Universitas Airlangga Official Website

ECPS Gelar Diskusi Mengenai Populisme di Indonesia

Suasana diskusi Mapping Global Populism pada Kamis (25/5/2023) secara daring (sumber foto: SS Youtube ECPS Brussels).

UNAIR NEWS – European Center for Populisme Studies (ECPS) kembali gelar Mapping Global Populism pada Kamis (25/5/2023) secara daring melalui Zoom. Mapping Global Populism kali ini bertajuk “Religious Populism and Radicalization in Indonesia” dengan Dr Ihsan Yilmaz sebagai moderator dan Dr. Inaya Rakhmani, Dr Pradana Boy Zulian, Dr Kurniawati Hastuti Dewi, serta Dr I Gede Wahyu Wicaksana sebagai pembicara. 

Kebangkitan Populisme Agama

Kebangkitan populisme Islam di Indonesia mulai muncul sekitar tahun 2016 mendekati pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017. Namun, populisme Islam sebenarnya sudah muncul sejak Reformasi 1998 ketika Presiden Soeharto lengser dari kekuasaan. Sejak reformasi, setiap orang memiliki kebebasan lebih untuk berorganisasi, seperti organisasi berhaluan Islam. 

“Populisme ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di berbagai negara. Sebagai contoh, Trump di Amerika, Erdogan di Turki, Duterte di Filipina, dan Modi yang membawa nasionalisme Hindu di India. Di Indonesia sendiri, populisme muncul sebagai sebuah respon atas ketidaksetaraan sosial yang menyebabkan adanya kelompok terpinggirkan. Hal itu pernah terjadi ketika demonstrasi besar-besaran pada 2016 yang mayoritas memiliki latar belakang terpinggirkan secara sosial,” terang Dr Inaya.

Populisme dan Literasi Religius

Dalam sesi materi, Dr Pradana menjelaskan mengenai kaitan antara populisme dengan literasi religius dan dampaknya terhadap kehidupan religius masyarakat Indonesia. Menurut Dr Pradana, internet memainkan peran penting dalam menyampaikan informasi kepada khalayak, tidak terkecuali informasi mengenai keagamaan. 

“Internet sudah menjadi sumber utama bagi publik untuk belajar dan menggali informasi seputar Islam. Netizen atau warga internet sudah menjadi istilah yang populer akhir-akhir ini. Nah, informasi yang dibagikan oleh netizen seringkali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tidak jarang, banyak netizen yang menelan mentah-mentah informasi keagamaan yang mereka dapatkan melalui internet,” tutur Dr Pradana.

Populisme dan Gender

Gender juga menjadi bahan diskusi Mapping Global Populism. Dr Kurniawati yang menyatakan bahwa 50,06% pemilih di tahun 2019 adalah perempuan. Bahkan, politik emak-emak sempat menjadi isu yang diangkat oleh kedua calon presiden pada tahun 2019 lalu. 

“Presiden Sandi membawa istilah ‘the power of emak-emak’ dengan tujuan agar kelompok ibu-ibu atau emak-emak merasa diangkat status sosialnya. Di sisi lain, Jokowi lebih memilih menggunakan istilah ‘ibu bangsa’sebagai bentuk penolakannya terhadap istilah emak-emak yang dianggap cenderung merendahkan. Hal itu menunjukkan bahwa perempuan juga membawa pengaruh terhadap pergerakan populisme,” papar Dr Kurniawati

Populisme dan Kebijakan Luar Negeri

Selalu ada keterkaitan antara kebijakan luar negeri dengan ideologi di Indonesia. Dr Wahyu menekankan bahwa kita harus waspada terhadap para tokoh yang membawa identitas populisme. Setiap tokoh populis yang nantinya terpilih untuk memimpin Indonesia, maka ia juga memiliki pengaruh dalam menggerakkan kebijakan luar negeri Indonesia. 

“Pasti ada dampak dari populisme terhadap kebijakan luar negeri suatu negara. Dalam beberapa fenomena politik, seperti persaingan China dengan Amerika di Laut China Selatan, Indonesia harus berhati-hati dalam mengambil langkah agar tidak merugikan kepentingan nasional Indonesia,” pungkas Dr Wahyu.

Penulis: Adil Salvino Muslim

Editor: Nuri Hermawan

Baca Juga: UNAIR Semarakkan Parade Surabaya Vaganza Sambut Hari Jadi Ke-730 Kota Surabaya