Di Indonesia, 8% pria dan 2% wanita pernah melakukan hubungan seksual antara usia 15-24 tahun, 12% kehamilan yang tidak diinginkan dilaporkan oleh perempuan, sedangkan laki-laki hanya 7%. Seks pranikah juga dapat berdampak pada pernikahan dini. Pada tahun 2016, persentase wanita dengan usia perkawinan pertama sebesar kurang dari 17 tahun di Provinsi Jawa Timur sebesar 21,16% dan di Surabaya sebesar 9,31% . Pada tahun 2017, Bangkalan mencatat pernikahan pasangan di bawah usia 18 tahun mencapai 26,04%.
Menanggapi urgensi dampak negatif seks pranikah, Pemerintah Indonesia melalui BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional), mendirikan PIK-R (Pusat Informasi dan Program Konseling Remaja). PIK-R adalah platform yang dikembangkan oleh program bernama Generation Planner atau Generasi Berencana (GenRe) dibentuk oleh dan untuk remaja. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan konseling tentang kecakapan hidup, kesehatan reproduksi remaja atau TRIAD KRR (seksualitas, HIV/AIDS, penyalahgunaan narkoba) dan sebagainya upaya menekan usia perkawinan. PIK-R biasanya didirikan di sekolah-sekolah setempat dan komunitas.
Sebanyak 144 responden siswa kelas XI dan XII di sebuah SMA di Bangkalan yang memiliki smartphone mengisi Google form yang berisi 12 pertanyaan. Responden wanita merupakan mayoritas dalam penelitian dengan 95 responden (66%) sedangkan laki-laki hanya terdiri 49 responden (34%). Usia responden berkisar antara 16-19 tahun dengan responden terbanyak berusia 17 tahun, yaitu 73 responden (50,7%). Hanya satu responden yang tidak pernah mengakses informasi tentang seks (0,7%), sedangkan 143 responden (99,3%) memiliki informasi seks.
Responden yang sering memanfaatkan layanan PIK-R sebanyak 41 responden (28,5%). Hal ini menunjukkan kurangnya minat responden dalam memanfaatkan PIK-R dan responden cenderung memilih sumber lain untuk mendapatkan informasi tentang pendidikan seksual. Minimnya minat memanfaatkan PIK-R juga bisa disebabkan karena masalah kesehatan reproduksi atau seksualitas dianggap tabu, membuat remaja menjadi enggan untuk mencari tahu tentang informasi tersebut.
Sebanyak 77 responden responden (53,5%) termasuk dalam kelompok berisiko. Sedangkan untuk perilaku seksual, mayoritas responden pernah berpegangan tangan yaitu sebagai sebanyak 68 responden. Responden yang memiliki perilaku seksual berisiko mendominasi hasil penelitian. Perilaku seksual responden sangat beragam mulai dari berpegangan tangan, merangkul, memeluk, mencium pipi, ciuman bibir, masturbasi hingga menyentuh bagian sensitif lawan jenis. Pada penelitian ini, berpegangan tangan merupakan aktivitas yang paling banyak dilakukan oleh responden. Banyak responden yang tidak mengetahui bahwa berpegangan tangan termasuk dalam perilaku seks. Meski berpegangan tangan tidak menimbulkan rangsangan seksual yang kuat, akan ada keinginan untuk mencoba aktivitas lain dan biasanya perilaku seksual dimulai secara bertahap dari berpegangan tangan hingga persetubuhan.
Sebanyak 92 responden (63,9%) pernah terpapar media massa tentang seks.
Sebanyak 87 responden (60,4%) terpengaruh oleh teman sebaya terkait jenis kelamin. Sebanyak 31 responden yang sering menggunakan PIK-R memiliki sikap positif. Pemanfaatan PIK-R memiliki hubungan dengan sikap seks pranikah.
Sebanyak 15 responden PIK-R kategori sering berperilaku yang berisiko praktik seksual. Pemanfaatan PIK-R memiliki hubungan dengan praktik seks pranikah
Responden yang memiliki sikap positif tentang seks sebanyak 83 responden (57,6%), yaitu cenderung menghindari seks pranikah, memahami batasan pacaran, faktor dan dampak seks pranikah, mampu bertindak sesuai dengan norma yang ada di masyarakat, dan komitmen untuk selalu menjaga kesucian sebelum pernikahan.
Pemanfaatan PIK-R, umur, jenis kelamin, dan massa media memiliki hubungan positif dengan sikap responden terhadap seks pranikah. Umur dan teman sebaya memiliki hubungan yang positif terhadap praktik seks pranikah. Pemanfaatan PIK-R mengurangi praktik seks pranikah.
Pemanfaatan layanan PIK-R dan teman sebaya mempengaruhi praktik seks pranikah, namun pengaruh teman sebaya lebih besar dalam praktik seks pranikah.
Pendidikan tentang seks pranikah yang didapatkan saat responden berkunjung ke PIK-R berperan dalam perubahan perilaku seksual remaja. Adanya pendidikan seks menjadikan proses transfer pengetahuan. Pengetahuan merupakan salah satu komponen pembentuk sikap dan domain penting dalam menentukan perilaku remaja. Peran pendidik sebaya dan konselor sebaya sangat dibutuhkan sebagai salah satu sarana informasi yang efektif untuk remaja dan memilih individu yang tepat sebagai kunci sukses dalam pengelolaan PIK-R. Ruang yang aman, nyaman, dan kondusif juga membuat remaja betah
Kemudahan untuk berkonsultasi meningkatkan antusiasme pengunjung untuk memanfaatkan layanan PIK-R. Program PIK-R di SMA X Bangkalan memiliki layanan kesehatan remaja yang menyediakan layanan informasi, konseling dan konsultasi langsung di ruang konseling atau melalui media sosial dan kegiatan dan faktual lainnya.
Sebagian besar responden terpapar media massa dan media massa yang paling banyak digunakan di Indonesia mencari informasi seks adalah internet. Kabupaten Bangkalan memiliki letak geografis yang dekat dengan besar Kota Surabaya. Keberadaan Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) memudahkan masuknya teknologi mengakses dan menjadikan Kabupaten Bangkalan sebagai pusat persebaran modernitas yang pesat. Hal ini menyebabkan akulturasi budaya tradisional Bangkalan dengan budaya modernitas. Media massa merupakan salah satu bentuk modernisasi di bidang teknologi informasi. Remaja tidak bisa dipisahkan dari media massa, mereka sering menonton televisi, film, membaca majalah, mendengarkan musik, juga radio sebagai mengakses internet. Namun jika kemudahan teknologi membuat remaja sering menyalahgunakan untuk mengakses situs porno, maka itu dapat mendorong ke arah perilaku seksual berisiko. Diharapkan ada peningkatan sosialisasi dan promosi kepada remaja untuk memaksimalkannya fungsi PIK-R sebagai upaya pencegahan seks pranikah.
Penulis: Dr. Samsriyaningsih Handayani, dr., M.Kes.





