UNAIR NEWS – Managing Director of Research Innovation CESGS Universitas Airlangga, Fajar Kristanto Gautama Putra memaparkan potensi besar pengembangan Battery Energy Storage System (BESS) di Indonesia dalam sesi bertajuk ESG Baterai & Potensi Pasar BESS Indonesia (Peluang Ekonomi yang Besar, Tanggung Jawab ESG yang Tak Kalah Besar). Sesi tersebut merupakan bagian dari Seminar Publik CSIS-CESGS Universitas Airlangga bertema “Membangun Dekarbonisasi pada Rantai Pasok Industri Baterai dan EV demi Menjaga Daya Saing dan Komitmen Lingkungan Indonesia” yang berlangsung pada Selasa (03/06/2026) di Ruang Tarumanegara, Lantai 10 ASEEC Tower, Kampus B Universitas Airlangga.
Potensi Ekonomi BESS yang Terus Bertumbuh
Dalam paparannya, Fajar menjelaskan bahwa penggunaan baterai di Indonesia tidak hanya terbatas pada kendaraan listrik electric vehicle atau EV. Baterai juga memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Menurutnya, kebutuhan sistem penyimpanan energi akan terus meningkat seiring dengan percepatan transisi energi nasional.
Ia mengungkapkan bahwa dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah telah memproyeksikan kebutuhan kapasitas penyimpanan energi yang cukup besar. Dari proyeksi tersebut, kebutuhan baterai diperkirakan mencapai 2,46 hingga 6,01 gigawatt (GW) hingga tahun 2034.
“Peluang ekonominya sangat besar, tetapi tanggung jawab ESG nya juga sangat besar,” ujarnya.
Fajar menjelaskan bahwa tren harga baterai global yang terus menurun menjadi salah satu faktor yang mendorong perkembangan BESS. Penurunan biaya produksi membuat teknologi penyimpanan energi semakin terjangkau dan memiliki potensi daya guna lebih luas. Hal tersebut baik oleh sektor industri maupun rumah tangga.
Berdasarkan perhitungan yang ia paparkan, kebutuhan baterai untuk mendukung target penyimpanan energi nasional dapat menghasilkan nilai pasar hingga miliaran dolar Amerika Serikat. Bahkan, angka tersebut belum mencakup kebutuhan dari sektor rumah tangga, kendaraan listrik, maupun sektor industri lainnya yang menurut prediksi akan terus meningkat pada masa mendatang.
Industri Baterai Hadapi Risiko ESG yang Tinggi
Di balik peluang ekonomi yang menjanjikan, Fajar mengingatkan bahwa industri baterai juga menghadapi tantangan besar. Tantangan tersebut dalam aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola Environmental, Social, and Governance atau ESG. Berdasarkan data lembaga pemeringkat ESG global Sustainalytics, sektor pertambangan nikel yang menjadi salah satu pemasok utama bahan baku baterai masih memiliki tingkat risiko ESG yang tinggi.
Menurutnya, isu emisi, pengelolaan limbah, hubungan dengan masyarakat sekitar, penggunaan sumber daya, hingga keselamatan kerja menjadi beberapa tantangan utama yang perlu mendapat perhatian serius dari pelaku industri.
“Operasional EV memang bersih, tetapi produksi baterainya memiliki tantangan keberlanjutan yang besar,” jelasnya.
Fajar juga menyoroti semakin kuatnya tekanan global terhadap penerapan standar ESG dalam rantai pasok industri baterai. Berbagai regulasi internasional, termasuk kebijakan battery passport di Uni Eropa, menuntut transparansi proses produksi dan sumber bahan baku yang masyarakat gunakan dalam setiap produk baterai.
Menurutnya, Indonesia perlu segera memperkuat kerangka ESG yang lebih spesifik untuk industri baterai. Hal tersebut agar mampu menjawab tuntutan pasar internasional sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.
“ESG bukan lagi sekadar pilihan moral atau kepatuhan. Namun, menjadi faktor penting yang menentukan akses terhadap investasi, pembiayaan, dan pasar global,” tegasnya.
Sebagai penutup, Fajar menekankan bahwa pengembangan industri baterai nasional harus berjalan beriringan dengan penerapan prinsip keberlanjutan. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi dari berkembangnya industri baterai. Indonesia juga mampu membangun rantai pasok yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto





