Center for Environmental, Social, and Governance Studies (CESGS) Universitas Airlangga bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyelenggarakan Seminar Publik bertajuk “Membangun Dekarbonisasi pada Rantai Pasok Industri Baterai dan EV demi Menjaga Daya Saing dan Komitmen Lingkungan Indonesia” pada Selasa (03/06/2026) di Ruang Tarumanegara, Lantai 10, ASEEC Tower Kampus B Universitas Airlangga. Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Road to Asia-Pacific Sustainable Business & Innovation Forum (ASBIF) 2026 tersebut menghadirkan Ardi Krisnamurti, Wakil Ketua Komite Tetap Energi Baru Terbarukan ESDM KADIN Provinsi Jawa Timur, serta Anjarwati, S.Si., M.Env., Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Madya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur.
Dalam kesempatan tersebut, kedua narasumber membahas berbagai peluang dan tantangan pengembangan industri kendaraan listrik (EV) nasional. Mereka menekankan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama dalam industri EV global. Namun, tetap perlu memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan dan penguatan rantai pasok industri dalam negeri.
Potensi Besar Industri EV dan Penguatan Hilirisasi
Ardi Krisnamurti menjelaskan bahwa cadangan nikel yang melimpah menjadi salah satu keunggulan utama Indonesia dalam pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik. Menurutnya, potensi tersebut harus bermanfaat melalui pembangunan rantai industri yang terintegrasi. Mulai dari sektor hulu hingga hilir agar mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Ia menilai bahwa hilirisasi sumber daya alam dapat menjadi motor penggerak industrialisasi Indonesia di masa depan. Namun, pengembangan industri tersebut perlu didukung oleh perencanaan yang matang agar tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah semata.
“Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar, tetapi pemerintah perlu menyiapkan rantai industri secara detail dari hulu sampai hilir agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara optimal,” ungkap Ardi.
Selain itu, Ardi menyoroti pesatnya perkembangan teknologi baterai global yang menuntut Indonesia untuk terus beradaptasi. Menurutnya, persaingan tidak hanya terjadi pada penguasaan sumber daya alam, tetapi juga pada pengembangan teknologi dan inovasi industri yang berkelanjutan.
Menjaga Keberlanjutan Lingkungan dalam Industri EV
Sementara itu, Anjarwati menegaskan bahwa pengembangan industri kendaraan listrik harus beriringan dengan komitmen lingkungan yang kuat. Menurutnya, seluruh rantai pasok industri baterai dan EV, mulai dari pertambangan hingga proses daur ulang, memiliki potensi dampak lingkungan yang terkelola secara serius.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia telah memiliki komitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam aspek pendanaan dan pelaksanaan program lingkungan di lapangan.
“Jangan hanya fokus pada aksi mitigasi atau penurunan karbon saja. Tetapi juga memperhatikan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim,” jelas Anjarwati.
Lebih lanjut, Anjarwati mengingatkan bahwa mengukur keberhasilan transisi menuju kendaraan listrik tidak hanya dari penurunan emisi karbon. Indikator lain adalah dari kemampuan industri untuk memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, penerapan prinsip ESG dan tindak lanjut yang konkret menjadi faktor penting dalam mendukung keberlanjutan industri EV nasional.
Melalui seminar publik tersebut, CESGS Universitas Airlangga dan CSIS berharap dapat memperkuat pemahaman berbagai pemangku kepentingan mengenai peluang dan tantangan industri kendaraan listrik nasional. Selain itu, kegiatan tersebut akan mampu mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri dalam membangun ekosistem EV yang kompetitif, berkelanjutan, dan mampu mendukung transisi energi Indonesia di masa mendatang.
Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto





