasarkan status HIV pasangan. Meskipun dapat menurunkan penyebaran HIV, perilaku ini meningkatkan kemungkinan tidak menggunakan kondom sebanyak 6.62 kali, sehingga risiko terjangkit infeksi menular seksual, seperti sifilis, meningkat. Pada penderita HIV/AIDS seringkali terjadi manifestasi klinis yang tidak biasa, ditambah dengan kemungkinan serologi negative palsu pada pemeriksaan, dan efikasi terapi menurun. Salah satu bentuk manifestasi klinis yang langka pada penderita HIV adalah sifilis maligna. Sifilis maligna merupakan bagian dari sifilis sekunder dengan bentuk klinis menyerupai keganasan, sehingga diberikan nama “maligna”.

Pasien lelaki-seks-lelaki berusia 24 tahun mengeluhkan bercak merah tersebar ke seluruh tubuh disertai lecet pada penis dan beberapa benjolan di sekitar anus 2 bulan sebelum pemeriksaan. Pada lipat paha dan pipi terdapat gatal. Pemeriksaan fisik regio generalisata didapatkan lesi noduloulseratif dengan nekrosis yang pada mikroskop lapang gelap tampak bakteri spirochete. Ditemukan pula korona venerik, roseola sifilitika, ulkus indolen, dan kondilomata lata. Regio inguinalis, gluteus, dan faciei terdapat makula eritematosa dengan skuama halus dengan KOH positif spora dan hifa. Titer VDRL 1:512 dengan TPHA reaktif. Rapid HIV reaktif dengan viral load 470 sell/µl. Pasien didiagnosis dengan sifilis maligna, tinea cruris et faciei, dan HIV positif. Pasien mendapatkan terapi benzatin penisilin 2.400.000unit, griseofulvin 2x500mg, dan antiretroviral. Terjadi perbaikan klinis dengan penurunan titer VDRL menjadi 1:32 dan KOH negatif satu bulan setelah terapi.

Sifilis maligna, dikenal dengan sifilis maligna praecox, lues maligna, atau sifilis rupioid, dibedakan dengan bentuk klinis sifilis sekunder pada umumnya dengan ditemukannya gejala klinis yang lebih berat dengan lesi pleomorfik dan terutama bentuk ulseronekrotikan menyerupai tiram (rupia). Sebelum munculnya gejala klinis sering didapatkan keluhan demam, nyeri kepala, nyeri sendi dan otot. Pada kulit lalu didapatkan pustul, nodul, dan ulserasi berwarna merah tembaga. Lesi ini bisa berkembang menjadi nekrosis dengan krusta. Lesi ini dapat disertai dengan gejala pembesaran kelenjar getah bening dan hepatosplenomegali. Penegakan diagnosis sifilis maligna dapat didukung dengan gejala klinis, karakter histopatologis, ditemukannya titer VDRL yang tinggi, reaksi Jarisch-Herxheimer yang berat, dan perbaikan klinis yang baik dari gejala dengan terapi yang adekuat. Terapi 2.400.000 unit benzatin penisilin, sesuai pedoman terapi RSUD dr. Soetomo dan CDC, telah memberikan resolusi yang baik secara klinis maupun laboratorium.

Pada lesi di wajah, pantat, dan paha didapatkan makula kemerahan disertai rasa gatal. Lesi pada sifilis biasanya tidak gatal, sehingga perlu dipikirkan kemungkinan penyebab lain. Pada awal kedatangan, lesi gatal hanya tampak sebagai bercak kemerahan. Setelah pengobatan benzatin penisilin dan antiviral selama 3 bulan, lesi gatal tampak lebih aktif pada bagian tepi dengan central healing. Pemeriksaan KOH pada lesi tersebut didapatkan spora dan hifa yang mendukung diagnosis sekunder tinea cruris et faciei atau jamur kulit. Pengobatan dengan obat antijamur griseofulvin selama 1 bulan menunjukkan perbaikan klinis yang baik. Hasil KOH negatif pasca terapi membuktikan keberhasilan terapi.

Sebagai kesimpulan, manifestasi klinis dari sifilis beragam dan dapat menyerupai berbagai penyakit lain. Populasi HIV positif rentan terhadap bentuk atipikal dari sifilis sekunder yang dikenal sebagai sifilis maligna, sehingga mudah terjadi dapat memperlambat ataupun salah diagnosis. Gejala gatal jarang diasosiasikan dengan lesi sifilis, sehingga perlu dipertimbangkan koinfeksi penyakit lain, seperti contohnya tinea pada kasus ini. Pemeriksaan penunjang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis, menemukan koinfeksi, dan menyingkirkan diagnosis banding.

Penulis : Diah Mira Indramaya,dr.,Sp.KK(K)

Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36149278/

A single dose of benzathine penicillin G as an effective treatment for malignant syphilis in an HIV-positive patient: a case report

Natalia Tanojo, Dwi Murtiastutik, Maylita Sari, Astindari, Septiana Widyantari, Afif Nurul Hidayati, Diah MiraIndramaya